Surat Al-Muthaffifin Ayat 26

Text Bahasa Arab dan Latin

خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.

Tafsir Al-Muyassar

Yang akhirnya adalah aroma kasturi. Hendaknya orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi ini.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

{ خِتَامُهُ مِسْكٌ } Penutup minuman itu memiliki aroma yang sangat bagus seperti minyak kesturi, atau dalam makna riwayat lain : akhir dari minuman itu memiliki aroma seperti kesturi, khamar yang manis dan baunya yang harum.

{ وَفِي ذَٰلِكَ } dengan nikmat itu , dan minuman yang istimewa itu { فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ } maka hendaklah setiap hamba berlomba-loba untuk meraih nikmat yang agung itu dengan memperbanyak amalan shalih, dan orang yang menang adalah mereka yang mampu meraih semua kenikmatan yang disiapkan bagi orang beriman di akhirat, bukan mereka yang mensia-siakan dunia dan akhiratnya dengan kemaksiatan.

Seperti itulah yang seharusnya menjadi tujuan utama setiap manusia dalam menjalani hidupnya didunia, mereka berlomba-lomba dalam meraih segala kebaikan yang balasannya jauh lebih banyak dan lebih mulia, maka menjauh dari fitnah dunia yang hina ini adalah suatu kemualiaan yang besar, tapi pada hakikatnya mengambil kemewahan dunia boleh saja dengan mengukur sesuai kebutuhannya saja tanpa berlebihan, dan dengan harta itu ia jadikan sebagai wasilah untuk meningkatkan ketaqwaanya kepada Allah, dan tidak menjadikan kemewahan dunia sebagi tujuan hidupnya.

{ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ } mereka adalah orang berlomba dalam mengumpulkan segala kebaikan didunia, mereka berlomba dalam menginfakkan hartanya, berlomba dalam memperbanyak ibadah, berlomba-loba dalam melaksanakan sunnah-sunnah Nabi ﷺ , seperti : shalat tahajjud, sedekah, dan shalat-shalat sunnah lainnya yang Rasulullah ﷺ pernah contohkan semasa hidupnya, dan seorang mukmin seharusnya tidak rela jika orang lain mendahuluinya dalam kebaikan

Tafsir Hidayatul Insan

Yakni kenikmatan yang kekal itu, yang tidak diketahui indah dan besarnya kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Dengan bersegera mengerjakan amal yang dapat memasukkan ke dalamnya. Kenikmatan inilah yang seharusnya disiapkan segala yang berharga untuknya dan dikejar oleh orang-orang yang berakal.

Tafsir Kemenag

Khamar itu dilak dengan rapat, di mana laknya berasal dari kasturi yang beraroma harum dan menyegarkan. Bagusnya lak menunjukkan khamr itu sangat baik dan berkualitas. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut, yakni dengan banyak beribadah dan beramal saleh. 27. Dan tidak hanya dilak dengan kasturi, campurannya dari tasnim.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018