Quran Surat Al-Fath Ayat 29

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا

Arab-Latin: Muḥammadur rasụlullāh, wallażīna ma'ahū asyiddā`u 'alal-kuffāri ruḥamā`u bainahum tarāhum rukka'an sujjaday yabtagụna faḍlam minallāhi wa riḍwānan sīmāhum fī wujụhihim min aṡaris-sujụd, żālika maṡaluhum fit-taurāti wa maṡaluhum fil-injīl, kazar'in akhraja syaṭ`ahụ fa āzarahụ fastaglaẓa fastawā 'alā sụqihī yu'jibuz-zurrā'a liyagīẓa bihimul-kuffār, wa'adallāhullażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti min-hum magfirataw wa ajran 'aẓīmā

Terjemah Arti: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Tafsir Quran Surat Al-Fath Ayat 29

Muhammad adalah rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya di atas agamanya adalah orang-orang yang besikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi mereka berkasih sayang di antara mereka. Anda melihat mereka rukuk dan sujud dalam shalat mereka, berharap Tuhan mereka melimpahkan karuniaNya kepada mereka lalu memasukkan mereka ke dalam surga dan meridhai mereka. Tanda ketaatan mereka terlihat pada wajah mereka berupa bekas sujud dan ibadah. Ini adalah sifat mereka di dalam Taurat. Sedangkan sifat mereka di dalam injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan batang dan cabangnya, kemudian cabangnya menjadi banyak sesudah itu, tanaman tersebut menguat, berdiri tegak kokoh di atas batang-batangnya, terlihat indah dipandang, dan para penanam mengaguminya. Allah hendak membuat orang-orang kafir jengkel dengan orang-orang beriman dalam jumlah mereka yang banyak dan kebaikan hidup mereka.
Disini terkandung dalil yang menunjukkan kafirnya orang yang membenci para sahabat, karena siapa yang dibuat Allah jengkel dengan para sahabat, berarti di dalam dirinya terdapat sesuatu yang menjengkelkannya, yaitu kekafiran. Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dari mereka kepada Allah dan rasulNya, mengamalkan apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan menjauhi apa yang Allah larang, ampunan bagi dosa-dosa mereka, pahala besar yang tidak terputus, yaitu surga. Janji Allah adalah janji yang benar dan pasti, tidak diselisihi. Siapapun yang meniti jejak para sahabat, maka dia masuk dalam hukum mereka, yaitu berhak atas ampunan dari Allah dan pahala yang besar. Para sahabat itu memiliki keutamaan kepeloporan dan perjuangan membela Islam yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari umat ini selain mereka. Semoga Allah meridhai mereka dan membuat mereka ridha.

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

29. Muhammad adalah utusan Allah, dan para sahabatnya yang bersama beliau keras terhadap orang-orang kafir yang memerangi Islam dan saling berkasih sayang di antara mereka, saling berlemah-lembut dan saling menyayangi. Engkau lihat -wahai orang yang memperhatikan- mereka rukuk dan sujud untuk Allah -Subḥānahu-, meminta kepada Allah agar menganugerahkan kepada mereka ampunan dan pahala yang baik serta meridai mereka. Tanda mereka terdapat di wajah mereka dari bekas sujud sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Demikian kriteria mereka sebagaimana yang disebutkan di dalam Taurat, satu kitab yang diturunkan kepada Musa -'alaihissalām-. Adapun permisalan mereka di Injil, satu kitab yang diturunkan kepada Isa -'alaihissalām- yaitu bahwa mereka dalam bekerja sama dan kesempurnaan seperti tanaman yang mengeluarkan tunas kecilnya, lalu menjadi kuat dan menjadi tegak di atas batangnya. Kekuatannya dan kesempurnaannya menyenangkan bagi orang-orang yang menanamnya, karena Allah ingin membuat orang-orang kafir jengkel dengan mereka tatkala melihat kekuatan, keteguhan dan kesempurnaan yang ada pada mereka. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan mengerjakan amal saleh dari kalangan para sahabat ampunan atas dosa-dosa mereka, sehingga mereka tidak dibalas karena dosa-dosa mereka, dan pahala yang besar dari sisi-Nya, yaitu Surga.

📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

29. Setelah Allah menjelaskan kebenaran mimpi Rasulullah dan hati orang-orang beriman menjadi tenang, maka Allah kemudian menjelaskan tentang Rasulullah dan memuji orang-orang beriman yang bersamanya.

Allah memuji Rasulullah dan para sahabatnya: Rasulullah Muhammad dan para sahabatnya adalah orang-orang yang keras terhadap orang-orang kafir, dan sangat pengasih terhadap sesama mereka. Kamu akan melihat mereka ruku’ dan sujud untuk mengharap rahmat dan keridhaan Allah. Tanda ketaatan mereka dapat terlihat di wajah mereka dari bekas sujud dan ibadah.

Sifat mulia mereka itu tercantum dalam kitab Taurat dan Injil, dan dalam dua kitab ini mereka disebutkan seperti tanaman yang menumbuhkan cabangnya, kemudian semakin kuat dan besar. Tanaman itu menjadi berdiri kokoh dan lurus di atas pokoknya, sehingga orang yang menanamnya merasa takjub atas keindahan pemandangan ini. Orang-orang kafir akan menjadi murka terhadap orang-orang beriman karena jumlah mereka yang banyak, kasih sayang yang ada pada mereka, dan kekuatan mereka yang besar dalam melawan musuh-musuh Allah. Allah menjanjikan bagi orang-orang beriman yang beramal shalih, ampunan atas dosa-dosa mereka dan rezeki yang besar di surga yang penuh dengan kenikmatan.

