Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al-Buruj Ayat 8

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Arab-Latin: Wa mā naqamụ min-hum illā ay yu`minụ billāhil-'azīzil-ḥamīd

Terjemah Arti: Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

1-9. Allah bersumpah dengan langit yang memiliki orbit orbit yang dilewati oleh beredarnya matahari dan rembulan, Dan juga dengan hari kiamat yang Allah janjikan kepada manusia akan mengumpulkan mereka padanya, Dengan saksi yang bersaksi dan yang disaksikan. Allah bersumpah dengan apa yang dia kehendaki dari makhluk-makhlukNYA, adapun makhluk, mereka tidak boleh bersumpah dengan selain Allah, karena bersumpah dengan selain Allah adalah syirik, Bahwa dilaknat orang-orang yang membuat parit-parit besar di bumi untuk menyiksa orang orang beriman, Mereka menyalakan api yang besar pada parit-parit itu, Manakala mereka duduk ditepi parit-parit dan tidak meninggalkannya. Mereka hadir menyaksikan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang beriman, berupa hukuman dan siksaan. Mereka itu tidak menyiksa orang orang beriman dengan siksa yang berat itu kecuali karena orang-orang beriman itu beriman kepada Allah yang maha perkasa yang tidak terkalahkan, maha terpuji dalam perkataan,perbuatan dan sifat sifatNYA, Pemilik langit dan bum, dan Allah maha menyaksikan segala sesuatu,tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

8. Dan tidak ada yang dicela oleh orang-orang kafir itu terhadap orang-orang yang beriman kecuali karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Yang tidak ada suatupun yang bisa mengalahkan-Nya, Yang Maha Terpuji pada setiap urusan.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

8. وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِاللَّـهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji)
Yakni hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Terpuji dalam segala hal. Orang-orang kafir itu tidak mengingkari kesalahan orang-orang beriman itu kecuali keimanan mereka.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

8. Dan lebih mengherankan lagi, alasan mereka disiksa adalah karena orang-orang mukmin itu beriman kepada ke-Esaan Allah

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

7-9. Mereka orang-orang kafir menyaksikan atas apa yang mereka perbuat kepada orang-orang mukmin. Mereka orang-orang mukmin tidak mengingkari dan tidak pula mencela mereka (orang-orang kafir) kecuali mereka membenarkan (janji) Allah yang terpuji terhadap setiap keadaan (yang menimpa mereka), dimana Allah yang memiliki kerajaan baik di langit maupun di bumi, Ia berkuasa atas keduanya dengan apa yang Ia kehendaki, dan menghukumi sesuai dengan apa yang Ia inginkan, dan Allah menjadi saksi atas segala sesuatu. Tidak akan tersembunyi akan kelakuan mereka para thaghut (yang melampaui batas), yang dzalim dengan siapa yang beriman kepada Allah dan yang mengikuti petunjuk-Nya. Itulah kejahatan mereka dan dosa mereka (yang menghabisi) siapa yang tunduk dan beriman kepada Allah. Seperti inilah pertimbangan mereka (orang-orang fasiq), mereka menginginkan sifat terpuji dan kebaikan (dari orang-orang beriman) menjadi sebuah keburukan.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Ayat 4-9
“Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit.” Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu, Allah melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, “Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit.” Kemudian Allah menjelaskan parit yang dimaksud denagn FirmanNya, “Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidaklah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka, “beriman kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji,” yakni yang memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. “Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi,” sebagai pencipta dan yang disembah, serta manusia yang diperlakukan sesuai kehendakNya. “Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu,” secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, sesungguhnya orang-orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di

Dan tidaklah mereka menyiksa orang-orang beriman melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah ﷻ, dan apakah pada keimanan orang mukmin itu ada aib dan keburukan yang harus disembunyikan dari kehidupan mereka ? , sungguh tidak ada sebab yang menjadikan mereka menyiksa orang-orang beriman kecuali iman yang ada dalam diri orang beriman itu. Oleh sebab itu peringatan keras dari Allah ﷻ untuk mereka bahwa sedikitpun mereka tidak akan lolos dari siksaan Allah diakhirat nanti.

{ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ } Yang berhak dipuji dalam segala hal ﷻ, apapun yang terjadi di alam ini apakah itu peristiwa baik maupun peristiwa buruk Allah ﷻ tetap harus dipuji dan agungkan, karena sesungguhnya Allah ﷻ tidak menciptakan sesuatu apapun di dunia ini melainkan ada hikamah dibaliknya, bahkan pada hal yang buruk pun ada hikmah dibalik penciptaannya, atau mungkin keburukan itu sebagai ujian bagi hamba-Nya ﷻ, Allah akan tatap selalu dipuji disetiap keadaan, apakah itu pujian atas kekuasaan-Nya maupun atas syariat yang Dia wajibkan atas hamba-Nya, atau pujian atas semua kehendak-Nya.

Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan

وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوْا بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,” Maknanya: Tidaklah yang diingkari oleh orang orang yang menyalakan api tersebut untuk dibakar ke tubuh-tubuh orang-orang yang beriman melainkan karena mereka beriman kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوْا بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ “melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,”

Ini adalah menegaskan celaan dengan ungkapan yang menyerupai pujian, karena keimanan kepada Allah bukanlah untuk diingkari. Karena (hakikatnya) pengingkaran mereka (kepada orang-orang beriman) yang seharusnya diingkari. Karena orang yang beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji wajib ditolong dan dibantu juga dipermudah jalannya. Sedangkan ditahan dan dihalangi sampai-sampai dibakar dengan api maka tidak diragukan lagi bahwa ini adalah perbuatan yang amat sangat melampaui batas. Ini bukanlah kemungkaran yang dilakukan mereka (orang yang dibakar), tetapi mereka terpuji dengannya karena mereka beribadah kepada sesuatu yang memang berhak diibadahi yaitu Allah Jalla Wa ‘Ala, yang menciptakan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya. Maka siapa saja yang beribadah kepada-Nya maka ia telah menyadari hikmah dari penciptaannya dan telah memberikan ibadah sesuai dengan haknya.

Firman-Nya: إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ “melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, ”Al-Aziz (Maha Perkasa) adalah yang mengalahkan, tidak ada seorang pun yang mengalahkan-Nya. Dia-lah Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang memiliki kemenangan dan keperkasaan atas semua orang juga menguasainya. Saat orang-orang munafiq mengatakan: لَئِنْ رَجَعْنَا ِإلَى الْمَدِيْنَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا اْلأَذَلّ “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya ” Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman : وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. ”
Firman-Nya: الْحَمِيْدِ [al-Hamid; Maha Terpuji] artinya adalah yang Maha Terpuji. Allah Subhaanahu wa Ta’ala terpuji di segala keadaan, dan termasuk petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa wasalla bahwa apabila datang kepada beliau perkara yang menggembirakannya beliau mengucapkan: اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Alhamdulillaahi lladzii bini’matihi tatimmu shshaalihaat“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat dari-Nya lah kebaikan-kabaikan akan sempurna” dan jika datang kebaliaknnya beliau mengucapkan: اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ Alhamdulillaahi ‘alaa kulli haalin “Segala puji bagi Allah bagaimana pun keadaannya” (1)
dan inilah yang semestinya diucapkan seorang insan ketika ia ditimpa yang dibenci “Alhamdulillaahi ‘ala kulli haalin” Adapun yang diucapkan oleh sebagian orang Alhamdulillaahi llaadzi laa yuhmadu ‘ala makruuhin siwaahu “ segala puji bagi Allah yang tidak dipuji atas keburukan kecuali Dia” maka itu menyelisihi apa-apa yang datang dari sunnah, sebagaimana Nabi ‘alaihissholaatu wassalaam mengucapkan “Alhamdulillaahi ‘ala kulli haalin”. Sedangkan jika anda mengatakan: Alhamdulillaahi llaadzi laa yuhmadu ‘ala makruuhin siwaahu “ segala puji bagi Allah yang tidak dipuji atas keburukan kecuali Dia” Maka seakan-akan anda menampakkan bahwa anda membenci kepada apa-apa yang telah Allah takdirkan kepada Anda. Ini tidak pantas, namun yang wajib adalah seorang hendaknya bersabar atas apa yang telah Allah takdirkan untuknya baik yang buruk dan yang baik baginya. Karena perkara yang telah Allah ‘Azza Wa Jalla takdirkan, Dia adalah Rabbmu dan anda adalah hamba-Nya, Dia adalah pemilikmu dan anda adalah milik-Nya. Jika Allah yang telah menakdirkan sesuatu yang engkau benci maka janganlah berkeluh kesah. Kewajiban anda adalah bersabar dan tidak murka baik dengan hatimu, atau dengan lisanmu atau dengan anggota badanmu, bersabarlah dan bertahanlah, karena perkaranya akan pergi, sedangkan kondisi tidak pernah ada perubahan itu adalah mustahil.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً “Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, dan kelapanga bersama kesulitan, dan bahwa bersama setiap kesulitan ada kemudahan” (2) Allah Azza Wa Jalla terpuji di setiap keadaan baik dalam kesenangan mau pun dalam kesempitan, karena jika Allah menakdirkan kesenangan maka itu adalah ujian dan cobaan. Allah Ta’ala berfirman: وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). ” (QS. Al-Anbiya: 35)

