Surat At-Takwir Ayat 28

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.

Tafsir Al-Muyassar

Yaitu bagi siapa yang berkenan dari kalian untuk berjalan lurus diatas kebenaran dan iman.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Al-Qur'an sebagai pedoman bagi seluruh alam, yakni bagi siapapun yang ingin berada dijalan yang lurus dan menginginkan petunjuk dari Allah, Allah berfirman : { إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ } ( Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus ) [ Al Isra' : 9 ] , maka barangsiapa yang menginginkan petunjuk hendaklah ia menjadikan Al Qur'an sebagai pegangan, dan menjauh dari segala hal yang bertentangan dengan Al Qur'an, seperti perkataan para filsuf, dan lainnya yang setara dengan mereka.

{ لِمَنْ شَاءَ } bagi yang menginginkannya, pada kalimat ini difahami bahwasanya setiap hamba dapat memilih apakah ia berkeinginan menjadi hamba yang baik ataupun sebaliknya, dan ayat ini pula merupakan bantahan terhadap perkataan kelompok al-jabariyah yang mengatakan bahwasanya setiap manusia dikpaksa untuk melaksanakan segala perintah yang ada didalam Al-Qur'an dan tiada pilihan bagi mereka untuk menentukan jalan yang mereka tempuh, akan tetapi dengan adanya ayat ini perkataan mereka terbantahkan, maka barangsiapa yang belum berkeinginan menjadi insan yang taat maka baginya apa yang ia tentukan.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.”لِمَنْ شَاءَ “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau” Jumlah (susunan kalimat) ini adalah badal (kalimat ulang yang berfungsi penjelas) dari yang sebelumnya, namun akan terlihat jika ‘amilnya diulang, yaitu إلا[Illa] seakan akan Allah berfirman إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ “Tidaklah itu melainkan pengingat bagi di antara kalian yang mau istiqomah (menempuh jalan yang lurus)” Maka dalam ayat ini ada pengkhususan (yaitu yang mau istiqomah) setelah penyebutan umum (yaitu seluruh alam). Adapun orang yang tidak menghendaki dirinya istiqomah maka ia tidak dapat mengambil pelajaran dan manfaat dari al-Quran sebagaimana Allah berfirman: إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”(QS. Qaf: 37)Maka insan yang tidak ingin istiqomah, ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Quran.

Akan tetapi jika ada orang yang bertanya: Apakah kehendak manusia sesuai dengan pilihannya?
Kita jawab: Ya, kehendak manusia sesuai dengan pilihannya. Allah ‘Azza Wa Jalla juga memberikan manusia pilihan dan kehendak, jika ia berkehendak maka ia lakukan, dan jika tidak, dia tidak melakukannya. Karena jika tidak begitu, maka hujjah tidak akan tegak kepada manusia yang diutus kepada mereka para rasul, dengan diutusnya para rasul (tidak ada faedahnya jika manusia tidak diberi pilihan). Apa-apa yang kita kerjakan itu semua atas dasar pilihan dan kehendak kita. Kalau kita tidak bisa memilih maka diutusnya rasul tidak bisa menjadi hujjah buat kita.
Tidak diragukan bahwa manusia melakukan perbuatan sesuai pilihannya, semua manusia mengetahui bahwa bila ia hendak pergi ke Mekkah maka itu sesuai pilihannya, bila ia hendak pergi ke Madinah maka itu sesuai pilihannya, bila ia hendak pergi ke Baitulmaqdis maka itu sesuai pilihannya, bila ia hendak pergi ke Riyadh maka itu sesuai pilihannya atau ia hendak pergi kemana pun ia mau, maka itu semua seusai keinginannya dia tidak melihat dan merasakan ada seorang pun yang memaksanya. Begitu juga orang yang hendak melakukan ketaatan kepada Allah maka itu sesuai kehendaknya dan orang yang ingin melakukan kemaksiatan kepada Allah maka itu pun sesuai pilihannya. Manusia memiliki kehendak dan kita yakin bahwa ia tidak lah menghendaki sesuai kecuali itu adalah kehendak Allah dari sebelumya.

Tafsir Hidayatul Insan

Setelah jelas mana yang benar dan mana yang salah, petunjuk daripada kesesatan.

Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap golongan Jabriyyah yang mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kehendak.

Tafsir Kemenag

Peringatan Al-Qur'an itu ditujukan bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus, yaitu agama islam, dan beristikamah dalam mengamalkan ajarannya. 29. Hanya saja, keinginan seseorang untuk berbuat sesuatu tidak akan terlaksana kecuali jika Allah menghendaki. Dan kamu tidak dapat menghendaki menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah, tuhan seluruh alam.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018