Surat Al-Muthaffifin Ayat 1

Text Bahasa Arab dan Latin

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang

Tafsir Al-Muyassar

Azab besar bagi orang orang yang curang dalam takaran dan timbangannya,

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Kata { وَيل } bisa bermakna : kata yang bermakna celaka atau buruk, juga bisa bermakna : suatu lembah yang ada didalam neraka jahannam, Allah berfirman : { وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ } ( Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. ) [ Al-Mursalat : 15 ]

Celakalah pada hari kiamat mereka yang { لِلْمُطَفِّفِينَ } yang curang dalam timbangannya ketika didunia, dan kata { الْمُطَفِّفِينَ } berasal dari kata ( التطفيف ) yang berarti : mengurangi.

Tafsir Hidayatul Insan

Ibnu Majah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Bisyr bin Al Hakam dan Muhammad bin ‘Uqail bin Khuwailid, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Husain bin Waqid, (ia berkata): telah menceritakan kepadaku bapakku Yazid An Nahwiy, bahwa ‘Ikrimah menceritakan kepadanya dari Ibnu Abbas ia berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) adalah manusia yang paling buruk dalam menakar, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan firman-Nya, “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang).” Maka setelah itu, mereka memperbaiki takarannya. (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Nasa’i sebagaimana dikatakan Al Haafizh Ibnu Katsir juz 4 hal. 483 dari jalan Muhammad bin ‘Uqail. Para perawinya adalah tsiqah kecuali Ali bin Al Husain bin Waqid, maka padanya terdapat pembicaraan. Ibnu Hibban juga meriwayatkan di halaman 438 di Mawaariduzh Zham’aan, demikian pula Ibnu Jarir di juz 29 hal. 91, di sana terdapat mutaba’ah (penguat dari jalan yang sama) bagi Ali bin Al Husain bin Waqid, ia telah dimutabaahkan oleh Yahya bin Wadhih, dimana ia adalah seorang hafizh dan termasuk para perawi jamaah, akan tetapi Syaikhnya Ibnu Jarir yaitu Muhammad bin Humaid Ar Raaziy terdapat pembicaraan. Hakim di juz 2 hal. 23 juga meriwayatkan dan ia berkata, “Shahih isnadnya.” Dan didiamkan oleh Adz Dzahabiy. Dalam Mustadrak Hakim disebutkan mutaba’ah Ali bin Al Husain bin Syaqiq yang termasuk perawi jamaah sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib, akan tetapi pada jalan kepadanya terdapat Muhammad bin Musa bin Hatim Al Qaasyaaniy, yang muridnya berkata, “Ia di sini adalah Al Qaasim bin Al Qaasim As Sayyaariy yang aku lepas tangan darinya.” Ibnu Abi Sa’dan berkata, “Muhammad bin ‘Ali Al Haafizh berpandangan buruk terhadapnya.” Demikian yang disebutkan dalam Lisaanul Miizaan. Syaikh Muqbil berkata, “Tetapi keseluruhan mutabaah ini menunjukkan bahwa hadits tersebut tsabit (sah), wallahu a’lam.” (lihat Ash Shahihul Musnad hal. 266), Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah (2223) menghasankan hadits tersebut.)

Kata “Wail” artinya ucapan azab dan ancaman atau sebuah lembah di neraka Jahannam, seperti yang diterangkan oleh penyusun tafsir Al Jalaalain. Ada pula yang menafsirkan, bahwa kata “wail” artinya kebinasaan dan kehancuran.Apabila ancaman keras ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi harta orang lain dalam hal takaran dan timbangan, dimana di dalamnya terdapat pengambilan harta orang lain secara tersembunyi, maka orang yang mengambil harta orang lain secara terang-terangan atau secara paksa dan atau mencuri harta mereka, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman yang keras ini.

Tafsir Kemenag

Pada permulaan surah ini Allah memberi peringatan keras kepada mereka yang berbuat curang dalam timbangan dan takaran. Celakalah bagi orang-orang yang berbuat curang dalam menimbang dan menakar sehingga merugikan banyak orang!2-3. Mereka yang berbuat curang itu adalah orang-orang yang apabila menerima takaran atau timbangan dari orang lain, mereka minta takaran itu dicukupkan dan dipenuhi sehingga tidak berkurang sedikit pun, dan apabila mereka menakar sesuatu dengan alat takar, seperti beras, gandum, atau lainnya, atau menimbang suatu barang seperti emas, perak, atau lainnya untuk orang lain, mereka mengurangi takaran atau timbangannya secara sengaja dengan cara licik agar tidak diketahui oleh pembeli. Hal ini sangat merugikan orang lain, dan harta yang diperoleh dari upaya ini hukumnya haram, tidak berkah, dan mengantar pelakunya ke neraka.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018