Surat Al-Muddatstsir Ayat 6

وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ

Arab-Latin: Wa lā tamnun tastakṡir

Artinya: Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

« Al-Muddatstsir 5Al-Muddatstsir 7 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Pelajaran Penting Mengenai Surat Al-Muddatstsir Ayat 6

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Muddatstsir Ayat 6 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada sekumpulan pelajaran penting dari ayat ini. Ada sekumpulan penafsiran dari banyak ulama mengenai isi surat Al-Muddatstsir ayat 6, misalnya seperti berikut:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

1-7. Wahai orang yang menyelimuti dirinya dengan kain selimutnya, bangkitlah dari tempat tidurmu, lalu peringatkanlah manusia dari azab Allah, khususkanlah Tuhanmu dengan pengagungan, tauhid dan ibadah, sucikanlah pakaianmu dari najis-najis, karena kesucian lahir termasuk kesempurnaan kesucian batin. Teruslah menjauhi patung dan berhala serta amal-amal syirik seluruhnya, jangan mendekatinya, jangan memberi sesuatu agar kamu mendapatkan lebih banyak. Dan demi meraih ridha Tuhanmu, bersabarlah kamu dalam menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

6. Janganlah kamu menganggap harta, upaya, ilmu, dan dakwah yang telah kamu kerahkan itu telah banyak; namun pandanglah itu masih sedikit.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

6. Dan janganlah engkau pamrih terhadap Rabbmu dengan merasa telah banyak amal salehmu!


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

6. وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ (dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak)
Yakni janganlah kamu merasa berjasa bagi Tuhanmu karena telah mengemban kenabian, seperti orang yang menganggap banyak apa yang dipiikulnya karena kecemburuan terhadap apa yang dipikul orang lain.
Pendapat lain mengatakan: yakni jika kamu memberi suatu pemberian kepada seseorang maka berikanlah karena mengharap ridha Allah, dan janganlah kamu merasa lebih tinggi karena pemberianmu terhadap orang lain.


📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

Apakah kamu takjub dengan banyaknya amalanmu?

Perhatikan firman Allah ta'ala: { وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ } "Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak" Al-Hasan berkata: Jangan mengharapkan balasan yang lebih banyak dari amal kebaikanmu.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

6. Janganlah kamu (Muhammad) bermaksud memberikan sesuatu untuk mengharapkan balasan lebih banyak, namun berikan sesuatu dengan hanya mengharap ridha Allah


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Janganlah memberi (agar) memperoleh yang lebih banyak} Janganlah memberi sesuatu agar diberi lebih banyak dari itu


📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

6. “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak,” yaitu janganlah engkau berharap pada manusia atas nikmat-nikmat dunia dan akhirat yang kau berikan sehingga kau meminta lebih atas pemberian itu dan kau melihat adanya keutamaan dirimu atas mereka. Tapi berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu, lupakanlah kebaikanmu kepada mereka dan harapkan pahalamu dari Allah dan sikapilah orang yang kau perlakukan baik dan yang lain secara sama.
Ada yang menyatakan bahwa maknanya, janganlah engkau memberi apa pun pada seseorang, dan engkau ingin orang itu memberi balasan lebih banyak untukmu, dan berarti ini khusus untuk Nabi.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 1-10
Disebutakn dalam hadits shahih Bukhari dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Jabir, dia berkata bahwa ayat Al-Qur'an yang mula-mula diturunkan adalah firmanNya: (Hai orang yang berkemul (berselimut) (1)) Tetapi mayoritas ulama berbeda. Mereka berpendapat bahwa Al-Qur'an yang mula-mula diturunkan adalah firman Allah SWT: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1)) (Surah Al-'Alaq) Sebagaimana yang akan diterangkan di tempatnya, jika Allah menghendaki.
Dapat disimpulkan bahwa wahyu yang mula-mula diturunkan setelah beberapa lama wahyu tidak turun adalah surah ini, sebagaimana Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dia berkata,”Aku pernah mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman berkata bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir bin Abdullah, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian wahyu mengalami jarak dariku selama satu masa, Dan ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit, maka aku mengarahkan pandanganku ke langit. Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah datang kepadaku sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka tubuhku gemetar karenanya sehingga aku terjatuh ke tanah. Lalu aku pulang ke rumah keluargaku dan aku katakan kepada mereka, "Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku” Maka Allah SWT menurunkan firmanNya, (Hai orang yang berkemul (1) bangunlah, lalu berilah peringatan! (2) Dan Tuhanmu agungkanlah (3) dan pakaianmu bersihkanlah (4) dan perbuatan dosa tinggalkanlah” (5). Kemudian wahyu datang lagi dengan berturut-turut”
Firman Allah SWT: (bangunlah, lalu berilah peringatan! (2)) yaitu berjagalah dengan tekad yang bulat, lalu berilah peringatan kepada manusia. Dengan demikian, beliau mendapatkan kerasulan, sebagaimana pertama mendapatkan kenabian.
(dan Tuhanmu agungkanlah (3)) yaitu, agungkanlah.
Firman Allah SWT: (Dan pakaianmu bersihkanlah (4)) Al-Ajlah Al-Kindi meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa pernah datangan seorang lelaki datang kepadanya, lalu bertanya kepadanya tentang ayat ini: (dan pakaianmu bersihkanlah (4)) dia menjawab,"Janganlah kamu mengenakannya untuk berbuat maksiat dan jangan pula berkhianat" Kemudian dia berkata,"Tidakkah kamu pernah mendengar ucapan Ghailan bin Salamah Ats-Tsaqafi:
“Dengan memuji Allah, sesungguhnya aku mengenakan pakaianku bukan untuk kedurhakaan, dan bukan pula untuk menutupi perbuatan khianat"
Mujahid berkata tentang firmanNya: (dan pakaianmu bersihkanlah (4)) daia berkata yaitu dirimu bukan pakaianmu. Dalam riwayat yang lain darinya tentang firmanNya: (dan pakaianmu bersihkanlah (4)) yaitu, perbaikilah amalmu. Demikian;ah yang dikatakan Abu Razin.
Qatadah berkata tentang firmanNya: (dan pakaianmu bersihkanlah (4)) yaitu bersihkanlah dari perbuatan-perbuatan durhaka. Orang-orang Arab berkata terhadap seorang lelaki yang melanggar janjinya dan tidak memenuhinya, bahwa dia adalah seorang yang kotor pakaiannya. Dan apabila dia menunaikan janjinya, maka dikatakan bahwa sesungguhnya dia benar-benar orang yang bersih pakaiannya.
Ikrimah dan Adh-Dhahhak berkata, bahwa janganlah kamu mengenakannya untuk berbuat maksiat.
Ibnu Zaid berkata bahwa dahulu orang-orang musyrik tidak pernah membersihkan diri. Maka Allah memerintahkan kepada NabiNya untuk bersuci dan membersihkan pakaiannya. Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir. Ayat ini mencakup semua pendapat yang telah disebutkan di samping kesucian hati. Karena sesungguhnya orang-orang Arab menyebut hati dengan sebutan pakaian, sebagaimana yang dikatakan Imri’ul Qais:
“Hai kekasihku Fatimah, sebentar, dengarkanlah kata-kataku yang memohon ini; bahwa jika engkau telah bertekad untuk meninggalkanku, maka lakukanlah dengan baik-baik”
“Dan jika memang ada sikapku yang kurang berkenan di hatimu, tanyakanlah kepada hatiku dengan mata hatimu, maka engkau akan memahaminya”
Firman Allah SWT: (dan perbuatan dosa, tinggalkanlah (5)) Ibnu Abbas berkata bahwa ar-rijzu adalah berhala, maka tinggalkanlah. Demikian juga dikatakan Mujahid dan Ibnu Zaid, bahwa sesungguhnya itu adalah berhala.
Berdasarkan semua penafsiran, makna yang dimaksud bukan berarti Nabi SAW telah melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan itu. sebagaimana firmanNya SWT: (Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik) (Surah Al-Ahzab: 1) dan (Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun, "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”) (Surah Al-A'raf: 142)
Firman Allah SWT: (dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak (6)) Ibnu Abbas berkata bahwa janganlah kamu memberikan suatu pemberian dengan maksud agar memperoleh balasan lebih banyak darinya. Demikian juga dikatakan Ikrimah, Mujahid, Qatadah, As-Suddi dan lainnya.
Hasan Al-Bashri berkata bahwa janganlah kamu merasa beramal banyak kepada Tuhanmu. Demikian juga dikatakan Ar-Rabi' bin Anas. Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir.
Ibnu Zaid berkata, janganlah merasa berjasa dengan kenabianmu terhadap manusia dengan maksud ingin memperbanyak dari mereka sebagai imbalan dunia. Keempat pendapat ini yang paling kuat di antaranya adalah yang pertama; hanya Allah yang lebih Mengetahui.
Firman Allah SWT: (Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah (7)) yaitu gunakanlah kesabaranmu dalam menghadapi gangguan mereka sebagai amalmu karena Allah SWT. Pendapat ini dikatakan Mujahid,
Ibrahim An-Nakha'i berkata,”Bersabarlah terhadap nasibmu karena Allah SWT.
Firman Allah SWT: (Apabila ditiup sangkakala (8) maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit (9) bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah (10)) Ibnu Abbas, Mujahid, Asy-Sya'bi, Zaid bin Aslam, Al-Hasan, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ar-Rabi' bin Anas, dan Ibnu Zaid berkata bahwa makna (naqiir) adalah sangkakala.
Mujahid berkata itu seperti bentuk tanduk.
Firman Allah SWT: (maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit (9)) yaitu sangat keras (bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah (10)) yaitu tidak mudah bagi mereka menjalaninya, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Orang-orang kafir berkata, "Ini adalah hari yang berat”) (Surah Al-Qamar: 8) Telah diriwayatkan kepada kami dari Zurarah bin Aufa, hakim Basrah bahwa dia mengimami mereka dalam shalat Subuh, Lalu membaca surah ini, ketika bacaannya sampai kepada firmanNya: (Apabila ditiup sangkakala (8) maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit (9) bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah (10)) Tiba-tiba dia merintih sekali, Lalu terjungkal dalam keadaan tidak bernyawa lagi


