Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al-Anfal Ayat 5

كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ

Arab-Latin: Kamā akhrajaka rabbuka mim baitika bil-ḥaqqi wa inna farīqam minal-mu`minīna lakārihụn

Terjemah Arti: Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya,

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Sebagiaman kalian telah berselisih pendapat terkait harta rampasan perang, lalu Allah mengambil alih urusannya dari kalian, dan menjadikannya atas dasar pembagian dariNya dan pembagian RasulNya , demikian pula tuhanmu memerintahkan dirimu (wahai nabi), untuk keluar dari Madinah guna mengahadang kafilah dagang suku quraisy.Perintah itu melalui wahyu yang jibril datang kepadamu dengannya, meski terdapat ketidaksukaan segolongan dari kaum Mukminin untuk ikut keluar.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

5. Sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mencabut wewenang pembagian harta rampasan perang dari kalian, setelah kalian berselisih paham dan berseteru tentang hal itu, dan menyerahkannya kepada diri-Nya dan rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Rabbmu juga memerintahkan kepadamu -wahai Rasul- untuk keluar dari kota Madinah guna menghadapi orang-orang musyrik melalui wahyu yang Dia turunkan kepadamu, walaupun sebagian orang mukmin tidak setuju dengan hal itu.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

5. كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ (Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran)
Allah menyebutkan dalam ayat ini dan ayat setelahnya bahwa kemenangan pada perang Badar adalah karunia dari Allah semata. Oleh sebab itu harta ghanimah menjadi milik Allah dan rasul-Nya. Dan sebagian dari karunia itu adalah bahwa Allah menyeru orang-orang beriman untuk keluar kota Madinah untuk memerangi orang-orang musyrik namun kebanyakan mereka merasa berat, dan memerintahkan mereka untuk menyerbu pasukan orang-orang kafir namun kebanyakan mereka enggan, serta Allah megirimkan para malaikat untuk membantu mereka menghadapi musuh, dan hal-hal lain yang dijelaskan dalam surat ini.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

5-6

1 ). Dari peristiwa perang Badr kita didik untuk senantiasa berserah diri dan tunduk kepada perintah baik itu perintah syar'i maupun kauni, sekalipun itu menyalahi tujuan yang kita harapkan, bukankah Allah berfirman : { ( 6 ) وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ ( 5 ) يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ } "padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya ( 5 ) mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu)" ? akan tetapi mereka tidak memahami bahwasnya ketentuan itu menggiring mereka kepada pertolongan yang lebih besar yang menjadi penopang dakwah islam semasa hidup Rasulullah.

2 ). Ketika kebenaran telah terungkap, maka tidak pantas bagi orang berakal dan beriman menentangnya. { يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ }.

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim

5 Jika para sahabat tidak senang dengan cara pembagian harta rampasan perang Badar sebagaimana ketidaksukaan mereka untuk ikut keluar melakukan perang Badar. Maka ada dua kemaslahatan atas apa yang terjadi. Keberangkatanmu untuk perang dari Madinah Munawwaroh adalah keberangkatan yang haq, yang disertai dengan hikmah dan kebenaran. Namun sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukai untuk berangkat perang sebab jumlah dan senjata mereka yang sedikit

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Sebelum menyebutkan peristiwa perang Badar, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan dahulu sifat yang perlu dimiliki oleh orang-orang mukmin, di mana apabila seseorang memilikinya, maka keadaannya akan istiqamah dan amalnya akan baik, yang di antaranya adalah kesiapan berjihad di jalan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Ada yang menafsirkan, bahwa maksudnya adalah Allah mengatur pembagian harta rampasan perang dengan kebenaran, sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula. Ada pula yang menafsirkan, bahwa oleh karena iman mereka adalah hakiki, dan balasan yang dijanjikan Allah untuknya adalah hak (benar), demikian pula Allah mengeluarkan Rasul-Nya dari rumahnya di Madinah menemui kaum msyrikin di Badar juga dengan hak (kebenaran).

Ketika Abu Sufyan pulang bersama rombongannya dari Syam, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya keluar untuk meraih barang bawaan mereka. Namun kaum Quraisy ternyata mengetahui hal itu, maka keluarlah mereka bersama Abu Jahal dan para pendekar Mekah untuk menyelamatkan rombongan itu, dan akhirnya Abu Sufyan bersama rombongannya pergi melewati jalan di pinggir laut, sehingga mereka lolos. Lalu dikatakan kepada Abu Jahal, “Pulanglah!” namun ia menolak dan tetap berangkat ke Badar, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para sahabatnya dan bersabda, “Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadaku (untuk memberikan kemenangan) terhadap salah satu dari dua golongan itu.” Maka para sahabat setuju untuk memerangi kaum Quraisy itu, sedangkan sebagian lagi tidak menyukainya dan berkata, “Kami belum bersiap-siap untuknya.”

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Sesungguhnya kemenangan itu bersumber dari Allah, tempat bergantungnya segala urusan. Persengketaan orang-orang beriman menyangkut soal pembagian harta rampasan perang itu mirip keadaan mereka ketika Allah memberi perintah kepada mereka untuk memerangi orang-orang musyrik di badar. Sebagaimana keadaan kaum muslim ketika berselisih soal pembagian harta rampasan, lalu Allah dan rasulnya mengambil alih pembagian itu, demikian pula ketika tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu di madinah untuk menghadang kafilah quraisy dan berperang di badar dengan cara dan tujuan yang benar melalui wahyu, meskipun sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu benar-benar tidak menyukainya ikut keluar menghadang musuh. Ketidaksenangan mereka sekarang soal pembagian harta rampasan sama dengan ketidaksenangan mereka dahulu ketika diperintah ke badar, tetapi kemudian terbukti pilihan Allah-lah yang menghasilkan kemenangan dan kebahagiaan. Sebagai bukti ketidaksenangan mereka untuk keluar ke badar, mereka, yakni golongan yang enggan berperang itu membantahmu wahai nabi Muhammad tentang kebenaran, yakni keharusan keluar kota menghadang kafilah setelah nyata bahwa mereka pasti akan menang sesuai janji Allah. Karena ketidaksenangan mereka yang didasari rasa enggan dan takut pada akibat-akibat perang itu, seakan-akan ketika berangkat menuju medan laga, mereka bagaikan orang yang dihalau menuju kepada kematian, sedang mereka terus-menerus melihat sebab-sebab kematian itu.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Al-Anfal Ayat 6 Arab-Latin, Surat Al-Anfal Ayat 7 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Al-Anfal Ayat 8, Terjemahan Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 9, Isi Kandungan Surat Al-Anfal Ayat 10, Makna Surat Al-Anfal Ayat 11

Category: Surat Al-Anfal

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!