Ibnu ‘Asyur berkata: Hukum berlaku keras terhadap orang-orang kafir antara wajib, sunnah, dan mubah. Dan hukum berinteraksi dan berteman dengan mereka tetap berlaku dalam berbagai keadaan, dan para ulama Islam memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam hal ini. (at-Tahrir wa at-Tanwir 26/172).

📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

29. مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُۥٓ (Muhammad itu adalah utusan Allah; dan orang-orang yang bersama dengan dia)
Terdapat pendapat mengatakan mereka adalah orang-orang yang ikut dalam perang Hudaibiyah.

أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ(adalah keras terhadap orang-orang kafir)
Yakni bersikap keras terhadap mereka sebagaimana seekor singa yang memperlakukan mangsanya.

رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ (tetapi berkasih sayang sesama mereka)
Yakni mereka saling berkasih sayang.
Mereka menampakkan ketegasan dan kekerasan terhadap orang yang berbeda agamanya, dan menampakkan kasih sayang dan kelembutan kepada orang yang seagama; tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang munafik, mereka akan berlemah lembut kepada orang-orang kafir dan bersikap keras terhadap kaum muslimin, dan sungguh buruk apa yang mereka lakukan itu.

تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا(Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud)
Yakni kalian dapat menyaksikan mereka sedang ruku’ dan sujud.

يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللهِ وَرِضْوٰنًا ۖ( mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya)
Mengharapkan pahala dan keridhaan dari Allah.

سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ( tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud)
Terdapat pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud adalah wajah yang terlihat berseri-seri dan teduh serta menampakkan cahaya.

ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرَىٰةِ ۚ( Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat)
Yakni itulah sifat-sifat mereka yang disebutkan di dalam Taurat.

وَمَثَلُهُمْ فِى الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ (dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya)
Makna (الشطء) adalah tunas tanaman yang keluar dari pangkal batangnya.

فَـَٔازَرَهُۥ(maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat)
Yakni yang menguatkan dan menopang tanaman itu.

فَاسْتَغْلَظَ(lalu menjadi besarlah dia)
Yakni tunas itu tumbuh besar.

فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ(dan tegak lurus di atas pokoknya)
Yakni menjadi lurus di atas batangnya.

يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ(tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya)
Yakni tanaman dan cabang-cabangnya yang baru itu membuat penanamnya merasa takjub karena kekuatan dan kebagusan tanaman itu.
Perumpamaan ini Allah buat bagi para sahabat Rasulullah, mereka pada mulanya berjumlah sedikit, kemudian terus bertambah dan memiliki kekuatan, sebagaimana sebuah tanaman yang tunasnya pada mulanya sangat lemah, kemudian bertambah kuat dari waktu ke waktu hingga batangnya menjadi keras dan kokoh. Begitulah seorang muslim yang baru masuk Islam, pertama-tama imannya masih lemah, lalu akan bertambah kuat dengan senantiasa berinteraksi dengan orang-orang berilmu dan beriman hingga imannya setara dengan mereka.

لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ( karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir)
Yakni Allah memperbanyak dan memperkuat mereka, sehingga menjadikan orang-orang kafir merasa jengkel dan murka.

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ الصّٰلِحٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا (Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar)
Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka dan memperbesar pahala mereka dengan memasukkan mereka ke dalam surga yang merupakan kenikmatan dan karunia yang paling besar.

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

29. Muhammad Rasulallah dan sahabat-sahabat yang beriman kepadanya itu sangat keras terhadap orang-orang kafir, namun mereka adalah orang-orang yang sangat kasih sayang dan bersimpati dalam golongan mereka. Kamu lihat saat mereka dalam keadaan ruku’ dan sujud karena menyibukkan diri untuk shalat dalam waktu yang lama. Mereka mencari pahala, keridhaan dan surga dari Allah SWT. Mereka memiliki tanda-tanda yang berbeda pada wajah mereka karena sujud dalam shalat. Itu adalah ciri-ciri yang adalam Taurat dan Injil. Hal itu layaknya tanaman yang memunculkan cabang-cabangnya, kemudian dia menguatkannya sehingga menjadi kokoh, kuat, dan tumbuh lurus dari akarnya. Tanaman ini terlihat mengagumkan di antara tanaman-tanaman lainnya karena keindahan, pertumbuhan dan jumlah (cabang)nya yang sangat banyak. Mereka disamakan dengan tanaman ini karena saking banyaknya dan kuatnya mereka sehingga Allah ingin membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman kepadaNya dan rasulNya, mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang untuk mereka suatu penutup dan ampunan bagi dosa-dosa mereka serta pahala yang melimpah, yaitu surga berkat amal perbuatan mereka

📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Allah menutup ini dengan menyebutkan rasuNya dan para sahabatnya yang mereka semua adalah pilihan Allah. Allah menjelaskan bahwa mereka keras terhadap orang-orang kafir dan berlepas diri dari mereka, mereka adalah orang-orang yang berkasih sayang terhadap sebagian yang lain sebagaimana jasad yang satu. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. Dan Allah tidak menyelisihi segala janji-janji-Nya.

📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

29. Allah mengabarkan tentang RasulNya, Muhammad dan para sahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar, bahwasanya mereka adalah sosok dengan sifat yang paling mulia dan kondisi pribadi yang paling luhur, dan mereka, “ keras terhadap orang-orang kafir.” Artinya serius dan bersungguh-sungguh dalam memusushi orang-orang kafir serta mencurahkan segenap tenaga untuk memusuhi orang-orang kafir. Yang terlihat dari mereka hanyalah sikap keras dan tegas. Karena itulah musuh-musuh mereka menjadi takluk hingga tidak bisa menguasai orang-orang Muslim, “tetapi berkasih sayang sesama mereka,” artinya, mereka saling menyayangi, mengasihi, serta saling bersikap lemah lembut laksana satu tubuh, menyayangi saudaranya seperti halnya menyayangi diri sendiri dan inilah interaksi mereka terhadap sesama manusia.
Adapun hubungan mereka terhadap Sang Pencipta, kamu dapat menyaksikan sendiri simana mereka “rukuk dan sujud,” Allah menyifati mereka sebagai orang-orang yang banyak shalat, di mana rukuk dan sujud merupakan rukun shalat yang terbesar. “Mereka mencari,” dengan ibadah itu, “karunia Allah dan keridhaanNya.” Artinya, itulah maksud dan tujuan mereka yaitu mencari keridhaan Rabb mereka serta mencapai pahalaNya.
“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” Artinya, banyak serta baiknya ibadah yang mereka lakukan itu membekas di wajah mereka hingga wajah mereka bersinar. karena batin mereka bersinar disebabkan shalat, maka lahir mereka juga bersinar.
“Demikianlah,” yakni, yang tersebut itu “sifat-sifat mereka dalam Taurat,” artinya sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah untuk mereka itu juga disebutkan dalam Taurat.
Sedangkan “sifat-sifat mereka dalam Injil,” mereka disebut dengan sifat-sifat yang berbeda, yaitu, bahwasanya kesempurnaan pribadi mereka yang saling tolong menolong, di antara mereka adalah “seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya,” artinya mengeluarkan tunasnya hingga kuat, “maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat,” yaitu kuat dan kokoh, “lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya,” karena sempurna, tegak, indah dan lurus. Seperti itu juga para sahabat, mereka laksana tanaman karena bisa membawa manfaat bagi makhluk serta diperlukan oleh manusia. Kuatnya keimanan dana mal mereka laksana kekuatan akar dan batang tanaman. Kalangan sahabat muda serta yang terlambat masuk Islam sama seperti sahabat-sahabat senior yang telah masuk Islaam terlebih dahulu. Mereka saling tolong menolong dan menguatkan dengan keimanan yang dimiliki untuk menegakkan Agama Allah serta menyeru manusia kepadanya laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya hingga bisa mengokohkan dan menguatkan tanaman itu. Karena itulah Allah berfirman, “Karena Allah hendak mengjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) mereka (orang-orang Mukmin),” yakni pada saat orang-orang kafir melihat kebersamaan serta kekokohan kaum Mukminin di atas agama mereka dan pada saat orang-orang kafir berhadapan dengan kaum Mukminin dalam peperangan.
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar,” yakni, para sahabat yang menyatukan antara iman dana mal shalih sehingga Allah menyatukan antara ampunan yang di antara keharusannya adalah terjaganya mereka dari keburukan dunia dan akhirat dengan pahala yang besar, baik dunia dan akhirat untuk mereka.

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang Rasul-Nya dan para sahabatnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar, bahwa mereka dalam keadaan sifat yang paling sempurna dan keadaan yang paling baik, yaitu bahwa mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir , namun berkasih sayang di antara sesama mereka seperti satu bangunan, dimana masing-masingnya saling menguatkan dan masing-masingnya menginginkan kebaikan untuk saudaranya sebagaimana yang ia inginkan untuk dirinya.

Inilah mu’amalah mereka dengan manusia. Adapun mu’amalah mereka dengan Tuhan mereka adalah sebagaimana yang diterangkan dalam lanjutan ayat di atas.

Mereka disifati dengan banyak melakukan shalat, dimana rukunnya adalah ruku’ dan sujud.

Inilah maksud mereka, yaitu mendapatkan keridhaan Allah dan memperoleh pahala-Nya.

Maksudnya, pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka. Ada pula yang mengatakan, bahwa di akhirat pada wajah mereka ada cahaya, sehingga dapat diketahui bahwa mereka orang-orang yang melakukan sujud ketika di dunia. Ada pula yang berpendapat, bahwa ibadah yang mereka lakukan karena banyak dan bagus membekas pada wajah mereka sehingga tampak wajah mereka bercahaya setelah batin mereka disinari dengan shalat.

Karena sempurnanya, indah dan tegak-lurus tanaman itu. Demikianlah keadaan para sahabat, dimana keadaan mereka yang sebelumnya lemah dan sedikit kemudian bertambah menjadi banyak, kuat dan berkembang, dan bahwa mereka saling bantu-membantu dan menguatkan. Menurut Syaikh As Sa’diy, mereka seperti tanaman dalam memberikan manfaat kepada makhluk dan butuhnya manusia kepada mereka. Kuatnya iman dan amal mereka seperti kuatnya akar tanaman dan batangnya, sedangkan keadaan yang kecil dan terakhir masuk Islamnya telah ikut kepada yang besar yang telah mendahuluinya, membantunya dan menolongnya menegakkan agama Allah dan mengajak manusia kepadanya seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu menguatkan tanaman itu dan menjadikannya besar. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.”

Para sahabat radhiyallahu 'anhum yang menggabung antara iman dan amal saleh, telah Allah gabungkan pula untuk mereka antara ampunan -dimana termasuk bagiannya adalah terpeliharanya mereka dari keburukan dunia dan akhirat- dan pahala yang besar di dunia dan akhirat.

Kisah Perjanjian Hudaibiyah

Untuk memahami surah Al Fat-h ini lebih dalam perlu kiranya disebutkan kisah perjanjian Hudaibiyah. Ibnul Qayyim dalam Al Hadyu berkata:

Naafi’ berkata, “(Peristiwa Hudaibiyah) terjadi pada tahun keenam bulan Dzulqa’dah,” dan inilah (pendapat) yang benar. Inilah pendapat Az Zuhriy, Qatadah, Musa bin ‘Uqbah, Muhammad bin Ishaq dan selain mereka.

Hisyam bin Urwah berkata dari bapaknya, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar ke Hudaibiyah di bulan Ramadhan, dan terjadinya perjanjian itu adalah pada bulan Syawwal.” Tampaknya ini wahm (keliru), bahkan peristiwa Fat-h itulah yang terjadi di bulan Ramadhan. Abul Aswad berkata dari Urwah, “Yang benar ia terjadi pada bulan Dzulqa’dah.”

Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim dari Anas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan umrah empat kali, semuanya terjadi pada bulan Dzulqa’dah. Lalu Anas menyebutkan di antaranya, yaitu Umrah Hudaibiyah, dimana yang ikut Beliau berjumlah 1500 orang. Demikianlah yang disebutkan dalam Shahihain dari Jabir. Dari Jabir pula yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, bahwa mereka berjumlah 1400 orang, dan dalam Shahihain pula namun dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata, “Kami berjumlah 1300 orang.” Qatadah berkata, “Aku berkata kepada Sa’id bin Musayyib, “Berapa orang yang ikut Bai’aturridhwan?” Ia menjawab, “Seribu lima ratus orang.” Qatadah berkata: “Aku berkata, “Sesungguhnya Jabir bin Abdillah mengatakan bahwa jumlah mereka 1400 orang.” Sa’id bin Musayyib berkata, “Semoga Allah merahmatinya, ia telah keliru. Dialah yang menceritakan kepadaku bahwa jumlah mereka 1500 orang.” Aku (Ibnul Qayyim) berkata, “Telah shahih dari Jabir dua pendapat,” Telah shahih darinya bahwa mereka menyembelih pada tahun Hudaibiyah 70 ekor unta, dimana satu ekor unta dari tujuh orang.” Lalu ia (Jabir) ditanya, “Berapa jumlah kamu?” Ia menjawab, “Seribu empat ratus orang; dengan yang berkuda dan pejalan kaki.” Hati (tampaknya) lebih cenderung kepadanya, dan inilah pendapat Al Barra’ bin ‘Aazib, Ma’qil bin Yasar dan Salamah bin Al Akwa’, dalam riwayat yang paling shahih dari dua riwayat. Demikian pula sebagai pendapat Musayyib bin Hazn. Syu’bah berkata dari Qatadah dari Sa’id bin Musayyib dari bapaknya, “Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bawah pohon dengan jumlah 1400 orang,” dan keliru sekali orang yang mengatakan bahwa mereka berjumlah 700 orang, alasannya karena mereka menyembelih ketika itu 70 ekor unta, padahal unta telah dianggap sah dari tujuh orang atau sepuluh orang. Hal ini tidaklah menguatkan kata-katanya, karena di sana ditegaskan bahwa seekor unta pada peristiwa itu dari tujuh orang, jika 70 dari semuanya tentu mereka berjumlah 490 orang, padahal telah disebutkan jumlahnya berdasarkan hadits secara lengkap bahwa mereka 1400 orang.

