Surat Al-Fajr Ayat 9

وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah,

Tafsir Al-Mukhtashar

9. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah memperlakukan Tsamud kaum Nabi Soleh, yaitu orang-orang yang mampu melubangi gunung-gunung untuk di jadikan rumah dari batu.

Tafsir Al-Muyassar

Juga bagaimana Allah berbuat terhadap Tsamud, kaum nabi Shaleh yang memotong batu-batu besar di lembah dan membangunan rumah rumah darinya?

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Dan kaum yang kedua adalah : Kaum Tsamud, nama ini dinisbatkan kepada kakek mereka bernama Tsamud, penduduk kaum Tsamud dulunya bermukim di wilayah "Hijr" sebelah utara Jazirah Arab, atau sebelah utara wilayah Hijaz, pemukiman mereka terletak di kaki dataran tinggi, yang juga dikenal dengan nama "Madain Shalih" , kota ini dulunya adalah daerah yang subur, pohon kurma, kebun-kebun sayur memenuhi wilayah perkampungan mereka, mereka juga orang-orang yang kuat, kaum Tsamud terkenal dengan kehebatan mereka dalam memotong dan memahat gunung-gunung batu, mereka menjadikan gunung-gunung itu sebagai tempat tinggal, dan peninggalan mereka msih tersisa sampai saat ini, Allah - عز ول - berfirman tentang mereka : { فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ } ( Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. ) [ An-Naml : 52 ] , di ayat lain Allah berfirman : { وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا ۖ فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ } ( Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah Pewaris(nya) ) [ Al-Qashash : 58 ] , Allah membiarkan bangunan-bangunan itu tetap kokoh hingga saat ini agar menjadi pelajar bagi kaum-kaum setelah mereka, dan menyaksikan sisa-sisa bangunan itu bukan untuk kebangaan seperti yang dikatakan oleh orang-orang bodoh, bahwa inilah peradaban, inilah kemajuan, mereka melihat bangunan-bangunan tua itu sebagai pengagungan terhadapnya, padahal itu adalah kesalahan, bukankah bangunan-bangunan kuat itu tidak memberi manfaat bagi mereka, bahkan dengannya mereka membanggakan diri dan berlaku sombong dihadapan Allah ﷻ , dan mereka adalah kaum penyembah berhala, tatkala Allah ﷻ mengutus kepada mereka Nabi Shalih - عليه السلا - risalahnya, kaum Tsamud itu mendustakan apa yang dibawakan oleh Nabi Shalih, bahkan sampai pada tingkat pembangkangan mereka yang paling tinggi, yaitu dengan mengancam Nabi Shalih - عليه السلام - akan dibunuh, mereka kemudian meminta kepada Nabi Shalih untuk mendatangkan kepada mereka satu bukti atau mukjizat yang membuktikan bahwa beliau adalah seorang Rasul utusan Allah ﷻ , maka Nabi Shalih - عليه السلام - aysa izin Allah beliau mendatangkan sekor unta betina, sebagaimana yang diabdaikan dalam Al-Qur'an : { وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا } ( Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu ) [ Al-Isra' : 59 ] , Nabi Shalih mendatangkan seokor unta betina yang jenisnya berbeda dengan jenis-jenis unta lainnya yang ada pada saat itu .

Namun apa yang dihadirkan oleh Nabi Shalih belum mereka nggap sebagai mukizat, Allah datangkan dihadapan mereka suatu bukti tetapi mereka tidak mau mengimaninya, karena maksud dan tujuan mereka menanyakan hal itu bukan kebaikan, mereka hanya ingin menantang Nabi Shalih dengan keyakinan yang ada dalam diri mereka bahwa Nabi Shalih tidak akan mampu berbuat demikian, tetapi atas izin Allah Nabi Shalih mampu membuktikan, Akan tetapi mereka tetap pada kekafiran yang akan membinasakan mereka, dan pada suatu ketika mereka berniat jahat kepada unta itu, maka Nabi Shalih pun melarang dan menentang kejahatan itu, namun mereka tetap saja bersikeras untuk melakukan kejahatn itu, Allah berfirman tentang peristiwa pembangkangan mereka : { قَالَ هَٰذِهِ نَاقَةٌ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ , وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيمٍ , فَعَقَرُوهَا فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ , فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ } ( Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu , Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar” , Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi menyesal , Maka mereka ditimpa azab ) [ Asy Syuara' : 155 - 158 ] , mereka membangkang, maka azab lah ditimpakan kepada kaum itu.

Semua pwristiwa di atas menjadi peringatan bagi ummat Nabi Muhammad, dan jika ummat Muhammad juga berlaku seperti yang kaum-kaum sebelumnya lakukan, maka Allah juga akan berbuat seperti yang Dia perbuat kepada kaum-kaum itu.

Tafsir Hidayatul Insan

Lembah ini terletak di bagian utara Jazirah Arab antara kota Madinah dan Syam. Mereka memotong-motong batu gunung untuk membangun gedung-gedung tempat tinggal mereka dan ada pula yang melubangi gunung-gunung untuk tempat tinggal mereka dan tempat berlindung.

Tafsir Kemenag

Dan tidakkah kamu perhatikan pula azab yang telah Allah timpakan atas kaum 'amud yang memotong dan memahat batu-batu besar di lembah untuk dijadikan kediaman mereka'10. Dan tidakkah kamu juga memperhatikan azab Allah kepada fir'aun yang mempunyai pasak-pasak' Allah mengazabnya meski ia mampu membangun piramida-piramida yang besar dan mempunyai bala tentara yang banyak.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018