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat Al-Muddatstsir ayat 6: 1-7. Surat ini dimulai dengan pemberian tanggung jawab kepada Nabi ﷺ untuk bangkit berdakwah dan menyampaikan dengan sungguh-sungguh. Dan Allah membuka surat ini panggilan lembut dan ramah kepada Nabi ﷺ sebagaimana pembukaan dalam surat Al Muzzammil, Allah berkata : Wahai orang yang tertutup atau berselimut di tempat tidurnya, berdirilah dari tempat tidurmu dan peringatkan manusia dari adzab Allah jika masih tetap dalam kesyrikan mereka, kemudian agungkan Tuhanmu dengan tauhid dan ibadah, sucikan pakaianmu dari najis dan kotoran; Maka jika selesai bersuci secara dzahir maka sempurnakan dengan bersuci secara bathin, kemudian tetaplah untuk meninggalkan sesembahan-sesembahan itu dan patung-patung serta beramal dari semua amalan-amalan kesyirikan dan berlepas dirilah dari sesembahan-sesembahan itu dan dari para penyembahnya. Dan janganlah kamu memberi dengan berharap mendapat balasan dari manusia, yaitu dari nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk yang kamu berikan kepada mereka (dan kamu berharap) banyak balasan dari mereka. Jadikanlah amalanmu ikhlas karena wajah Allah, jangan engkau menginginkan satupun balasan dan ucapan terima kasih (dari mereka). Bersabarlah atas tanggung jawab/beban dan perintah-perintah yang Allah bebankan dengannya; Bersabarlah sampai melebihi orang-orang yang bersabar, begitu juga dengan amalan shalih, janganlah berharap lebih dari manusia, karena sebab karunia Allah (kepadamu) jauh lebih banyak.


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Yakni janganlah engkau memberikan kepada manusia nikmat agar nikmat yang engkau miliki bertambah banyak, dan engkau merasa bahwa engkau telah berbuat baik kepada mereka atau punya jasa kepada mereka, bahkan berbuat ihsanlah kepada manusia sesuai kemampuanmu dan lupakanlah ihsanmu kepada mereka dan janganlah kamu meminta upahnya kecuali dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan jadikanlah orang yang engkau berikan ihsan dan orang yang selainnya dalam keadaan sama. Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya adalah janganlah engkau memberikan sesuatu kepada seorang pun dengan maksud agar orang itu membalasmu dengan yang lebih banyak dari yang engkau berikan. sehingga hal ini khusus untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.


📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Muddatstsir Ayat 6

5-7. Dan petunjuk yang ketiga adalah, tinggalkanlah segala perbuatan yang keji seperti penyembahan berhala, betapa pun banyak yang melakukan. Petunjuk yang keempat, dan janganlah engkau, wahai nabi Muhammad, memberi yaitu usahamu dalam berdakwah dengan maksud untuk mendapatkan imbalan duniawi dari manusia. Dengan demikian engkau akan memperoleh balasan dari Allah, yang lebih banyak. Petunjuk terakhir, kelima, larangan memperoleh imbalan dapat menimbulkan kesulitan maka apabila menghadapi kesulitan ayat ini memberi petunjuk, dan hanya karena tuhanmu, maka bersabarlah, pasti engkau akan berhasil dalam dakwahmu


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Demikianlah beraneka penafsiran dari para mufassirun terkait kandungan dan arti surat Al-Muddatstsir ayat 6 (arab-latin dan artinya), semoga membawa faidah bagi kita semua. Dukung usaha kami dengan mencantumkan link menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Halaman Paling Sering Dibaca

Baca ratusan materi yang paling sering dibaca, seperti surat/ayat: Al-Kautsar, Al-Mulk, Asmaul Husna, Do’a Sholat Dhuha, Al-Waqi’ah, Shad 54. Ada juga Al-Ikhlas, Al-Baqarah, Ayat Kursi, Yasin, Al-Kahfi, Ar-Rahman.

  1. Al-Kautsar
  2. Al-Mulk
  3. Asmaul Husna
  4. Do’a Sholat Dhuha
  5. Al-Waqi’ah
  6. Shad 54
  7. Al-Ikhlas
  8. Al-Baqarah
  9. Ayat Kursi
  10. Yasin
  11. Al-Kahfi
  12. Ar-Rahman

Pencarian: surah al alaq latin, yasin online, al fiil, al isra ayat 27, surat al muthaffifin

Surat dan Ayat Rezeki

Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" dengan sharing informasi tentang TafsirWeb!

Cara Sharing Manual:

Copy-paste text di bawah, kirim ke lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
✅ Klik *tafsirweb.com/start* untuk menikmati tafsir al-Qur'an
 
✅ Klik *tafsirweb.com/pahala* lalu kirim informasi ini ke 5 group lainnya untuk dapat pahala jariyah

Cara Sharing Otomatis:

Klik Di Sini 👉 pilih lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti 👉 klik tombol kirim

Bonus Setelah Sharing:

Setelah Anda melakukan sharing, klik tombol di bawah: