Surat Al-Lail Ayat 10

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

Tafsir Al-Mukhtashar

10. Maka akan kami mudahkan ia untuk melakukan amalan keburukan, dan kami sulitkan untuk beramal kebaikkan.

Tafsir Al-Muyassar

Maka kami akan memudahkan baginya sebab-sebab kesengsaraan,

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesengsaraan dan kebinasaan, karena sesunguhnya segala sesuatu telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya, dan ini merupakan bagian dari keimanan kepada Qada' dan Qadar, ayat ini juga menjelaskan bahwasanya seorang hamba tidak mencukupkan dirinya tidak hanya berserah diri diatas Qada' dan Qadar, tetapi dia juga harus melakukan dan mengambil sebab-sebab yang dapat membawanya kepada hidayah Allah, maka seseorang tidak boleh mengatakan : aku ikut dengan Qada' dan Qadar saja, karena pernyataan itu adalah mazhab kelompok sesat "Al Jabriya" dari golongan "Al Jahmiyah dan yang sependapat dengan mereka.

Sedangkan madzhab Ahlussunah waljamaah : mereka mengimani ketetapan Qada' dan Qadar Allah, akan tetapi mereka juga menjalankan sebab-sebab yang mengantarkan kepada kebaikan yang telah ditatapkan dalam Qada' dan Qadar itu, dan tidak hanya sekedar mencukupkan dirinya dengan taqdir itu.

Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ bersabda : (( عَنْ عَلِىٍّ - رضى الله عنه - قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ . )) rtinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:

{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 5 - 7]
Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.

Pada ayat diatas bantahan terhadap Al Jabriyah yang hanya bersandar kepada Qada dan Qadar, danjuga bantahan terhadap Al-Murji'ah yang meniadakan perintah amal, dan mereka mengatakan : cukuplah iman dalam hati dan tidak ada paksaan bagi siaapun untuk melakukan amal. Dan Ahlusunnah dalam hal ini mengabungkan antara iman kepada Qada' dan Qadar dengan kewajiban beramal dengan amalan yang bermanfaat, dan meningalkan segala hal yang membahayan iman dan diri hamba, dan inilah jalan yang benar.

Tafsir Hidayatul Insan

Yaitu neraka. Menurut Syaikh As Sa’diy, maksudnya adalah keadaan yang sulit dan perkara yang tercela, yaitu mudah jatuh ke dalam keburukan dimana saja ia berada dan ditetapkan untuk melakukan berbagai kemaksiatan, nas’alulllahal ‘aafiyah.

Tafsir Kemenag

8-10. Dan adapun orang yang kikir terhadap hartanya dengan tidak memenuhi hak Allah dalam harta itu dan merasa dirinya cukup dengan apa yang dia punya sehingga tidak lagi memerlukan pahala dari Allah tidak mau beramal untuk kehidupan akhiratnya, serta mendustakan pahala yang terbaik, yaitu surga di akhirat; atau ingkar kepada Allah, hari akhir, dan apa yang Allah janjikan kepada mereka yang beramal saleh sehingga dia senantiasa melakukan maksiat, maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran dan kesengsaraan. Kami tutup hatinya dari keinginan untuk berbuat kebajikan dan kami tahan langkahnya untuk taat kepada kami. 11. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa dalam kemurkaan Allah. Allah tidak membutuhkan harta sebanyak apa pun. Hanya iman dan ketaatan, bukan harta, yang menyelamatkan seseorang dari azab Allah.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018