Ketika Sulaiman melihat singga sana Bilqis ada di hadapannya ia berkata: هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ “Ini termasuk kurnia Rabb-ku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur ” (QS. An-Naml: 40)
Jika anda memperoleh kenikmatan maka janganlah anda anggap ia nikmat semata-mata sehingga menjadikan anda senang dan riang gembira, ia adalah kenikmatan tanpa diragukan. Tetapi ketahuliah bahwa anda diuji dengannya apakah anda menunaikan kesyukuran terhadap nikmat itu atau tidak, jika anda tertimpa kesulitan maka bersabarlah maka sungguh itu juga adalah cobaan dan ujian dari Allah Azza Wa Jalla dalam rangka mengujimu apakan anda bersabar ataukah tidak, jika anda bersabar dan berharap memperoleh pahala maka sesungguhnya Allah berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “ Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. ”(QS. Az-Zumar: 10)

Firman Allah Ta’ala الْحَمِيْدِ [al-Hamid; Maha Terpuji] boleh juga berarti bahwa Allah yang memuji. Sesungguhnya Allah subhaanahu wa Ta’ala memuji orang yang berhak dipuji, Dia memuji hamba-hamba-Nya dari nabi-nabi, utusan-utusan-Nya dan orang-orang saleh. Sanjungan kepada mereka adalah pujian baik bagi mereka. Maka Allah Jalla wa ‘Ala adalah yang memuji dan juga yang dipuji. Telah datang dari Nabi ‘alaihisshalaatu wassalaam beliau bersabda: إِنَّ اللهَ يَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ يَأْكُلُ اْلأَكَلَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا وَيَشْرَبُ الشُّرْبَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا “Sesungguhnya Allah ta’ala ridha terhadap seorang hamba yang memakan makanan lalu ia memuji-Nya atas nikmat makanan itu dan meminum meminum minuman lalu ia memuji-Nya atas nikmat minuman itu” (3) Karena, kalau bukan karena Allah memudahkan anda memperoleh makan dan minuman maka anda tidak mungkin mendapatkannya.

Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ (63) أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ "Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? ” Allah Bertanya kepada kita: Kalian yang menumbuhkannya atau kami yang menumbuhkan? Jawabannya: Tentu engkau wahai Rabb kami لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا “Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering ” Setelah tanaman itu muncul dan diri-diri manusia sudah mengharapkannya, Allah menjadikannya hancur dan kering. Ungkapan dalam ayat itu tidak datang dengan: Kalau saja kami kehendaki kami tidak akan menumbuhkannya, karena dengan kondisi telah muncul tumbuh sehingga diri-diri manusia berharap keoadanya kemudian ia menjadi kering dan hancur. Itu akan lebih menyayat hati daripada tidak tunbuh sama sekali. لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ (65) إِنَّا لَمُغْرَمُونَ (66) بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ "Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang. (Sambil berkata): "Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian",bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa. ” ،Kemudian Allah menyebutkan minuman, Allah berfirman: أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? ” Jawabannya: Tentu engkau wahai Rabb kami. لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا “Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, ” Maknanya: Menjadi asin tidak jernih yang tidak bisa diminum manusia فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ ”maka mengapakah kamu tidak bersyukur? ” Yakni: Tidakkah kalian mau bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Dalam ayat ini ungkupannya tidak begini: Andai saja kami kehendaki maka kami tidak menurunkannya dari atas. Kerena jika saja air itu turun kemudian tidak dapat diminum itu akan lebih menyakitkan dibandingkan jika tidak turun sama sekali, maka perhatikanlah al-Quran al-Karim maka anda akan mendapatkan di dalamnya hikmah yang begitu banyak.

(1) Dikeluarkan Ibn Hibban (3803) dari hadits Aisyah dan dinyatakan shahih oleh AL-Albaniy dalam shahihuljaami’ (4728)
(2) Dikeluarkan Ahmad (2700) dari hadits Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma dan dinyatakan shahih oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shahihah: 2382
(3) Dikeluarkan Muslim (2734) dari hadits Anas Bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.

Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Yang dengan keperkasaan-Nya Dia tundukkan segala sesuatu.

Dia Maha Terpuji dalam ucapan-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Ibnu Katsir menerangkan, bahwa para mufassir berbeda pendapat tentang siapakah mereka ini? Menurut ‘Ali, bahwa mereka adalah penduduk Persia ketika Raja mereka bermaksud menghalalkan pernikahan dengan mahramnya, maka para ulama mereka menentangnya, maka Raja pun membuatkan parit serta melemparkan ke dalamnya orang-orang yang menentangnya. Menurut Ibnu Abbas, bahwa mereka adalah orang-orang dari Bani Israil yang membuat parit di bumi lalu menyalakan api di situ, kemudian mereka hadapkan kaum laki-laki dan wanita ke parit itu. Menurutnya, bahwa mereka itu adalah Danial dan kawan-kawannya. Ada pula yang berpendapat selain ini.

Imam Muslim meriwayatkan dari Shuhaib, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِكِ إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلَامًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلَامًا يُعَلِّمُهُ فَكَانَ فِي طَرِيقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلَامَهُ فَأَعْجَبَهُ فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فَقَالَ إِذَا خَشِيتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِي أَهْلِي وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ حَبَسَنِي السَّاحِرُ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيمَةٍ قَدْ حَبَسَتْ النَّاسَ فَقَالَ الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمْ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ فَأَخَذَ حَجَرًا فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ حَتَّى يَمْضِيَ النَّاسُ فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا وَمَضَى النَّاسُ فَأَتَى الرَّاهِبَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ أَيْ بُنَيَّ أَنْتَ الْيَوْمَ أَفْضَلُ مِنِّي قَدْ بَلَغَ مِنْ أَمْرِكَ مَا أَرَى وَإِنَّكَ سَتُبْتَلَى فَإِنْ ابْتُلِيتَ فَلَا تَدُلَّ عَلَيَّ وَكَانَ الْغُلَامُ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَيُدَاوِي النَّاسَ مِنْ سَائِرِ الْأَدْوَاءِ فَسَمِعَ جَلِيسٌ لِلْمَلِكِ كَانَ قَدْ عَمِيَ فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيرَةٍ فَقَالَ مَا هَاهُنَا لَكَ أَجْمَعُ إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِي فَقَالَ إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللَّهُ فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللَّهِ دَعَوْتُ اللَّهَ فَشَفَاكَ فَآمَنَ بِاللَّهِ فَشَفَاهُ اللَّهُ فَأَتَى الْمَلِكَ فَجَلَسَ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ يَجْلِسُ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَنْ رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ قَالَ رَبِّي قَالَ وَلَكَ رَبٌّ غَيْرِي قَالَ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الْغُلَامِ فَجِيءَ بِالْغُلَامِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ أَيْ بُنَيَّ قَدْ بَلَغَ مِنْ سِحْرِكَ مَا تُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ فَقَالَ إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللَّهُ فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الرَّاهِبِ فَجِيءَ بِالرَّاهِبِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ فَأَبَى فَدَعَا بِالْمِئْشَارِ فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِيءَ بِجَلِيسِ الْمَلِكِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ فَأَبَى فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ بِهِ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِيءَ بِالْغُلَامِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ فَأَبَى فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى جَبَلِ كَذَا وَكَذَا فَاصْعَدُوا بِهِ الْجَبَلَ فَإِذَا بَلَغْتُمْ ذُرْوَتَهُ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ وَإِلَّا فَاطْرَحُوهُ فَذَهَبُوا بِهِ فَصَعِدُوا بِهِ الْجَبَلَ فَقَالَ اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ فَرَجَفَ بِهِمْ الْجَبَلُ فَسَقَطُوا وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيهِمُ اللَّهُ فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اذْهَبُوا بِهِ فَاحْمِلُوهُ فِي قُرْقُورٍ فَتَوَسَّطُوا بِهِ الْبَحْرَ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ وَإِلَّا فَاقْذِفُوهُ فَذَهَبُوا بِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ فَانْكَفَأَتْ بِهِمْ السَّفِينَةُ فَغَرِقُوا وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيهِمُ اللَّهُ فَقَالَ لِلْمَلِكِ إِنَّكَ لَسْتَ بِقَاتِلِي حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ قَالَ وَمَا هُوَ قَالَ تَجْمَعُ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ وَتَصْلُبُنِي عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ خُذْ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِي ثُمَّ ضَعْ السَّهْمَ فِي كَبِدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قُلْ بِاسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلَامِ ثُمَّ ارْمِنِي فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِي فَجَمَعَ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ وَصَلَبَهُ عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ أَخَذَ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِهِ ثُمَّ وَضَعَ السَّهْمَ فِي كَبْدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلَامِ ثُمَّ رَمَاهُ فَوَقَعَ السَّهْمُ فِي صُدْغِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي صُدْغِهِ فِي مَوْضِعِ السَّهْمِ فَمَاتَ فَقَالَ النَّاسُ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ فَأُتِيَ الْمَلِكُ فَقِيلَ لَهُ أَرَأَيْتَ مَا كُنْتَ تَحْذَرُ قَدْ وَاللَّهِ نَزَلَ بِكَ حَذَرُكَ قَدْ آمَنَ النَّاسُ فَأَمَرَ بِالْأُخْدُودِ فِي أَفْوَاهِ السِّكَكِ فَخُدَّتْ وَأَضْرَمَ النِّيرَانَ وَقَالَ مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِينِهِ فَأَحْمُوهُ فِيهَا أَوْ قِيلَ لَهُ اقْتَحِمْ فَفَعَلُوا حَتَّى جَاءَتْ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا صَبِيٌّ لَهَا فَتَقَاعَسَتْ أَنْ تَقَعَ فِيهَا فَقَالَ لَهَا الْغُلَامُ يَا أُمَّهْ اصْبِرِي فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ.

“Ada seorang raja pada zaman sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah tua, ia berkata kepada si raja, “Sesungguhnya usiaku telah tua. Oleh karena itu, utuslah kepadaku seorang pemuda agar aku ajarkan sihir.” Maka diutuslah seorang pemuda yang kemudian diajarkannya sihir. Di jalan menuju tukang sihir itu terdapat seorang rahib (ulama). Pemuda itu mendatangi si rahib (ulama) dan mendengarkan kata-katanya. Si pemuda begitu kagum dengan kata-kata rahib. Oleh sebab itu, ketika ia pergi menuju tukang sihir, ia mampir dulu kepada si rahib sehingga (karena terlambat datang) tukang sihir itu memukulinya. Maka pemuda itu mengeluh kepada si rahib, lalu rahib itu menasihatinya dan berkata, “Jika kamu takut kepada pesihir, maka katakanlah, “Keluargaku menahanku. Dan jika kamu takut kepada keluargamu, maka katakanlah, “Tukang sihir menahanku.” Ketika keadaan seperti itu, ia bertemu dengan binatang besar yang menghalangi jalan manusia (sehingga mereka tidak bisa lewat). Maka si pemuda berkata, “Pada hari ini aku akan mengetahui, apakah si pesihir lebih utama ataukah si rahib (ulama).” Setelah itu, ia mengambil batu sambil berkata, “Ya Allah, jika perintah rahib (ulama) lebih Engkau cintai daripada perintah pesihir maka bunuhlah binatang ini, sehingga manusia bisa lewat.” Lalu ia melemparnya, dan binatang itu pun terbunuh dan orang-orang bisa lewat. Lalu ia mendatangi si rahib dan memberitahukan hal itu kepadanya. Rahib (ulama) berkata, “Wahai anakku, pada hari ini engkau telah menjadi lebih utama dari diriku. Urusanmu telah sampai pada tingkatan yang aku saksikan. Kelak, engkau akan diuji. Jika engkau diuji maka jangan tunjukkan diriku.” Selanjutnya, pemuda itu bisa menyembuhkan orang yang buta, sopak dan segala jenis penyakit. Alkisah, ada pejabat raja yang buta yang mendengar tentang si pemuda. Maka ia membawa hadiah yang banyak kepadanya sambil berkata, '”Apa yang ada di sini, aku kumpulkan untukmu jika engkau dapat menyembuhkan aku.” Pemuda itu menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seseorang. Yang menyembuhkan adalah Allah. Jika engkau beriman kepada Allah, maka saya akan berdoa kepada Allah, agar Dia menyembuhkanmu.” Lalu ia beriman kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya. Kemudian ia datang kepada raja dan duduk di sisinya seperti biasanya. Si raja berkata, ”Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” Ia menjawab, “Tuhanku.” Raja berkata, “Apakah kamu memiliki Tuhan selain diriku?” Ia menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka Raja menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada si pemuda. Pemuda itu pun didatangkan. Si raja berkata, “Wahai anakku, sihirmu telah sampai pada tingkat kamu bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan kamu bisa berbuat ini dan itu.” Si pemuda menjawab, “Aku tidak mampu menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Lalu ia pun ditangkap dan terus disiksa sehingga ia menunjukkan kepada rahib (ulama). Maka rahib (ulama) itu pun didatangkan. Si raja berkata, “Kembalilah kepada agamamu semula!” Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan geregaji dan ia dibelah menjadi dua. Kepada pejabat raja yang (dulunya) buta juga dikatakan, “Kembalilah kepada agamamu semula!” Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan geregaji dan ia dibelah menjadi dua. Kepada si pemuda juga dikatakan, “Kembalilah kepada agamamu semula!” Ia menolak. Lalu ia diserahkan kepada beberapa orang untuk dibawa ke gunung ini dan itu. (Sebelumnya) si raja berkata, “Ketika kalian telah sampai pada puncak gunung maka jika ia kembali kepada agamanya (biarkanlah dia). Jika tidak, maka lemparkanlah dia!” Mereka pun berangkat. Ketika sampai di puncak gunung, si pemuda berdoa, 'Ya Allah, jagalah diriku dari mereka, sesuai dengan kehendak-Mu.” Tiba-tiba gunung itu mengguncang mereka, sehingga semuanya terjatuh. Lalu si pemuda datang sampai bertemu raja kembali. Raja berkata, “Apa yang terjadi dengan orang-orang yang bersamamu?” Ia menjawab, “Allah menjagaku dari mereka.” Lalu ia diserahkan kepada beberapa orang dalam sebuah perahu. Raja berkata, “Bawalah dia dan angkut ke dalam sebuah kapal. Jika kalian berada di tengah lautan (maka lepaskanlah ia) jika kembali kepada agamanya semula. Jika tidak, lemparkanlah dia ke laut.” Si pemuda berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku dari mereka, sesuai dengan kehendak-Mu.” Akhirnya perahu terbalik dan mereka semua tenggelam (kecuali si pemuda). Si pemuda datang lagi kepada raja. Si raja berkata, “Apa yang terjadi dengan orang-orang yang bersamamu?” Ia menjawab, “Allah menjagaku dari mereka.” Lalu si pemuda berkata, “Wahai raja, kamu tidak akan bisa membunuhku sehingga kamu melakukan apa yang kuperintahkan.“ Raja bertanya, “Apa perintah itu?” Si pemuda menjawab, “Kamu kumpulkan orang-orang di satu lapangan yang luas, lalu kamu salib aku di batang pohon. Setelah itu, ambillah anak panah dari wadah panahku, dan letakkanlah panah itu di tengah busurnya kemudian ucapkanlah, 'Bismillahi rabbil ghulam (dengan nama Allah; Tuhan si pemuda).” Maka raja memanahnya dan anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di bagian yang terkena panah lalu ia meninggal dunia. Maka orang-orang berkata, “Kami beriman kepada Tuhan si pemuda. Kami beriman kepada Tuhan si pemuda. Lalu raja didatangi dan diberitahukan, “Tahukah engkau, sesuatu yang selama ini engkau takutkan?” Demi Allah, sekarang telah tiba, semua orang telah beriman.” Lalu ia memerintahkan membuat parit-parit di beberapa pintu jalan, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Raja pun menetapkan, “Siapa yang kembali kepada agamanya semula, maka biarkanlah dia. Jika tidak, maka bakarlah dia di dalamnya,” atau raja berkata, “Masukkanlah.” Maka orang-orang pun melakukannya (masuk ke dalam parit dan menolak murtad). Hingga tibalah giliran seorang wanita bersama anaknya. Sepertinya, ibu itu enggan untuk terjun ke dalam api. Lalu anaknya berkata, “Bersabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, Nasa'i dan Tirmidzi. Ibnu Ishaq memasukkannya dalam As Sirah dan disebutkan bahwa nama pemuda itu adalah Abdullah bin At Taamir)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ar Rabii’ bin Anas tentang firman Allah Ta’ala, “Binasalah orang-orang yang membuat parit.” Ia berkata, “Kami mendengar, bahwa mereka adalah orang-orang yang berada di zaman fatrah (kekosongan nabi). Ketika mereka melihat fitnah dan keburukan yang menimpa manusia saat itu sehingga manusia ketika itu terbagi menjadi beberapa golongan, dimana masing-masing golongan bangga dengan apa yang ada padanya, maka mereka mengasingkan diri ke suatu negeri dan beribadah kepada Allah di sana dengan ikhlas. Demikianlah keadaan mereka, sehingga terdengarlah berita mereka oleh salah seorang penguasa kejam, lalu penguasa kejam ini mengirimkan orang-orang untuk memerintahkan mereka menyembah berhala yang disembahnya, namun mereka semua menolak dan berkata, “Kami tidak akan menyembah kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya.” Maka penguasa itu berkata kepada mereka, “Jika kamu tidak mau menyembah sesembahan ini, maka aku akan membunuh kalian.” Mereka tetap tidak mau menyembahnya, maka penguasa itu membuatkan parit yang berisi api, dan berkata kepada mereka setelah mereka dihadapkan kepadanya, “Pilih ini atau mengikuti kami.” Mereka menjawab, “Ini lebih kami sukai.” Ketika itu, di antara mereka ada kaum wanita dan anak-anak, dan anak-anak pun kaget, maka orang tua mereka berkata kepada anak-anak, “Tidak ada lagi api setelah ini.” Maka mereka pun masuk ke dalamnya, dan ruh mereka pun dicabut lebih dahulu sebelum tersentuh panasnya. Kemudian api itu keluar dari tempatnya lalu mengelilingi orang-orang yang kejam itu dan Allah membakar mereka dengannya. Tentang itulah, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Binasalah orang-orang yang membuat parit. Sampai ayat, “Yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Terj. Al Buruuj: 4-9).” (HR. Ibnu Abi Hatim, dan Muhammad bin Ishaq meriwayatkan kisah As-habul Ukhdud dengan susunan yang lain, dan bahwa hal itu terjadi pada Abdullah bin At Taamir dan kawan-kawannya yang beriman di Najran, wallahu a’lam.)

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Dan mereka yang kafir dan zalim tersebut menyiksa dan membantai orang-orang mukmin itu hanya karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang mahaperkasa, maha terpuji. 9. Dialah tuhan yang memiliki kerajaan langit dan bumi; dan Allah maha menyaksikan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta karena semua itu masuk dalam wilayah kekuasaan-Nya. Allah menyaksikan perbuatan orang mukmin dan kafir untuk memberi mereka balasan yang sesuai.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Al-Buruj Ayat 9 Arab-Latin, Surat Al-Buruj Ayat 10 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Al-Buruj Ayat 11, Terjemahan Tafsir Surat Al-Buruj Ayat 12, Isi Kandungan Surat Al-Buruj Ayat 13, Makna Surat Al-Buruj Ayat 14

Category: Surat Al-Buruj

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!