Surat Al-Waqi’ah Ayat 73

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

نَحْنُ جَعَلْنَٰهَا تَذْكِرَةً وَمَتَٰعًا لِّلْمُقْوِينَ

Arab-Latin: Naḥnu ja'alnāhā tażkirataw wa matā'al lil-muqwīn

Artinya: Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.

« Al-Waqi'ah 72Al-Waqi'ah 74 »

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Tafsir Penting Mengenai Surat Al-Waqi’ah Ayat 73

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Waqi’ah Ayat 73 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada kumpulan tafsir penting dari ayat ini. Didapati kumpulan penafsiran dari banyak ahli tafsir terkait makna surat Al-Waqi’ah ayat 73, sebagiannya sebagaimana di bawah ini:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

73. Kami menjadikan api yang kalian nyalakan sebagai peringatan bahwa ada Neraka jahanam dan juga sebagai manfaat bagi orang-orang musafir.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

73. Kami menjadikan api ini sebagai peringatan untuk kalian agar kalian ingat dengan Neraka, dan kami menjadikannya bermanfaat untuk para musafir di antara kalian.


📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

73. نَحْنُ جَعَلْنٰهَا تَذْكِرَةً(Kami jadikan api itu untuk peringatan)
Yakni agar mengingatkan kalian dari panasnya api neraka sehingga orang beriman dapat mengambil pelajaran darinya.

وَمَتٰعًا لِّلْمُقْوِينَ (dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir)
Seperti para musafir dan penduduk pedalaman yang tinggal di tempat yang jauh.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

71-73

1). Dalam firman Allah ta'ala: { نَحْنُ جَعَلْنَٰهَا تَذْكِرَةً وَمَتَٰعًا لِّلْمُقْوِينَ } "Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir" peringatan yang lembut, yaitu: bahwasanya Allah ﷻ mendahulukan penyebutan peringatan sebelum penyebutan bahan yang berguna; agar seorang hamba mengetahui bahwa manfaat akhirat lebih penting dan mengingatnya lebih utama.

2). Setiap kali kamu menyalakan api, dengannya kamu dihangatkan, maka ingatlah firman Allah ta'ala: { نَحْنُ جَعَلْنَٰهَا تَذْكِرَةً وَمَتَٰعًا لِّلْمُقْوِينَ } "Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir" Asy-Syanqithi berkata: maksudnya: jika di dunia mereka merasakan panasnya api yang menyengat, mereka teringat akan api akhirat yang lebih dahsyat panasnya. Agar mereka menjauh dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka masuk ke dalam neraka.

3). Secara khusus disebutkan musafir di padang pasir, meskipun makna ayat ini bermanfaat secara umum bagi para musafir dan penduduk yang menetap; sebagai peringatan bagi hamba-Nya -dan Allah ta'ala lebih mengetahui apa yang dimaksud dengan firman-Nya- bahwa mereka semua adalah musafir dan bahwa mereka berada di dunia ini sebagai musafir. Mereka bukanlah penduduk atau pemukim, dan bahwa mereka hanyalah orang yang lewat dan orang yang melakukan perjalanan.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

73. Kami telah menjadikan api dunia antara lain bisa disulut/dipantik sebagai peringatan bagi kalian tentang neraka Jahannam. Kami juga menjadikan segala sesuatu yang dapat dibakar oleh api itu, sehingga bisa bermanfaat bagi para musafir


📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Kami menjadikannya sebagai peringatan} peringatan bagi kalian tentang neraka Jahanam {dan manfaat bagi para musafir} manfaat bagi para musafir