Kisahnya

Ketika mereka telah berada di Dzulhulaifah, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengalungkan hewan hadyu dan memberinya tanda serta berihram untuk umrah dan mengirimkan seorang mata-mata dari Khuza’ah untuk memberi informasi tentang kaum Quraisy, sehingga ketika mereka telah dekat dengan ‘Usfan, maka mata-mata Beliau datang dan berkata, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan Ka’ab bin Lu’ay, sedangkan dia telah mengumpulkan orang-orang Habasy (Mereka adalah orang-orang yang bersekutu dengan kaum Quraisy di bawah bukit) serta mengumpulkan pasukan yang banyak. Mereka hendak memerangimu dan menghalangimu dari Baitullah.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para sahabat (seraya berkata), “Menurut kamu, perlukah kita mengurusi keturunan mereka ini yang membantu mereka (musuh) sehingga kita memerangi mereka. Jika mereka duduk, tentu mereka duduk dalam keadaan teraniaya dan sedih, namun jika mereka selamat, maka mereka menjadi leher yang siap dipotong Allah ataukah menurut kamu kita tetap menuju Baitullah? Sehingga jika ada yang menghalangi kita, maka kita akan memerangi dia.” Abu Bakar berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Sesungguhnya kita datang untuk berumrah dan tidak datang untuk memerangi seorang pun. Akan tetapi, barang siapa yang menghalangi kita dari Baitullah, maka kita akan memeranginya.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Kalau begitu, berangkatlah.” Mereka pun berangkat, sehingga ketika mereka sampai di sebagian jalan, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Khalid bin Walid berada di ghamim (nama lembah di depan ‘Usfan) dengan pasukan berkuda milik kaum Quraisy, maka ambillah (jalan) sebelah kanan.” Maka demi Allah, Khalid tidak menyadari keberadaan mereka, sehingga ketika ia berada di debu-debu pasukan, maka ia berangkat dengan memacu kudanya untuk memperingatkan orang-orang Quraisy. Sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat, sehingga ketika Beliau telah berada di jalan perbukitan yang turun atas mereka, maka unta Beliau berlutut, lalu orang-orang berkata (kepada unta Beliau), “Hil-hil (bangun-bangun).” Namun unta itu malah tidak mau bangun. Lalu mereka berkata, “Unta Qaswa (nama unta Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak mau bangun.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Unta Qaswa’ bukan tidak mau jalan, dan itu tidak biasanya. Akan tetapi yang menahannya adalah Tuhan yang menahan gajah (tentara bergajah).” Kemudian Beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Mereka tidaklah meminta suatu perkara yang di sana hal-hal yang dimuliakan Allah dihormati kecuali aku akan memberikannya.” Selanjutnya Beliau menyuruhnya bangun, lalu unta itu bangun dan beralih menuju daerah Hudaibiyah yang paling jauh yang di sana terdapat galian yang airnya sedikit, dimana orang-orang dapat mengambilnya secara sedikit. Tidak lama kemudian, orang-orang menjauhinya (tempat itu), lalu mereka mengeluhkan rasa haus kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Selanjutnya Beliau mengambil sebuah panah dari tabung(tempat)nya, lalu memerintahkan mereka menaruh panah itu di dalamnya. Demi Allah, air it terus memancar sampai mereka kembali dalam keadaan telah hilang rasa hausnya, sedangkan orang-orang Quraisy merasa kaget karena singgahnya Beliau kepada mereka, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkeinginan mengutus seseorang dari sahabatnya. Beliau memanggil Umar bin Khaththab untuk menemui mereka (kaum Quraisy), maka Umar berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang berada di Mekah dari Bani Ka’ab yang akan marah kepadaku jika aku disakiti, maka kirimlah Utsman bin ‘Affan karena keluarganya di sana, dan dia akan menyampaikan apa yang engkau inginkan.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Utsman bin ‘Affan, lalu mengutusnya menemui orang-orang Quraisy dan berkata, “Beritahukanlah mereka, bahwa kami tidaklah datang untuk berperang. Kami datang hanyalah untuk berumrah dan ajaklah mereka kepada Islam.” Beliau juga memerintahkan Utsman agar mendatangi laki-laki dan perempuan yang mukmin yang tinggal di Mekah agar memberikan kabar gembira kepada mereka dengan kemenangan, dan memberitahukan, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan memenangkan agama-Nya di Mekah, sehingga tidak ada yang menyembunyikan keimanan di sana. Utsman pun berangkat dan melewati orang-orang Quraisy di Baldah, lalu mereka berkata, “Ke mana kamu ingin (pergi)?” Ia menjawab, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku untuk mengajak kamu kepada Allah dan kepada Islam serta memberitahukan kamu bahwa kami datang bukan untuk berperang, tetapi hanya untuk berumrah.” Mereka berkata, “Kami telah mendengar kata-katamu, maka lanjutkanlah keperluanmu.”

Lalu Aban bin Sa’id bin ‘Aash berdiri mendatanginya dan mengucapkan selamat kepadanya, kemudian memasangkan pelana ke kudanya, dan membawa Utsman di atas kuda, dia melindunginya dan memboncengnya di belakang sampai ia tiba di Mekah.

Lalu Kaum muslimin (para sahabat) berkata sebelum Utsman kembali, “Utsman telah sampai sebelum kita ke Baitullah dan berthawaf di sana.” Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak mengira ia bisa thawaf di Baitullah sedangkan kita dihalangi.” Para sahabat berkata, “Apa yang menghalanginya (untuk berthawaf) wahai Rasulullah, sedangkan dia telah sampai?” Beliau bersabda, “Itu adalah perkiraanku terhadapnya, yaitu ia tidaklah thawaf di Ka’bah sampai kita thawaf bersamanya.” Ketika itu kaum muslimin bercampur dengan kaum musyrikin tentang masalah shulh (perjanjian damai), lalu salah seorang di antara dua golongan itu ada yang melepas panah ke yang lain sehingga terjadilah peperangan, dan mereka saling lempar-melempar panah dan batu, lalu kedua golongan itu berteriak dan masing-masing golongan menjamin orang yang bersama mereka, dan sampailah berita kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Utsman telah terbunuh. Maka Beliau segera mengajak melakukan bai’at. Maka kaum muslimin segera mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bawah pohon, mereka membai’at Beliau untuk tidak melarikan diri, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang dengan tangannya sendiri dan bersabda, “Ini adalah bai’at untuk membela Utsman.” Setelah bai’at selesai, maka Utsman kembali lalu kaum muslimin berkata kepadanya, “Engkau telah puas wahai Abu Abdillah karena thawaf di Baitullah.” Maka Utsman berkata, “Buruk sekali sangkaanmu kepadaku. Demi Allah yang jiwaku di Tangan-Nya, kalau pun aku tinggal di sana selama setahun, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berada di Hudaibiyah, maka aku tidak akan thawaf sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam thawaf. Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengajakku untuk thawaf di Baitullah tetapi aku menolak.” Lalu kaum muslimin berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling baik perkiraannya di antara kami.” Umar ketika itu memegang tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk dibai’atnya di bawah pohon, lalu kaum muslimin semuanya ikut membai’at selain Jadd bin Qais. Ketika itu Ma’qil bin Yasar mengambil ranting pohon dan mengangkatnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang yang pertama membai’at Beliau adalah Abu Sinan Al Asadiy, sedangkan Salamah bin Al Akwa’ membai’at Beliau tiga kali di bagian pertama, pertengahan dan terakhir dari orang-orang.

Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Budail bin Warqa’ Al Khuzaa’iy datang dalam rombongan dari Khuza’ah sedangkan mereka adalah orang-orang terpercaya Beliau dari penduduk Tihamah, ia berkata, “Sesungguhnya aku meninggalkan Ka’ab bin Lu’ay dan ‘Amir bin Lu’ay yang menempati beberapa tempat air di Hudaibiyah dengan membawa unta yang banyak susunya. Mereka orang-orang yang siap memerangimu dan menghalangimu dari Baitullah.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kita datang tidak untuk memerangi seorang pun, akan tetapi kita datang untuk berumrah, dan sesungguhnya orang-orang Quraisy telah dibuat lemah dan rugi oleh peperangan. Jika mereka mau aku adakan genjatan senjata dalam waktu tertentu dan membiarkan aku dengan orang lain, dan jika mereka mau masuk ke tempat orang-orang masuk, maka mereka bisa melakukannya. Jika tidak, maka sesungguhnya mereka telah kuat, dan jika mereka tidak menghendaki selain berperang, maka demi Allah yang jiwaku di Tangan-Nya, aku akan memerangi mereka di atas urusanku ini sampai aku hanya sendiri atau Allah memberlakukan urusan-Nya.” Budail berkata, “Aku akan sampaikan apa yang engkau katakan.” Maka Budail berangkat sampai tiba di tengah orang-orang Quraisy dan berkata, “Sesungguhnya aku telah datang kepada kamu dari orang itu dan aku mendengar ia berkata sesuatu. Jika kamu kamu, maka aku akan beritahukan kepada kamu.” Maka orang yang bodoh di antara mereka berkata, “Kami tidak butuh sedikit pun penyampaianmu tentangnya.” Lalu orang yang berpandangan tajam berkata, “Kemari, apa yang engkau dengar darinya.” Budail berkata, “Aku mendengar ia berkata begini dan begitu.” Lalu Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafiy berkata, “Sesungguhnya orang ini telah menawarkan perkara bagus, maka terimalah dan biarkan aku mendatanginya.” Mereka berkata, “Datangilah dia.” Maka Urwah mendatanginya dan berbicara dengan Beliau, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya seperti yang diungkapkan Budail. Ketika itulah Urwah berkata kepada Beliau, “Wahai Muhammad, bagaimana menurutmu jika engkau menghabisi kaummu, apakah engkau pernah mendengar ada seseorang dari bangsa Arab yang menghabisi keluarganya sebelummu?” Jika ada yang lain, maka demi Allah, sesungguhnya aku melihat wajah-wajah dan melihat rakyat jelata layak untuk lari dan meninggalkan kamu.” Lalu Abu Bakar berkata kepadanya, “Hisaplah olehmu aurat patung Lata, apakah kami akan lari darinya dan membiarkannya? Ia menjawab, “Siapa ini?” Ia menjawab, “Abu Bakar.” Ia berkata, “Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalau bukan karena kamu pernah memberiku nikmat yang aku belum balas, tentu aku akan jawab.” Maka Urwah berbicara dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan setiap kali dia berbicara dengan Beliau, dia pegang janggut Beliau, sedangkan Mughirah bin Syu’bah berada melebihi kepala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa pedang serta memakai topi besi. Setiap kali Urwah hendak memegang janggut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka dipukul tangannya dengan alas pedangnya dan berkata, “Singkirkanlah tanganmu dari janggut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Maka Urwah mengangkat kepalanya dan berkata, “Siapa orang ini?” Ia menjawab, “Mughirah bin Syu’bah.” Urwah berkata, “Wahai pengkhianat, bukankah engkau orang yang paling berusaha untuk menolak keburukan pengkhianatanmu?” Mughirah adalah seorang yang pernah menemani sekelompok orang di zaman jahiliyyah, lalu ia membunuh mereka dan mengambil harta mereka, lalu ia datang dan masuk Islam.” Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Adapun Islam, maka aku terima, sedangkan harta maka aku tidak memerlukannya.” Lalu Urwah memandang para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, demi Allah tidaklah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdahak, kecuali dahak itu jatuh di telapak salah seorang di antara mereka, lalu ia gosok ke kulit dan mukanya.” Ketika Beliau memerintahkan mereka (para sahabat), maka para sahabat bersegera kepadanya, dan apabila Beliau berwudhu’, maka mereka saling berebutan terhadap air wudhu’nya, dan apabila Beliau berbicara, maka mereka merendahkan suara di dekatnya dan mereka tidak memandang tajam kepadanya karena memuliakan Beliau.

Selanjutnya Urwah kembali kepada kawan-kawannya dan berkata, “Wahai kaumku! Demi Allah, aku telah menjadi utusan terhadap para raja, terhadap Kisra, Kaisar dan Najasyi. Namun demi Allah, aku tidak melihat raja yang dimuliakan sahabat-sahabatnya seperti para sahabat Muhammad memuliakan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Demi Allah, jika ia berdahak, maka dahaknya jatuh ke telapak tangan salah seorang di antara mereka lalu ia gosok ke muka dan kulitnya. Apabila Beliau menyuruh mereka, maka mereka bersegera melakukannya dan apabila Beliau berwudhu’, maka mereka berebut air wudhu’nya, dan apbila Beliau berbicara, maka mereka merendahkan suaranya di dekat Beliau dan mereka tidak memandang tajam kepada Beliau karena memuliakannya. Sesungguhnya Dia telah menawarkan kepadamu perkara yang bagus, maka terimalah.” Lalu ada seorang dari Bani Kinanah berkata, “Biarkanlah aku mendatanginya.” Mereka menjawab, “Datangilah.” Saat orang tersebut melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah si fulan, ia termasuk orang yang memuliakan unta, maka kirimlah unta kepadanya.” Lalu mereka mengirimkannya, kemudian orang-orang mendatanginya sambil menyambut, dan ketika dia melihat hal itu, dia berkata, “Subhaanallah, tidak pantas bagi mereka ini menghalangi (orang lain) dari Baitullah.” Lalu ia pulang kepada kawan-kawannya dan berkata, “Aku melihat unta-unta telah diberi kalung dan tanda, menurutku tidak perlu mereka dihalangi dari Baitullah, lalu Mikraz bin Hafsh bangun dan berkata, “Biarkanlah aku mendatanginya.” Lalu mereka berkata, “Datangilah.” Saat ia melihat mereka, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah Mikraz bin Hafsh, dia adalah laki-laki jahat.” Lalu ia berbicara dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika ia sedang berbicara dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Suhail bin ‘Amr datang, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Urusanmu telah dimudahkan.” Suhail berkata, “Bawalah kemari! Buatlah catatan (perjanjian) antara kami dan kamu.” Maka Beliau memanggil juru tulis dan bersabda, “Tulislah Bismillahirrahmaanirrahim.” Suhail berkata, “Adapun Ar Rahman, maka kami tidak mengetahui apa itu?” Akan tetapi, tulislah, “Bismikallahumma.” (Dengan nama-Mu ya Allah) sebagaimana yang engkau tulis.” Maka kaum muslimin berkata, “Demi Allah, kami tidak akan menulisnya kecuali Bismillahirrahmaanirrahim.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tulislah Bismikallahumma.” Lalu Beliau bersabda, Tulislah, “Ini adalah yang diputuskan oleh Muhammad Rasulullah.” Lalu Suhail berkata, “Demi Allah, kalau kami mengetahui engkau adalah Rasulullah, maka kami tidak akan menghalangimu dari Baitullah dan tidak akan memerangimu. Akan tetapi, tulislah, “Muhammad bin Abdullah.” Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku Rasulullah meskipun kamu mendustakanku. Tulislah Muhammad bin Abdullah.” Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Yaitu agar kamu membiarkan kami ke Baitullah untuk berthawaf.” Maka Suhail berkata, “Demi Allah, orang-orang Arab jangan sampai mengatakan bahwa kami ditekan, akan tetapi kamu boleh pada tahun depan.” Maka ditulislah. Suhail berkata, “Yaitu jika datang seorang laki-laki dari kami kepadamu meskipun mengikuti agamamu, maka engkau mengembalikan dia kepada kami.” Lalu kaum muslimin berkata, “Subhaanallah, bagaimana mungkin dikembalikan kepada kaum musyrik padahal ia telah datang dalam keadaan muslim?” Maka ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Abu Jandal bin Suhail berjalan dengan kaki terikat dalam belenggu, dimana ia telah keluar dari bawah Mekah, lalu ia merebahkan dirinya ke tengah-tengah kaum muslimin. Suhail berkata, “Inilah wahai Muhammad, yang pertama engkau tetapkan, yaitu kamu harus mengembalikan.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kami belum sempat menyelesaikannya.” Suhail berkata, ”Demi Allah, jika demikian, maka aku tidak akan mengadakan perjanjian damai denganmu selamanya terhadap sesuatu.” Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah dia untukku.” Suhail berkata, “Aku tidak akan membiarkannya.” Beliau bersabda, “Bahkan lakukanlah.” Ia berkata, “Aku tidak akan melakukannya.” Mikraz berkata, “Kami membolehkannya.” Lalu Abu Jandal berkata, “Wahai kaum muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrik padahal aku datang dalam keadaan muslim? Tidakkah kamu melihat apa yang terjadi padaku?” Ketika itu ia disiksa di jalan Allah dengan siksaan yang berat.” Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah, aku tidak ragu sejak masuk Islam kecuali pada hari itu. Lalu aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah engkau Nabi Allah?” Beliau menjawab, “Ya.” Aku (Umar) berkata, “Bukankah kita di atas yang hak sedangkan musuh kita di atas yang batil?” Beliau menjawab, “Ya.” Aku berkata, “Atas dasar apa kita berikan kerendahan kepada agama kita, lalu kita pulang sedangkan Allah belum memberikan keputusan antara kita dengan musuh-musuh kita?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, Dia Penolongku dan aku tidak mendurhakai-Nya.” Aku berkata lagi, “Bukankah engkau telah menceritakan kepada kami, bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan mengelilinginya?” Beliau bersabda, “Ya. (namun) apakah aku memberitahukan kepadamu bahwa kamu akan mendatanginya tahun ini?” Aku menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaf di sana.” Umar berkata, “Lalu aku mendatangi Abu Bakar dan berkata kepadanya seperti yang aku katakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun Abu Bakar menjawab seperti jawaban Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menambahkan, “Lalu ia berpegang dengan batang kayu yang dia tancapkan, sampai engkau mati (tetap taat). Demi Allah, sesungguhnya Beliau berada di atas yang hak.” Umar berkata, “Maka aku melakukan beberapa amal karenanya.”

Ketika selesai penulisan perjanjian. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Bangkitlah dan sembelihlah kemudian cukurlah.” Demi Allah, ketika itu tidak ada seorang pun yang berdiri di antara mereka sampai Beliau mengucapkannya tiga kali. Ketika tidak ada salah seorang pun di antara mereka yang berdiri, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit dan masuk menemui Ummu Salamah, lalu Beliau menyebutkan kepadanya apa yang Beliau dapatkan dari para sahabatnya.” Ummu Salamah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka itu (mereka melakukannya)?” Keluarlah dan jangan bicara dengan seorang pun sampai engkau menyembelih untamu dan engkau panggil tukang cukurmu untuk mencukur rambutmu.” Maka Beliau bangkit dan keluar serta tidak berbicara dengan seorang pun sampai Beliau melakukan hal itu; Beliau sembelih untanya, memanggil tukang cukurnya lalu mencukurnya. Ketika orang-orang melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal itu, maka mereka bangkit dan menyembelih, dan satu sama lain saling cukur mencukur sampai seakan-akan sebagian mereka seperti membunuh yang lain karena sedih. Kemudian datang wanita-wanita mukminah, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, …sampai ayat yang artinya: “Berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir;” (Terj. Al Mumtahanah: 10) Maka ketika itu Umar menceraikan dua istrinya yang pernah bersamanya di masa syirk, lalu yang satunya dinikahi oleh Mu’awiyah, sedangkan yang satu lagi dinikahi oleh Shafwan bin Umayyah.

Kemudian Beliau pulang ke Madinah, dan saat pulangnya, Allah menurunkan ayat, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,” (Terj. Al Fat-h: 1) sampai akhirnya. Lalu Umar berkata, “Apakah itu kemenangan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya.” Maka para sahabat berkata, “Sungguh bahagia engkau wahai Rasulullah, lalu apa yang akan kami peroleh?” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan ayat, “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin…dst.” (Terj. Al Fat-h: 4) selesai .

Ya Allah, Engkau telah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Mu dan kaum mukmin saat mereka mendapatkan cobaan, maka berikanlah pula ketenangan kepadaku (Marwan bin Musa) saat menghadapi cobaan yang aku hadapi ini wahai Tuhanku.

📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa rahmat bagi seluruh alam, dan orang-orang yang bersama dengan dia yakni sahabat-sahabat-Nya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang menentang agama-Nya, tetapi berkasih sayang dan saling mencintai sesama mereka yang beriman. Kamu senantiasa melihat mereka rukuk dan sujud dan itu dilakukan semata-mata untuk mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Engkau saksikan pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud berupa cahaya yang menunjukkan ketakwaan dan kesalehannya. Demikianlah sifat-sifat mereka yang sangat agung yang diungkapkan dalam taurat yang diturunkan kepada nabi musa. Dan sifat-sifat me-reka yang diungkapkan dalam injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya. Demikian perumpamaan orang-orang mukmin pengikut nabi Muhammad. Sesungguhnya mereka itu mula-Mula sedikit saja, kemudian ia bertambah semakin banyak, bagaikan tunas yang menumbuhkan tanaman yang subur dan banyak buahnya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya. Sifat-sifat yang luhur dan mulia dinyatakan karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan menunjukkan semakin banyaknya jumlah orang-orang mukmin dan semakin besarnya kekuatan mereka dari masa ke masa. Demikianlah akhir surah al-fat' ini ditutup dengan janji Allah bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan atas dosa dan kesalahan mereka dan pahala yang besar yaitu surga. Semoga kami termasuk orang-orang yang memperoleh anugerah yang agung itu. 1. Pada permulaan surah al-hujur't ini Allah mengajarkan akhlak kepada kaum muslim ketika berhubungan dengan Allah dan rasul-Nya. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, yakni jangan kamu tergesa-gesa dalam memutuskan suatu perkara sebelum mendapat keputusan Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Sungguh, Allah maha mendengar ucapan kamu, maha mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kamu. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum muslim agar ja-ngan mendahului Allah dan rasul-Nya dalam menetapkan hukum keagamaan atau persoalan duniawi yang menyangkut kehidupan me-reka. Hal ini bertujuan agar keputusan mereka tidak menyalahi syariat islam sehingga menimbulkan kemurkaan Allah.

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Terkait: « | »

Kategori: 048. Al-Fath