Surat Al-Baqarah Ayat 16

Text Bahasa Arab dan Latin

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Tafsir Al-Muyassar

Orang-orang munafik tersebut telah menjual diri mereka dengan sebuah  transaksi yang akan merugikan. Dimana mereka lebih memilih kekafiran dan meninggalkan keimanan,  maka mereka tidak mendapatkan sesuatu apapun justru mereka rugi karena kehilangan Hidayah. Dan  inilah kerugian nyata.

Tafsir Al-Aisar

Makna kata :
تِّجَٰرَتُهُمۡ At-Tijaroh adalah membayarkan modal untuk membeli sesuatu yang menghasilkan laba ketika dijual. Orang munafik menjual modal mereka yaitu keimanan untuk membeli kekufuran dengan harapan mendapatkan kemuliaan dan kekayaan di dunia. Akan tetapi mereka merugi dan tidak menghasilkan laba apapun, hanya mendapat kehinaan, adzab, dan kemiskinan karena kekufuran yang dilakukannya.
Al-Muhtadiy adalah orang yang menempuh jalan lurus yang menghantarkan untuk mencapai apa yang diinginkannya dalam waktu yang singkat tanpa terjatuh dalam kesesatan, sedangkan kebalikannya adlah orang yang menempuh jalan yang bengkok tidak menghantarkan kepada yang diinginkan sampai mereka hancur sebelum mencapai tujuan.

Makna ayat :
Kemudian ayat selanjutnya (16) Allah memberitahukan bahwa mereka orang-orang yang dijauhkan dari kebaikan sudah menukar keimanan dengan kekufuran, dan sudah merasa ikhlas dengan kemunafikan. Oleh karena itu perdagangan mereka tidak menghasilkan untung dan tidak bisa menunjukki kepada jalan yang penuh keuntungan atau keselamatan.

Pelajaran dari ayat :
Penjelasan mengenai pembalasan Allah terhadap musuh-musuhNya.

Tafsir Hidayatul Insan

Mereka membeli kekafiran dengan iman; membeli kesesatan dengan petunjuk, sehingga mereka tidak memperoleh apa-apa, bahkan hanya memperoleh kerugian karena tidak mendapat petunjuk dan akan membawanya kepada neraka, yang demikian itulah kerugian yang sesungguhnya. Jika seorang membeli uang satu dirham dengan harga satu dinar atau mengeluarkan modal untuk usaha sejumlah sepuluh juta sisanya tinggal satu juta tanpa keuntungan sudah dianggap rugi, lalu bagaimana dengan orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, membeli kekafiran dengan keimanan dan membeli kesengsaraan dengan kebahagiaan, alangkah ruginya perdagangan itu.

Tafsir Kemenag

Mereka itulah orang-orang yang jauh dari kebenaran yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Sikap mereka yang memilih kesesatan dan mengabaikan kebenaran diumpamakan seperti pedagang yang memilih barang-barang rusak untuk dijual dalam perdagangannya. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung. Jangankan untung yang didapat, modal pun hilang. Dan mereka tidak mendapat petunjuk yang dapat mengantarkan kepada kebenaran, sebab yang ada pada mereka hanyalah kesesatan. Perumpamaan keadaan mereka orang-orang munafik yang sungguh mengherankan itu seperti keadaan yang aneh dari orang-orang yang menyalakan api. Setelah api itu menerangi apa-apa yang ada di sekelilingnya dan memberikan kehangatan, rasa nyaman, dan manfaat lainnya bagi mereka, tiba-tiba Allah melenyapkan cahaya yang menyinari mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan yang kelam, tidak dapat melihat suatu apa pun. Allah telah memberikan kepada mereka petunjuk kebenaran, tetapi mereka tidak berpegang teguh pada petunjuk tersebut, sehingga mata mereka menjadi tertutup, dan mereka pantas berada dalam kebimbangan dan kesesatan.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018