Surat Al-Insyiqaq Ayat 25

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ

Arab-Latin: Illallażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti lahum ajrun gairu mamnụn

Artinya: Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.

« Al-Insyiqaq 24Al-Buruj 1 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Tafsir Mendalam Berkaitan Surat Al-Insyiqaq Ayat 25

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Insyiqaq Ayat 25 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada berbagai tafsir mendalam dari ayat ini. Didapatkan berbagai penjabaran dari beragam pakar tafsir terkait makna surat Al-Insyiqaq ayat 25, di antaranya sebagaimana berikut:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Akan tetapi orang orang yang beriman kepada Allah dan rasul NYA, serta menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka, bagi mereka pahala di akhirat yang tidak terputus dan tidak dikurangi.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

25. Kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus, yaitu Surga.


📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

24. فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih)
Allah menjadikan azab itu sebagai kabar gembira, untuk mengolok mereka.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

25. Akan tetapi, orang-orang yang beriman kepada Allah, rasul-Nya, dan kedatangan hari kiamat, serta menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, akan ditetapkan kepada mereka pahala yang tidak terpotong, tidak berkurang


📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Bagi merekalah pahala yang tidak putus-putus} tidak terputus-putus dan tidak pula berkurang.


📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur’an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka “mereka beriman dan beramal shalih,” sehingga “bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya,” yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak manusia.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 16-25
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa mereka berkata “asy-syafaq” adalah awan merah
“Asy-syafaq” adalah merahnya warna cakrawala yang adakalanya hal ini terjadi sebelum terbitnya matahari dan adakalanya setelah tenggelamnya matahari, sebagaimana yang diketahui di kalangan ahli bahasa
Dalam hadits shahih Muslim, dari Abdullah bin Amr, dari Rasulallah SAW bahwa beliau bersabda,”waktu Maghrib selama sinar merah belum tenggelam”
Tetapi yang benar pendapat dari Mujahid bahwa dia berkata tentang firmanNya: (Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja (16)) itu adalah seluruh siang. Dalam riwayat lain darinya, bahwa “asy-syafaq” adalah matahari. Dan sesungguhnya hal yang mendorong Mujahid mengatakan demikian adalah karena dia membandingkan dengan firmanNya: (dan dengan malam dan apa yang diselubunginya (17)) yaitu menggabungkan, seakan-akan menurutnya Allah bersumpah dengan menyebut cahaya dan kegelapan.
Ibnu Jarir berkata bahwa Allah bersumpah dengan menyebut siang hari yang pergi dan malam hari yang datang.
Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan Qatadah berkata tentang firmanNya, (Wama wasaq) yaitu apa yang dihimpunkan
Qatadah berkata bahwa maknanya adalah bintang-bintang dan hewan-hewan yang dihimpunkan.
Ikrimah berkata tentang firmanNya: (dan dengan malam dan apa yang diselubunginya (17)) yaitu apa yang dikumpulkan karena kegelapannya, jika malam hari tiba, maka semua makhluk pulang ke tempat tinggalnya.
Firman Allah SWT: (dan dengan bulan apabila jadi purnama (18)) Ibnu Abbas berkata terhimpun dan terlihat sempurna. Demikian juga dikatakan Ikrimah, Mujahid, dan Ibnu Zaid.
(dan dengan bulan apabila jadi purnama (18)) yaitu, ketika sempurna. Al-Hasan berkata, ketika penuh. Qatadah berkata, ketika bundar. Makna pendapat mereka bahwa ketika bulan itu sempurna cahayanya, yang hal ini dijadikan sebagai lawan kata dari malam yang apabila gelap gulita.
Firman Allah SWT (sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (19)) Ibnu Abbas berkata tentang firmanNya: (sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (19)) yaitu keadaan demi keadaan. Lalu dia berkata bahwa demikianlah Nabi kalian SAW. Hal ini bisa ditafsirkan bahwa Ibnu Abbas menyandarkan tafsir ini dari Nabi SAW seakan-akan dia berkata,”Aku mendengar ini dari nabi kalian SAW. Maka perkataannya,”nabiyyukum” sebagai marfu’ menjadi fa’il dari “qaala”. Dan itu adalah yang paling jelas.
Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa Ibnu Abbas berkata tentang firmanNya: (sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (19)) dia berkata bahwa menurut Nabi kalian yaitu “keadaan demi keadaan”;.
Bisa juga ditafsirkan bahwa yang dimaksud oleh firmanNya: (sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (19)) adalah keadaan demi keadaan. Lalu disebutkan bahwa orang yang dimaksud adalah Nabi kalian. Maka, kata “nabiyyukum” dimarfu’ dengan ketentuan bahwa “haza” dan “nabiyyukum” merupakan mubtada’ dan khabar; hanya Allah yang lebih Mengetahui. Hal ini diperkuat dengan adanya bacaan Umar, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan sebagian besar ulama Makkah dan Kufah (latarkabanna) dengan difathah huruf ta’ dan ba’nya.
Kemudian Ibnu Jarir setelah mengemukakan pendapat semua ulama qiraat dan tafsir tentang ayat ini berkata bahwa penafsiran yang benar adalah pendapat orang yang berkata bahwa sesungguhnya kamu, wahai Muhammad akan melalui keadaan demi keadaan, dan urusan demi urusan yang berat. Makna yang dimaksud sekalipun khitabnya hanya ditujukan kepada Rasulullah SAW, tetapi pengertiannya mencakup semua manusia, bahwa mereka pada hari kiamat akan mengalami banyak penderitaan karena menghadapi keadaan-keadaan dan kengerian-kengeriannya.
Firman Allah SWT: (Mengapa mereka tidak mau beriman? (20) Dan apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud (21)) yaitu apakah yang menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah dan RasulNya serta hari akhir, dan mengapa mereka ketika Al-Qur'an yang merupakan ayat-ayat dan kalam Allah ini dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud menghormati dan mengagungkanNya?
Firman Allah SWT: (bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya) (22)) yaitu watak mereka yaitu mendustakan kebenaran, mengingkari dan menentang kebenaran (Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka) (23)) Mujahid dan Qatadah berkata bahwa mereka menyembunyikannya dalam dada mereka. (Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih (24)) yaitu maka beritahukanlah kepada mereka, wahai Muhammad, bahwa Allah SWT menyediakan bagi mereka azab yang pedih.
Firman Allah SWT: (Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh (25)) Ini merupakan isti'sna munqathi’, yaitu tetapi (orang-orang yang hatinya beriman) yaitu dengan hati mereka (dan beramal saleh) dengan seluruh anggota tubuh mereka (bagi mereka pahala) yaitu di akhirat (yang tidak putus-putusnya) Ibnu Abbas berkata bahwa maknanya adalah tidak dikurangi


