Surat Ad-Dhuha Ayat 9

ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ูฑู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ู’ู‡ูŽุฑู’

Arab-Latin: Fa ammal-yatฤซma fa lฤ taq-har

Artinya: Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

ยซ Ad-Dhuha 8 โœต Ad-Dhuha 10 ยป

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Tafsir Penting Terkait Surat Ad-Dhuha Ayat 9

Paragraf di atas merupakan Surat Ad-Dhuha Ayat 9 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada pelbagai tafsir penting dari ayat ini. Didapati pelbagai penafsiran dari beragam ulama tafsir terkait kandungan surat Ad-Dhuha ayat 9, antara lain seperti berikut:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

9-11. Jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk. Jangan menghardik orang yang meminta-minta, sebaliknya berilah dia makan, dan penuhilah hajatnya. Untuk nikmat tuhanmu yang telah Dia limpahkan kepadamu,maka bicarakanlah hal itu.


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

9. Kemudian Allah memberi petunjuk kepada Rasulullah dan umatnya dalam berinteraksi dengan anak yatim, janganlah kamu memperlakukannya dengan kasar dan merendahkan.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

9. Maka janganlah engkau berbuat buruk terhadap anak yang ditinggal mati ayahnya ketika kecil dan janganlah engkau rendahkan dia.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

9. ููŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ู’ู‡ูŽุฑู’ (Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang)
Yakni janganlah kamu berlaku zalim karena kelemahannya, namun berikanlah haknya dan ingatlah keadaanmu ketika kamu yatim.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

9-10. Sejak Allah memberikan kepadamu (Muhammad) kenikmatan-kenikmatan ini, Dia memberimu wasiat-wasiat berikut: โ€œAdapun kepada anak yatim maka jangan merendahkan dan melemahkannya dengan mengambil hartanya atau merugikannya dan hal-hal lain yang serupa, namun berilah dia haknya sebagai pengingat keyatimanmu. Adapun kepada orang yang meminta harta benda atau keilmuan, maka berilah dia atau ajarilah dia dan janganlah mencacinya karena kefakirannya, sesungguhnya dulu nengkau juga dalam keadaan fakir, maka berilah dia makan dan sambutlah dia dengan sambutan yang indahโ€.


📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimurajaโ€™ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-โ€˜Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Terhadap anak yatim, janganlah berlaku sewenang-wenang} janganlah merendahkan dan mengambil hartanya


