Surat An-Nasr Ayat 1

Text Bahasa Arab dan Latin

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,

Tafsir Al-Mukhtashar

Tujuan Surat;
Penjelasan akhir Islam adalah dengan kemenanagan, apa yang disyariatkan ketika menang, sebagaimana ini adalah isyarat dekatnya ajal Nabi

Tafsir
1. Jika pertolongan Allah datang kepada agamamu –Wahai Rasul- dan kecintaan baginya serta penaklukan kota Makkah telah terjadi.

Tafsir Al-Muyassar

Bila kemenangan atas orang orang kafir quraisy telah terwujud bagimu (wahai rasul), dan penaklukan kota Makkah telah terlaksana.

Tafsir Hidayatul Insan

Dalam surah ini terdapat kabar gembira, perintah kepada Rasul-Nya ketika memperoleh kabar gembira itu, isyarat dan pemberitahuan yang akan terjadi setelahnya.

Kabar gembira itu adalah pertolongan Allah kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, penaklukkan Mekah dan masuknya manusia secara berbondong-bondong kepada agama Allah, yakni banyak yang menjadi pemeluk agamnya dan pengikutnya setelah sebelumnya sebagai musuhnya, dan kabar gembira ini pun terjadi. Setelah hal itu terjadi, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersyukur kepada Tuhannya terhadap hal itu, bertasbih dengan memuji-Nya dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan isyarat yang ada di sana ada dua isyarat:

Pertama, isyarat bahwa pertolongan Allah itu akan terus berlanjut kepada agama ini dan akan bertambah ketika dilakukan tasbih sambil memuji-Nya dan beristighfar dari Beliau, karena hal ini termasuk syukur, sedangkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah berjanji, bahwa jika manusia bersyukur, maka Dia akan menambah nikmat-Nya, dan hal ini terbukti, seperti yang terlihat di zaman para khulafa’ raasyidin dan setelahnya bahwa pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta'aala senantiasa berlanjut kepada umat ini, sehingga agama Islam telah sampai kepada puncaknya yang tidak dapat ditandingi oleh agama-agama selainnya, dan telah masuk ke dalamnya manusia dalam jumlah yang banyak sampai terjadilah pada umat ini penyimpangan kepada perintah Allah, maka Allah menguji mereka dengan terpecah belahnya kalimat mereka dan terjadilah apa yang terjadi. Meskipun demikian, untuk umat dan agama ini ada rahmat dan kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang tidak disangka-sangka.

Kedua, isyarat bahwa ajal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah semakin dekat. Alasannya adalah bahwa umur Beliau adalah umur yang utama, dan sudah maklum bahwa hal-hal yang utama ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dsb. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam memuji dan beristighfar dalam keadaan seperti ini sehingga terdapat isyarat bahwa ajalnya hampir tiba, oleh karena itu hendaknya Beliau bersiap-siap untuk bertemu Tuhannya dan mengakhiri umurnya dengan yang paling utama yang dapat Beliau lakukan. Oleh karena itulah, Beliau menakwilkan surah itu dan banyak mengucapkan dalam ruku’ dan sujudnya, “Subhaanakallahumma wabihamdika Allahummaghfirliy.” (artinya: Mahasuci Engkau yang Allah dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).

Kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap musuh-musuhnya.

Yakni fat-hu (penaklukkan) Mekah.

Tafsir Kemenag

Wahai nabi Muhammad, apabila telah datang pertolongan Allah kepadamu dan pengikutmu dalam menghadapi kaum kafir quraisy, dan telah datang pula kemenangan kepadamu dengan penaklukan mekah menjadi kota yang suci kembali dari kesyirikan dan kekafiran, 2. Dan engkau lihat manusia dari seluruh penjuru jazirah arab berbondong-bondong masuk agama Allah, yakni agama islam, setelah sebelumnya mereka masuk islam secara perorangan, .

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018