📚 Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

{ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا } Akan tetapi orang-orang yang beriman kepada Allah ﷻ dengan hatinya dan mereka percaya hanya kepada-Nya, { وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ } dan mereka juga beriman kepada Allah dengan jiwa raga mereka yaitu dengan mengerjakan amal shalih, { لَهُمْ أَجْرٌ } bagi mereka balasan dari Tuhan mereka yang yang tidak diketahui jumlahnya melainkan hanya Allah ﷻ yang mengetahuinya, { غَيْرُ مَمْنُونٍ } yaitu nikmat yang tidak pernah terputus selamanya.

Didunia Allah ﷻ menganugerahkan kepada Hamba-Nya nikmat yang melimpah, akan tetapi kenikmatan itu bisa saja terputus, sedangkan penghuni surga nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada mereka tidak akan pernah terputus selamanya, kebahagiaan mereka akan terus terpancar diwajah mereka, semua itu karena ketaatan mereka kepada Allah ﷻ selama mereka hidup didunia.

Golongan manusia pertama telah kafir kepada Allah ﷻ dan balasan bagi mereka adalah azab yang amat sangat pedih, dan Allah ﷻ sama sekali tidak berbuat zholim kepada hamba-Nya, melainkan Dia ﷻ membalas perbuatan setiap hamba-Nya, dan Allah ﷻ telah menjelaskan kepada manusia selaku hamba mana jalan yang benar dan mana yang buruk, maka barangsiapa yang menginginkan kebaikan Allah akan menghendaki pula padanya kebaikan dan Allah akan selalu membimbingnya, dan barangsiapa yang menginginkan keburukan maka Allah ﷻ akan berlepas tangan darinya dan akan menjauh darinya, dan membiarkannya bersama keburukan yang dia kehendaki, dan para syaithon lah yang akan bersamanya dan menuntunnya dalam melakukan segala keburukan dan kemaksiatan.

Dan Allah ﷻ telah berfirman dalam Al-Qur'an : { فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ } ( Maka pada hari ( kiamat ) itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. ) [ Yaa Siin : 54 ] .