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

9-11. Karena itu Allah berfirman, โ€œAdapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang,โ€ yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi muliakanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu.
โ€œDan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya,โ€ yakni jangan sampai kau mengeluarkan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini adalah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, memperlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara.
โ€œDan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur),โ€ ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 1-11
Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Qais, dia berkata,โ€Aku mendengar Jundub berkata bahwa Nabi SAW mengalami sakit selama satu atau dua malam sehingga beliau tidak melakukan qiyamul lail. Maka datanglah kepadanya seorang wanita dan berkata,"Wahai Muhammad, menurutku setanmu itu tidak lain telah meninggalkanmu" Maka Allah SWT menurunkan firmanNya: (Demi waktu matahari sepenggalah naik (1) dan demi malam apabila telah sunyi (2) Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tiada (pula) benci kepadamu (3))
Ini merupakan sumpah dari Allah SWT dengan menyebut waktu dhuha dan cahaya yang Dia ciptakan padanya (dan demi malam apabila telah sunyi (2)) yaitu jika tenang dan gelap gulita. Pendapat ini dikatakan Mujahid, Ibnu Zaid, dan lainnya. Hal ini menunjukkan bukti yang jelas dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1) dan siang apabila terang benderang (2)) (Surah Al-Lail) dan Allah SWT berfirman: (Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (96)) (Surah Al-An'am)
Firman Allah SWT: (Tuhanmu tiada meninggalkan kamu) yaitu, Dia tidak meninggalkanmu (dan tiada (pula) benci kepadamu) yaitu Dia tidak murka kepadamu.
(dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan (4)) yaitu, Sungguh akhirat itu lebih baik bagimu daripada negeri ini. Oleh karena itu, Rasulullah SAW adalah orang yang paling zuhud terhadap dunia dan paling menjauhinya serta paling tidak menyukainya, sebagaimana yang telah diketahui dari perjalanan hidup beliau SAW ketika Nabi SAW disuruh memilih di akhir usia beliau antara hidup kekal di dunia sampai akhir usia dunia kemudian ke surga dan antara kembali ke sisi Allah SWT. Maka beliau SAW memilih apa yang ada di sisi Allah daripada dunia yang rendah ini.
Firman Allah SWT: (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (5)) yaitu kelak di akhirat Allah memberinya hingga dia merasa puas tentang umatnya dan juga kemuliaan yang telah disediakan oleh Allah untuk dirinya berupa telaga Kautsar yang kedua tepinya berupa kubah-kubah dari mutiara yang berongga, sedangkan tanahnya bibit minyak kasturi.
Diriwayatkan dari Ali bin Abdullah bin Abbas, dari ayahnya, dia berkata bahwa ditampakkan kepada Rasulullah SAW apa yang bakal dibukakan untuk umatnya setelah tidak ada perbendaharaan demi perbendaharaan. Lalu Allah SWT menurunkan firmanNya: (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (5)) Allah SWT memberikan kepada beliau SAW di dalam surga satu juta gedung, dalam setiap gedung terdapat istri-istri dan para pelayan.
Kemudian Allah SWT menyebutkan bilangan nikmat-nikmat yang telah Dia karuniakan kepada hamba dan RasulNya, nabi Muhammad SAW: (Bukanlah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu (6)) Demikian itu karena ayah beliau wafat sejak beliau masih berada dalam kandungan ibunya.
Firman Allah SWT: (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (7)) sebagaimana firmanNya: (Dan demikianlah Kami wahyukan kepada wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qurโ€™an itu cahaya, yang Kami tunjukkan dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami) (Surah Asy-Syura: 52).
Firman Allah SWT: (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (8)) yaitu sebelumnya kamu hidup dalam keadaan fakir dan memiliki banyak anak, lalu Allah memberimu kecukupan dari selainNya. Jadi Allah menghimpunkan bagi beliau antara kedudukan orang fakir yang sabar dan orang kaya yang bersyukur.
Qatadah berkata tentang firmanNya: (Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu (6) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (8)) dia berkata demikianlah kedudukan Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi rasul oleh Allah SWT.
Kemudian Allah SWT berfirman: (Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang (9)) yaitu sebagaimana kamu dahulu seorang yang yatim, lalu Allah melindungimu, maka janganlah berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. yaitu janganlah menghina, membentak, dan merendahkannya, tetapi berbuat baiklah dia, dan kasihanilah dia.
Qatadah berkata yaitu jadilah terhadap anak yatim itu sebagai seorang ayah yang penyayang.
(Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya (10)) yaitu sebagaimana kamu dahulu dalam keadaan kebingungan, lalu Allah memberimu petunjuk, maka janganlah menghardik orang yang meminta ilmu yang benar.
Mujahid berkata bahwa yang dimaksud adalah kenabian yang diberikan Tuhanmu kepadamu
(Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (11)) yaitu sebagaimana kamu dahulu orang memiliki banyak keluarga dan miskin, lalu Allah menjadikanmu berkecukupan, maka ceritakanlah nikmat Allah yang diberikan kepadamu. Ibnu Jarir berkata,โ€Diriwayatkan dari Abu Nadhrah, dia berkata bahwa dahulu orang-orang muslim memandang bahwa termasuk mensyukuri nikmat-mkmat Allah adalah dengan menceritakannya.


📚 Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

Kemudian Allah ๏ทป mengingatkan kepada Nabi-Nya agar tidak lupa dengan nikmat itu, dan tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, dan kepada orang-orang yang meminta.

{ ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ู’ู‡ูŽุฑู’ } Kamu wahai Muhammad yang dulunya adalah anak yatim, kemudian Allah ๏ทป mendatangkan begitu banyak kebaikan dan kecukupan harta, maka berbuatlah hal yang serupa kepada anak-anak yatim selainmu, oleh karena itu wajib bagi siapapun untuk memulikan anak yatim, dan berinfak kepadanya. Dan pengertian yatim untuk anak Adam adalah : anak yang meninggal bapaknya dan belum mencapai usia baligh, dan ketika anak itu mencapai usia baligh maka status yatim itu terkepas darinya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah : (( ู„ุง ูŠูุชู’ู…ูŽ ุจุนุฏ ุงุญุชู„ุงู… )) " Tidak disebut yatim setelah baligh " [ Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Abu Dawud : 2873 ] .

{ ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ู’ู‡ูŽุฑู’ } janganlah kamu berbuat buruk dan mrendahkan anak yatim, akan tetapi muliakanlah dia dan lemah lembutlah kepadanya, dan ingatlah bagaimana keadaan kamu sebelumnya, ketika kamu berstatus sebagai anak yatim kemudian Alllah ๏ทป menolongmu dengan hadirnya kerabat yang baik dan lembut dalam mengasuhmu sampai akhirnya kamu menjadi orang yang paling mulia di muka bumi atas izin Allah ๏ทป .

Salah satu cara untuk berbuat baik kepda anak yatim adalah dengan menjaga hartanya jika ada harta yang ia miliki, kemudian harta itu diserahkan kembali kepadanya ketika umurnya mencapi usia baligh dan dapat membedakan yang baik dan yang buruk.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Allah 'Azza Wa Jalla berfirman: ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ู’ู‡ูŽุฑู’ " Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang." Ayat ini timbal balik dari ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฌูุฏู’ูƒูŽ ูŠูŽุชููŠู…ู‹ุง ููŽุขูˆูŽู‰ " Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu." Jika Allah telah melindungimu saat kamu yatim maka janganlah engkau menindas anak yatim, kecuali menngaturnya untuk kebaikan bagi dia, ini bukanlah menindas sebenarnya walau pun nampakknya seperti menindas, tetapi tujuannya untuk kebaikan bagi anak yatim, maka janganlah menindas anak yatim, tapi muliakanlah anak yatim.

Berbuat baik dan memuliakan kepada anak yatim, adalah di antara perintah-perintah dan kebaikan-kebaikan syari'at, karena anak yatim yang ditinggal wafat oleh bapaknya, perasaannya terpecah, memebutuhkan penyemangat, membutuhkan orang yang menghiburnya, membutuhkan orang yang memasukkan kebahagiaan kepadanya, terlebih jika dia sudah mencapai usia yang bisa berfikir, seperti usia tujuh dan sepuluh tahun, dan yang sebaya dengannya.


📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat Ad-Dhuha ayat 9: Setelah Allah menyebutkan sebagian nikmat ini kepada Nabi ๏ทบ, Allah memerintahkan untuk tidak sewenang-wenang dan merendahkannya.


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Yakni jangan bergaul secara buruk terhadapnya, janganlah dadamu merasa sempit terhadapnya dan janganlah membentaknya, bahkan muliakanlah, berikanlah kemudahan untuknya, dan berbuatlah terhadapnya sesuatu yang engkau suka jika anakmu diperlakukan seperti itu.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Ad-Dhuha Ayat 9

Dengan karunia Allah yang demikian agung itu, maka berbuat baiklah terhadap anak yatim dan janganlah engkau berlaku sewenang-wenang kepadanya, seperti mengambil hartanya, menghardiknya, dan menyakiti hatinya. 10. Dan berbuat baiklah terhadap orang yang meminta-minta, baik meminta ilmu pengetahuan atau harta, dan janganlah engkau menghardiknya. Berilah mereka apa yang engkau mampu atau tolaklah dengan halus dan ramah.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Demikianlah aneka ragam penjabaran dari beragam ulama berkaitan isi dan arti surat Ad-Dhuha ayat 9 (arab-latin dan artinya), semoga memberi kebaikan bagi kita bersama. Dukung kemajuan kami dengan memberi link menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Link Paling Banyak Dikunjungi

Ada banyak topik yang paling banyak dikunjungi, seperti surat/ayat: Al-Ma’idah 3, Al-Lahab, An-Nashr, Al-Kahfi 1-10, Al-‘Ashr, Quraisy. Serta Bismillah, Yusuf, Az-Zumar 53, An-Naziat, Al-Qari’ah, An-Nisa 59.

  1. Al-Ma’idah 3
  2. Al-Lahab
  3. An-Nashr
  4. Al-Kahfi 1-10
  5. Al-‘Ashr
  6. Quraisy
  7. Bismillah
  8. Yusuf
  9. Az-Zumar 53
  10. An-Naziat
  11. Al-Qari’ah
  12. An-Nisa 59

Pencarian: surah ali imran ayat 103, al an'am 151, quran surat al-maidah ayat 3, al mujadalah latin, al-furqan ayat 67

Surat dan Ayat Rezeki

GRATIS Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah". Caranya, copy-paste text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga (3) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qurโ€™an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
ย 
๐Ÿ‘‰ tafsirweb.com/start
ย 
โœ… Bagikan informasi ini untuk mendapat pahala jariyah

Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol di bawah: