Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al-Baqarah Ayat 57

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Arab-Latin: Wa ẓallalnā 'alaikumul-gamāma wa anzalnā 'alaikumul-manna was-salwā, kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum, wa mā ẓalamụnā wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

Terjemah Arti: Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Dan ingatlah oleh kalian nikmat Kami kepada kalian ketika kalian tersesat jalan di muka bumi, yaitu ketika Kami menjadikan awan menaungi kalian dari panasnya terik matahari dan kami turunkan kepada kalian “manna” yaitu sesuatu yang bentuknya mirip dengan getah yang rasanya menyerupai madu,  dan kami turunkan kepada kalian “Salwa” yaitu burung yang serupa dengan puyuh. Dan kami katakan pada kalian : “Makanlah dari makanan yang baik yang telah kami rizkikan kepada kalian, dan janganlah kalian melanggar ajaran agama kalian.” Namun kalian tidak menjalankannya. Mereka tidaklah mendzolimi Kami dengan pengingkaran nikmat yang mereka lakukan. Akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, karena akibat buruk kezoliman  Itu kembali kepada mereka.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

57. وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ
Yakni awan yang dijadikan oleh Allah sebagai naungan yang melindungi mereka dari panasnya matahari saat mereka berjalan diantara negeri Mesir dan Syam ketika mereka enggan untuk memasuki kota yang didalamnya terdapat orang-orang yang perkasa.

الْمَنَّ
Yakni hujan dari langit yang turun ke pohon dan batu yang kemudian menjadi buliran manis seperti madu, lalu kering seperti lilin. Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa al-Kam’ah (sejenis jamur bawah tanah) temasuk dari al-mann yang diturunkan Allah kepada Musa.

وَالسَّلْوَىٰ
Ada yang berpendapat bahwa as-Salwa adalah burung puyuh, yang disembelih untuk dimakan. Dan pendapat lain mengatakan bahwa ia adalah madu.

وَمَا ظَلَمُونَا
Allah berfirman: “kami lebih mulia untuk berbuat zalim.”

Zubdatut Tafsir / Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Di tengah gurun pasir antara Mesir dan Syam, kami menjadikan awan sebagai naungan bagi kalian yang menaungi kalian dari panasnya matahari. Ketika mereka berhenti memasuki kota kaum Jabarin, kami menurunkan kepada kalian Al-Manna yaitu sesuatu yang manis seperti madu yang terbentuk bersamaan dengan embun di atas pohon, dan As-Salwa yaitu burung puyuh, mereka menyembelihnya dan memakannya. Nikmatilah kelezatan makanan di gurun yang tidak ada satu pun kehidupan di dalamnya. Mereka tidak menzalimi kami dengan menentang perintah kami dan kufur atas nikmat kami namun mereka menzalimi diri mereka sendiri dengan mendekatkannya kepada siksa

Tafsir Al-Wajiz / Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Makna kata :
ٱلۡغَمَامَ Al-Ghomaam : Awan tipis yang berwrna putih.
ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ Al-Manna was salwa : Manna adalah benda lengket seperti permen dan rasanya semanis madu, Salwa adalah sejenis burung yang disebut dengan As-Sumaniy.
طَيِّبَٰتِ Ath-Thoyyibat : artinya adalah yang halal.

Makna ayat :
Lantas Allah menyebutkan nikmat yang lain berupa kemuliaan dan nikmat untuk mereka dengan naungan awan di atasnya, juga Allah menurunkan Manna dan Salwa pada saat kejadian Tiih di gurun Sina dalam firmanNya,”Kami tidak mendzalimi mereka” petunjuk bahwa ujian Tiih adalah hukuman untuk mereka karena meninggalkan jihad serta kesembronoan ketika mengucapkan kepada Musa,”Pergilah engkau dan Tuhanmu berperang, kami duduk-duduk di sini saja.” Allah tidak mendzalimi mereka saat kejadian Tiih akan tetapi itu karena mereka mendzalimi dirinya sendiri.

Pelajaran dari ayat :
• Makanan dan minuman disebut halal jika dihalalkan oleh Allah sedangkan disebut haram ketika diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Aisarut Tafasir / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, pengajar di Masjid Nabawi

Di antara sekian banyak nikmat Allah kepada mereka ialah mereka dinaungi awan di waktu berjalan di bawah panas terik matahari dan padang pasir yang luas, bahkan memperoleh rezeki berupa mann dan salwa. Manna ialah makanan manis dan lengket seperti madu. Salwa ialah burung sebangsa puyuh. Ada juga yang mengartikan bahwa "Mann" adalah setiap rezeki yang baik yang diperoleh tanpa susah payah. Namun sayang, nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada mereka bukan mereka syukuri, bahkan malah mereka kufuri, mereka banyak melakukan dosa sehingga hati mereka mengeras seperti batu.

Ketika mereka melanggar ajaran agama dan mengkufuri nikmat, sebenarnya mereka tidak menzalimi Allah, bahkan mereka menzalimi diri mereka sendiri, karena kezaliman yang mereka lakukan kembalinya kepada mereka juga.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Generasi tersisa bani israil yang dibangkitkan itu diriwayatkan terse-sat selama 40 tahun di padang pasir dataran sinai yang sangat panas. Mereka tersesat karena enggan memerangi orang-orang yang durhaka di syam. Dan kami menaungi kamu dengan awan, sehingga kamu ti-dak merasa kepanasan lagi di tengah padang pasir yang terik itu, dan kami menurunkan kepadamu mann, makanan sejenis madu, dan salwa', burung kecil sejenis puyuh yang dapat dibakar untuk dimakan. Ma-kanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah kami berikan kepadamu sehingga kamu tidak perlu lagi bersusah-payah mencari bahan makanan di padang pasir itu. Kedurhakaan yang dilakukan oleh bani israil itu sedikit pun tidak mencederai Allah. Mereka tidak menzalimi kami, dan bahkan sedikit pun tidak menodai keagungan Allah. Ditaati atau tidak ditaati, didurhakai atau tidak didurhakai, Allah tetap Allah dengan kemahaagungan-Nya. Oleh sebab itu, bukan Allah yang teraniaya, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri karena merekalah yang akan menanggung akibat kedurhakaan mereka itu. Ayat-ayat sebelumnya menjelaskan beragam anugerah yang terlimpah kepada bani israil, sedang ayat ini menerangkan nikmat-nikmat yang lain. Dan selain anugerah yang telah dilimpahkan, ingatlah juga ketika kami berfirman kepada bani israil, masuklah ke negeri ini, yaitu baitulmaqdis setelah dapat mengalahkan lawan-lawanmu. Sesudah itu maka makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesukamu. Dan selanjutnya masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk sebagai tanda kerendahan hati dan penyesalan atas semua dosa yang telah diperbuat masa lalu, dan kemudian katakanlah dengan penuh harap, 'bebaskanlah kami dari dosa-dosa kami yang demikian banyak. ' bila hal ini kamu lakukan dengan penuh kesadaran, niscaya kami ampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahanmu. Dan selain dari yang telah dianugerahkan, kami juga akan menambah karunia dan nikmat, baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak, bagi orang-orang yang benar-benar selalu berbuat kebaikan.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Al-Baqarah Ayat 58 Arab-Latin, Surat Al-Baqarah Ayat 59 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Al-Baqarah Ayat 60, Terjemahan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 61, Isi Kandungan Surat Al-Baqarah Ayat 62, Makna Surat Al-Baqarah Ayat 63

Category: Surat Al-Baqarah

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Ayat Waminannasi Man Yu, Ji Buka Filqaoli Albakoroh Ayat 57 Dan Artinya Arti Surat Al Baqoroh Ayat 57 Al Baqarah Ayat 57