📚 Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ " Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya."[Illa: kecuali] di sini bermakan tetap, istitsnaa (pengecualian dalam ilmu nahwu) di sini munqhathi’, dan tidak bisa dijadikan sebagai istitsna muttasil, karena orang-orang yang beriman bukanlah orang-orang yang mendustakan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang beriman membenarkan. Istitsna munqathi’ adalah jika mustsna (yang dikecualikan) tidak sejenis dengan mustastna minhu. Maka ini adalah istitsaa munqathi’. Illa (kecuali) dimaknai dengan laakin (tetapi) . Maknanya: Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ganjaran yang tak terhitung, mereka adalah orang orang yang beriman dengan hati-hati mereka, dan dengan keimanan itu, mereka melakukan amalan saleh. Mereka itulah yang tidak akan memperoleh siksa tidak juga sedang menunggu siksa, bagi mereka pahala yang tidak terputus. Dikatakan juga: balasan yang tidak diiringi umpatan dan celaan.
Jika ditanya: Amalan shaleh seperti apa yang mendatangkan pahala?
Jawabannya: Yaitu amalan saleh yang mengumpulkan dua perkara:
Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. Yaitu dengan menginginkan dari amalannya itu kecuali wajah Allah ‘Azza Wa Jalla, mengharap ridha-Nya, mengharap pahala-Nya dan mengharap selamat dari neraka. Tidak menginginkan sesuatu berupa dunia beserta keindahannya. Karenanya para ulama mengatakan: Segala perbuatan yang bersifat ibadah tidak dibenarkan mengambil gaji darinya, seperti adzan, menjadi imam, membaca quran dan semisalnya. Tetapi tidak mengapa mengambil sebagian harta dari baitulmaal yang manfaatnya diperuntukkan bagi semua kaum muslimin, seperti azan, menjadi imam, mengajar dan sebagainya.
Kedua: Amalan itu harus mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu: Seorang insan mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam amalannya berupa perbuatan yang beliau perbuat dan meninggalkan yang beliau tinggalkan. Sedangkan yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam lakukan dengan tujuan ibadah yang adanya sebab, maka sunnahnya adalah mengerjakannya jika ada sebabnya juga, dan segala amalan yang sebabnya itu ada di zaman Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak melakukannya maka sunnahnya adalah perbuatan itu ditinggalkan.
لَهُمْ أَجْرٌ maknanya: Ganjaran, غَيْرُ مَمْنُونٍ maknanya: Tidak terputus. Bahkan dia terus menerus selama-lamanya. Ayat-ayat yang menyatakan kekalnya surga banyak dan diketahui di dalam al-Quran dan hadits. Ganjaran akhirat tidak terputus selamanya, tidak seperti di dunia, ada waktu munculnya buah dan ada waktu tidak berbuah, atau juga ada waktu tanah menumbuhkan tumbuhan dan ada waktu tidak menumbuhkan. Maka ganjaran di surga akan selalu ada وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا “mereka rezekinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang.”(QS. Maryam: 62)
Kita meminta kepada Allah agar menjadikan kita sebagai orang yang beriman yang mengamalkan amalan-amalan saleh, yang menjauhi perbuatan-perbuatan buruk, sungguh Dia Maha Dermawan Lagi Maha Mulia. Wa Shallallaahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi ajma’iin.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat Al-Insyiqaq ayat 25: Allah puji terhadap penderitaan mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah kabarkan bahwa mereka mendapat balasan yang tidak dikurangi, tidak juga terputus dengan masa, dan tidak juga terputus keberkahannya bagi mereka. Mereka akan menikmati kenikmatan yang sekekal-kekalnya (di surga).


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Di antara sekian manusia itu ada segolongan yang Allah berikan hidayah, mereka beriman kepada Allah dan menerima apa yang dibawa para rasul, mereka pun beriman dan mengerjakan amal saleh. Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang tidak putus-putusnya; untuk mereka pahala yang kekal.


📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Insyiqaq Ayat 25

25. Demikianlah, Allah akan mengazab orang-orang yang ingkar. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya sebagai anugerah dari Allah dan penghargaan atas perbuatan baiknya. 1-3. Allah bersumpah demi tiga hal yang luar biasa, baik kejadian maupun prosesnya. Demi langit luas yang mempunyai gugusan bintang atau orbit-orbit bintang ketika beredar di angkasa, yang menjadi penanda kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Dan demi hari yang dijanjikan. Itulah hari kiamat, kebangkitan, dan perhitungan yang pasti datang dengan segala kejadian dan kerepotan yang luar biasa di dalamnya. Demi orang yang menyaksikan hari yang dijanjikan itu dan kejadian-kejadian mengerikan dan mencengangkan yang disaksikan oleh mereka pada hari itu.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Itulah sekumpulan penafsiran dari kalangan mufassirun terkait kandungan dan arti surat Al-Insyiqaq ayat 25 (arab-latin dan artinya), moga-moga menambah kebaikan bagi kita bersama. Support kemajuan kami dengan memberikan link menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Halaman Cukup Banyak Dilihat

Ada banyak topik yang cukup banyak dilihat, seperti surat/ayat: Al-Baqarah 43, Al-Hadid 20, Tentang Al-Quran, Ad-Dukhan, Al-Isra 25, Ali ‘Imran 97. Ada juga Al-Baqarah 45, Al-Ma’idah 8, Ali ‘Imran 139, At-Thalaq, Al-Qamar 49, Al-Jin.

  1. Al-Baqarah 43
  2. Al-Hadid 20
  3. Tentang Al-Quran
  4. Ad-Dukhan
  5. Al-Isra 25
  6. Ali ‘Imran 97
  7. Al-Baqarah 45
  8. Al-Ma’idah 8
  9. Ali ‘Imran 139
  10. At-Thalaq
  11. Al-Qamar 49
  12. Al-Jin

Pencarian: ...

Bantu Kami

Setiap bulan TafsirWeb melayani 1.000.000+ kaum muslimin yang ingin membaca al-Quran dan tafsirnya secara gratis. Tentu semuanya membutuhkan biaya tersendiri.

Tolong bantu kami meneruskan layanan ini dengan membeli buku digital Jalan Rezeki Berlimpah yang ditulis oleh team TafsirWeb (format PDF, 100 halaman).

Dapatkan panduan dari al-Qur'an dan as-sunnah untuk meraih rezeki berkah berlimpah, dapatkan pahala membantu keberlangsungan kami, Insya Allah.