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

71-73. Ini adalah nikmat yang masuk kepada kategori kebutuhan pokok yang pasti dibutuhkan oleh makhluk, karena sesungguhnya manusia membutuhkan kenikmatan tersebut dalam banyak perkara dan kebutuhan mereka. Allah menyatakan kepada mereka (agar mereka mengakui), akan api yang Dia ciptakan pada pepohonan, dan bahwa makhluk tidaklah dapat menciptakannya, akan tetapi hanya Allah-lah Yang menciptakan (api itu) dari pepohonan yang hijau, kemudian ia menjadi api yang dinyalakan sesuai dengan kebutuhan para hamba, lalu apabila mereka telah selesai dari kebutuhan mereka, maka mereka memadamkan dan mematikannya.
“Kami menjadikan api itu untuk peringatan” bagi para hamba terhadap nikmat Rabb mereka, dan sebagai peringatan (bagi mereka) akan Neraka Jahanam yang telah Allah persiapkan untuk orang-orang yang bermaksiat kepadaNya, serta menjadikannya sebagai cemeti untuk menuntun hamba-hambaNya kepada surga yang penuh dengan kenikmatan, “dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” Maksud dari kata al-Muqwin adalah orang-orang yang mengambil manfaat atau para musafir. Allah mengkhususkan para musafir adalah karena manfaat api itu bagi musafir lebih besar daripada bagi selainnya, atau bisa jadi sebabnya adalah karena dunia ini, semuanya adalah tempat melakukan safar, dan seorang hamba dari sejak dilahirkan adalah seorang musafir (orang yang melakukan perjalanan) menuju Rabbnya. Api ini telah dijadikan oleh Allah sebagai bahan yang berguna bagi musafir di dunia ini, dan sebagai peringatan bagi mereka akan negeri yang kekal (akhirat).


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 63-74
Allah SWT berfirman: (Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? (63)) yaitu mencangkul, membajak, dan menaburkan benih pada tanah. (Kamukah yang menumbuhkannya?) yaitu apakah kalian yang menumbuhkannya dari tanah? (ataukah Kami yang menumbuhkannya?) Tidak, bahkan Kamilah yang menetapkannya di tempatnya dan Kamilah yang menumbuhkannya di tanah.
Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman,”''Jangan mengatakan, “Kami telah bertanam” Tetapi katakanlah, “Kami telah bertani” Telah diriwayatkan dari Hajar Al-Madari, bahwa dia membaca firmanNya: (Kamukah yang menumbuhkannya? ataukah Kami yang menumbuhkannya? (64) dan ayat-ayat yang semakna. Lalu dia mengatakan, "Tidak, Engkaulah yang melakukan semuanya, ya Tuhanku"
Firman Allah SWT (Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur) yaitu Kamilah yang menumbuhkannya dengan kelembutan dan rahmat Kami, dan Kami membiarkannya tumbuh sebagai rahmat untuk kalian, dan sekiranya Kami menghendaki, sungguh Kami menjadikan ia kering sebelum masak dan panennya (maka jadilah kamu heran tercengang) Kemudian hal itu dijelaskan oleh firmanNya: ((sambil berkata), "Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian (66) bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa” (67)) yaitu sekiranya Kami menjadikannya kering, maka sungguh kalian merasa heran dan berkata macam-macam. Adakalanya kalian berkata,"Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian"
Mujahid dan Ikrimah berkata bahwa maknannya, "Sesungguhnya kami benar-benar tergila-gila dengan harapan kami"
Al-Hasan dan Qatadah berkata tentang firmanNya: (maka jadilah kamu heran tercengang) yaitu kalian menyesal, adakalanya menyesali apa yang kalian keluarkan, atau menyesali dosa-dosa yang pernah kalian kerjakan.
Kisa'i berkata bahwa kata “tafakkaha” termasuk kata memiliki dua makna bertentangan. Orang-orang Arab berkata, "Tafakkahtu" yaitu aku senang, dan “tafakkahtu” yaitu aku sedih.
Kemudian Allah SWT berfirman: (Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum (68) Kamukah yang menurunkannya dari awan) yaitu awan. Pendapat itu dikatakan Mujahid, dan lainnya.
(ataukah Kami yang menurunkannya?) dia berkata bahkan Kamilah yang menurunkannya (Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin) yaitu, menjadi asin lagi pahit, tidak layak untuk diminum dan untuk mengairi tanaman (maka mengapakah kamu tidak bersyukur?) yaitu mengapa kalian tidak mensyukuri nikmat Allah atas kalian karena Dia telah menurunkannya kepada kalian air tawar dan enak diminum? (untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu (10) Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan (11)) (Surah An-Nahl)
Kemudian Allah SWT berfirman: (Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (71)) yaitu kaiian menggosok-gosokkan kayu dari dahan pohon sebagai pemantik api sehingga kalian dapat mengeluarkan api )Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kami yang menjadikannya? (72) yaitu bahkan Kamilah yang menjadikannya mengandung api; bagi orang Arab di masa lalu ada dua jenis kayu yang pertama yaitu (kayu Al-Marakh) dan yang lain kayu (Al-'Ifar). Apabila dari masing-masing ranting keduanya diambil satu batang yang masih hijau, lalu satu dengan yang lainnya digosokkan, maka dari gesekan keduanya keluarlah percikan api.
Firman Allah SWT: (Kami menjadikan api itu untuk peringatan) Pendapat itu dikatakan Mujahid dan Qatadah bahwa maknanya yaitu Kami mengingatkan tentang api neraka yang sangat besar.
Firman Allah SWT: (dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir) Ibnu Abbas dan Qatadah berkata bahwa yang dimaksud dengan “Al-muqwin” adalah orang-orang yang melakukan perjalanan. Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir. Ibnu Jarir mengatakan bahwa termasuk ke dalamnya adalah ucapan mereka, “Aku meninggalkan rumah, apabila dia bepergian dan meninggalkan keluarganya.
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa “al-muqwi” di sini adalah orang yang lapar.
Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid tentang firmanNya, (Al-Muqwin) yaitu semua orang yang menikmatinya. Demikian juga diriwayatkan dari Ikrimah. Tafsir ini lebih umum daripada yang lainnya, karena sesungguhnya baik orang yang ada di tempat maupun orang yang sedang dalam perjalanan, baik yang kaya maupun yang miskin, semuanya memerlukan api untuk memasak, berdiang, penerangan dan keperluan lainnya


📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat Al-Waqi’ah ayat 73: 71-73. Ini adalah bukti yang keempat atas benarnya kebangkitan, dimana Allah berkata : Kabarkan kepadaku tentang api yang kalian nyalakan (dengan digesekkan kepada kayu). Apakah kalian yang menjadikan kayu itu ataukah Kami yang yang menciptakannya. ketahuilah bahwa kami menciptakan api ini agar Kami dapat memperingatkan kalian dengan api neraka, maka hal ini menjadi pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Api ini juga sebagai kesenangan untuk memasak makanan dan keperluan kalian, juga menjadi manfaat bagi para musafir untuk digunakan pada kondisi mereka yang beraneka macam.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Terhadap nikmat-nikmat Allah dan terhadap neraka Jahanam yang Dia siapkan untuk orang-orang yang bermaksiat dan sebagai cemeti untuk menggiring hamba-hamba-Nya menuju negeri yang penuh kenikmatan (surga)..

Disebutkan musafir secara khusus, karena musafir lebih banyak membutuhkannya daripada selainnya. Atau maksudnya, karena dunia ini tempat safar, bukan tempat menetap, maka seorang hamba dari sejak dilahirkan maka dia sedang mengadakan perjalanan menuju Tuhannya. Nah, api itu Allah siapkan untuk musafir tersebiut sebagai bahan berguna baginya dan sebagai peringatan baginya terhadap negeri yang kekal (akhirat).


📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Waqi’ah Ayat 73

71-74. Bila kamu sudah memahami siapa yang menurunkan air, maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan dari kayu bakar' kamukah yang menumbuhkan pohon penghasil kayu bakar itu ataukah kami yang menumbuhkannya' ketahuilah, kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan bakar yang berguna bagi musafir di padang pasir. Dengan anugerah ini, maka bertasbihlah dengan menyebut nama tuhanmu yang mahabesar. '71-74


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Demikian kumpulan penjabaran dari para mufassir terkait kandungan dan arti surat Al-Waqi’ah ayat 73 (arab-latin dan artinya), moga-moga membawa manfaat bagi kita semua. Bantu dakwah kami dengan mencantumkan link ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Konten Banyak Dibaca

Ada banyak topik yang banyak dibaca, seperti surat/ayat: Al-Ahzab 56, Al-Insyirah 6, Al-Anfal, An-Nisa 146, Al-Jumu’ah 10, Al-Baqarah 152. Juga An-Nur 26, An-Nisa 29, Al-Baqarah 168, Al-Jatsiyah, Thaha, Ali ‘Imran 110.

  1. Al-Ahzab 56
  2. Al-Insyirah 6
  3. Al-Anfal
  4. An-Nisa 146
  5. Al-Jumu’ah 10
  6. Al-Baqarah 152
  7. An-Nur 26
  8. An-Nisa 29
  9. Al-Baqarah 168
  10. Al-Jatsiyah
  11. Thaha
  12. Ali ‘Imran 110

Pencarian: surat iqra dan artinya, ali imran 178, surat ar rahman ayat 26, lafal surat al baqarah, surah al baqarah ayat 124

Surat dan Ayat Rezeki

GRATIS Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah". Caranya, copy-paste text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga (3) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
👉 tafsirweb.com/start
 
✅ Bagikan informasi ini untuk mendapat pahala jariyah

Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol di bawah: