Quran Surat Al-Fatihah Ayat 7

Dapatkan Amal Jariyah

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

Arab-Latin: ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn

Terjemah Arti: (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, orang-orang yang benar imannya, orang-orang yang mati syahid, orang-orang Shalih. Mereka  itulah orang-orang yang memperoleh Hidayah dan istiqomah. Dan jangan Jadikan kami termasuk orang-orang yang menempuh jalan orang-orang yang dimurkai,yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya. Mereka adalah  orang-orang Yahudi dan orang-orang seperti mereka. Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang tidak diberi petunjuk dari kejahilan mereka hingga akibatnya mereka sesat jalan. Mereka adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan hidup mereka.

Di dalam doa ini terkandung obat bagi hati seorang muslim dari penyakit pembangkangan,kebodohan dan kesesatan. dan juga terkandung dalil bahwasannya nikmat paling Agung secara mutlak adalah nikmat Islam. Maka barangsiapa yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih mengikutinya maka dia lebih pantas meraih Hidayah jalan yang lurus. Dan  tidak ada keraguan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam adalah  orang-orang yang paling utama meraih hal itu setelah para nabi alaihim salam. maka ayat ini menunjukkan keutamaan dan Agung nya kedudukan mereka. Semoga Allah meridoi mereka.

Dan disunnahkan bagi orang yang membaca Alquran dalam sholat untuk mengucapkan “Amin”  setelah membaca surat al-fatihah. dan maknanya adalah  “Ya Allah kabulkanlah doa kami”. dan ia bukan suatu ayat dari surat al-fatihah menurut kesepakatan para ulama oleh karena itu mereka telah bersepakat untuk tidak  menulisnya di dalam mushaf.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

7. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dari hamba-hamba-Mu berupa hidayah, seperti para Nabi, para ṣiddīqīn (pecinta kebenaran), para syuhada dan orang-orang saleh. Mereka adalah teman terbaik; bukan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya seperti orang-orang Yahudi; dan bukan pula jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang tersesat dari jalan yang benar, yaitu orang-orang yang tidak menemukan jalan yang benar karena keteledoran mereka dalam mencari kebenaran dan mencari petunjuk seperti orang-orang Nasrani.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam surat an-Nisa’ ayat 69-70 : “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu dengan Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah (sebagai Dzat yang) Maha mengetahui.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ Yakni orang-orang Yahudi. وَلَا الضَّالِّينَ Yakni orang-orang Nasrani. Hal ini disebabkan karena orang-orang Yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi memeranginya sehingga mereka berhak mendapat kemarahan dari Allah Ta’ala. Sedangkan orang-orang Nasrani memerangi kebenaran disebabkan kebodohan yang ada pada mereka sehingga mereka berada dalam kesesatan yang nyata dalam masalah nabi Isa.
Disebutkan dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda: “tidaklah orang-orang Yahudi dengki terhadap sesuatu melebihi kedengkian mereka terhadap salam dan kalimat amin (yang ada dalam Islam)”. Dan makna dari kalimat amin adalah Ya Allah kabulkanlah untuk kami.

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

1 ). Mungkin sebagian dari kita bertanya tentang penyandaran kata "shirot" kepada orang yang diberikan kepadanya nikmat, dan tidak dicukupkan dengan : { الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } ? Ibnu al-Qoyyim dalam jawabannya berkata : tatkala orang yang meminta shirot al-Mustaqim adalah orang yang memohon sesuatu yang sebagian manusia telah berpaling darinya, berharap menapaki jalan yang telah dilalui oleh orang-orang pilihan Allah dalam keadaan terkucilkan dan tertekan, dan jiwa tertutupi oleh rasa takut yang mencekam; Allah kemudian mengingatkan bahwa orang yang berada di jalan itu adalah : { الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا } , maka disandarkanlah kata "shirot" kepada orang-orang yang menempuh jalan itu, dan mereka adalah orang-orang Allah keruniakan kepada mereka kenikmatan; agar hilang dari diri orang-orang yang memohon hidayah dan menempuh shirot rasa takut dalam kesendiriannya dari orang-orang sekitarnya, dan agar mereka mengatahui bahwa sahabat-sahabatnya yang berada dijalan itu adalah mereka yang dikaruniakan oleh Allah kenikmatan yang agung sehingga mereka tidak lagi terpengaruh dengan pelanggaran orang-orang yang melenceng, dan pada hakikatnya mereka tidaklah memiliki kekuatan kecuali hanyalah sedikit, meskipun jumlah mereka yang banyak, sebagaimana yang dikatakan oleh ulama terdahulu : “Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa”.

2 ). { صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ } Adalah merupakan isyarat bahwa orang yang mendapat petunjuk dari Allah tidaklah dalam kesendirian dan kesepian, dan bahwasanya walaupun dia merasa terasingkan diantara orang-orang yang melenceng dari kebenaran; tetapi sebenarnya jalan yang ia lalui penuh dengan orang-orang shalih, yang mereka adalah orang-orang di karuniakan atas mereka kenikmatan, maka hendaklah ia gembira dengan hal itu.

3 ). Banyak yang menyangka ketika membaca tafsir ayat ini bahwa orang-orang yahudi adalah yang dimurkai dan orang-orang nashrani telah tersesat dari jalan yang benar, bahwasanya kedua sifat ini dikhusukan kepada mereka ( yahudi dan nasrani ) saja, padahal Allah memerintahkan untuk membaca surah al-Fatihah di setiap shalat, bagaimana mungkin Allah memerintahkan untuk memohon perlindungan dari sesuatu yang Dia sendiri tidak mengabarkan kepada hamba-Nya untuk berhati-hati dari perkara itu, dan mereka tidak menyadari bahwasanya mereka telah melakukan kesalahan ? karena pada hakikatnya termasuk diantara orang-orang yang dimurkai siapapun yang tidak mengamalkan ilmunya ( syari'at islam ), dan termasuk diantara orang-orang yang tersesat siapa yang mengamalkan sesuatu tanpa ilmu yang benar.

4 ). Pada lafazh : { أَنْعَمْتَ } beberapa fawaid :
- 1 ) Bahwa hidayah yang membawa seseorang kepada jalan yang lurus adalah diantara nikmat
Allah yang paling agung.
- 2 ) Bahwa hidayah bukanlah dengan amalan seorang hamba, tetapi merupakan nikmat yang
datang bukan dari amalan itu yang diberikan kepadanya.
- 3 ) Bahwa satu-satunya yang memberi hidayah adalah Allah.
- 4 ) Dan ada adab atas nikmat itu yang dihaturkan kepada sang pemberi hidayah.

5 ). Diantara sebab keluarnya seseorang dari shirot al-mustaqim adalah kejahilan dan kerasnya hati, adapun orang-orang keluar karena kerasnya hati mereka adalah : orang-orang dimurlai oleh Allah, yang dikepalai oleh Yahudi, seadangkan orang-orang yang keluar karena kebodohan mereka adalah : mereka yang tidak mengetahui kebenaran, yang diketuai oleh Nashrani, dan inilah keadaan mereka ( orang-orang Nashrani ) sebelum hari kebangkitan, adapun setelah hari kebangkitan mereka telah mengetahui kebenaran itu, dan mereka melanggarnya, maka pada saat itu kedudukan mereka sama seperti orang-orang Yahudi, dan setiap dari mereka mendapat murka dari Allah.

6 ). Setiap hari kita selalu mengulurkan tangan untuk mengangkat sumpah kepada Allah dengan : { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } , dan ini berarti hidup kita berjalan diantara { الْحَمْدُ لِلَّهِ } sampai ( آمين ) , mesti ada kesetiaan dengan janji dari hati yang bahagia tatkala mendengarkan : { الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ } , dan berdiri mengangungkan dengan : { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } , dan dengan perasaan hina dihadapan-Nya mengharap : { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } , serta hawatir akan termasuk diantara : { الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } , itulah ikrar yang paling agung dalam surah yang paling agung ini, maka apakah hati kita telah konsisten dengan ikrar-ikrar itu ?

7 ). Diantara perkara agung yang mesti diperhatikan oleh orang-orang menremehkan perkara penyerupaan diri terhadap orang-orang kafir adalah : tadabbur surah al-Fatihah; karena sesungguhnya surah ini akan mengangkat perkara itu dari akarnya, akan tetapi ada hal yang sangat disayangkan : yaitu ketika diantara orang-orang muslim dalam shalatnya senantiasa memohon agar Allah menjauhkannya dari jalan orang-orang yang dimurkai dan yang tersesat, lalu kemudian mereka berbuat hal yang menyerupai perbuatan mereka ! sungguh itulah sebab yang besar yang menjadikan mereka sulit untuk mencontoh perilaku nabi dan para sahabatnya, dan menjadikan mereka mudah menyerupai perilaku musuh-musuh Allah !

8 ). Banyak disebutkan pada surah tertentu dalam al-Qur'an suatu perkara dengan penjelasan yang abstrak, kemudian dijelaskan terperinci pada surah-surah setelahnya, contohnya dalam surah al-Fatihah disebutkan "orang-orang yang dimurkai dan tersesat", dan penjelasannya yang lebih luas disebutkan di surah al-Baqarah dan 'ali Imran, juga dalam surah al-An'am dan al-Furqon dan Yasin disebutkan "generasi-generasi pemabangkang" , kemudian perinciannya dijelaskan pada surah-surah setalahnya seperti al-A'raf dan asy-Syu'ara' dan ash-Shoffat.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Jalannya orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat, yaitu para malaikat, para nabi, orang-orang yang membenarkan (agamaMu), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Bukan (jalannya) mereka yang Engkau murkai, yaitu orang-orang yang karena kesombongannya mereka menyimpang dari jalan kebenaran dan lurus, orang-orang yang karena kebodohannya mereka menjauh dari jalan kebenaran, orang yang mengikuti kepercayaan dan keyakinan selain Islam, orang-orang yang fasik dan orang-orang munafik.
((Amin)) Ya Allah kabulkanlah (doa) kami

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Allah kemudian menjelaskan bahwasanya jalan yang Allah perintahkan untuk berjalan di atasnya adalah jalan bagi mereka yang telah diberikan nikmat yang mereka disebutkan dalam firman-Nya : Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, mereka bersama orang-orang yang Allah berikan nikmat atas mereka dari golongan para nabi, para shiddiq, para syahid dan orang-orang yang shalih, mereka itulah yang tinggi derajatnya. (An Nisa : 69). Jalan (yang mereka tempuh) ini bukanlah jalan yang dimurkai bagi mereka, yaitu sebagaimana jalan yahudi; Mengetahui (ilmu) yang telah diturunkan akan tetapi mereka menyelisihi (ilmu tersebut). Tidak juga sebagaimana jalan nashrani yang tersesat, yang mereka beribadah kepada Allah dengan kebodohan.
Tidak diragukan lagi bahwasanya siapa yang ada pada dirinya dua sifat ini (yaitu ilmu dan amal) maka dia telah mengamalkan maksud dari ayat ini. Dan selepas membaca al fatihah maka wajib bagi orang yang shalat baik imam, makmum dan yang shalat sendirian untuk mengucapkan aamiin, yang ia adalah isim fi’il bermakna yaa Allah kabulkanlah, dan para ulama sepakat bahwasanya aamiin bukan bagian dari surat al fatihah.

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Adapun jalan yang lurus itu adalah  “jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” dari para nabi orang-orang yang benar dalam keimanan para syuhada dan orang-orang sholeh. Dan “bukan” jalan orang “yang dimurkai” yaitu orang yang mengetahui kebenaran namun meninggalkan kebenaran tersebut seperti Yahudi dan semisal mereka dan “bukan” pula jalan “orang-orang yang sesat” yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan seperti orang-orang Nasrani dan semisal mereka.

Surat ini dengan ke ringkasannya telah meliputi hal-hal yang tidak diliputi oleh surat-surat lainnya dalam al-quran. surat ini mengandung macam-macam tauhid yang tiga yaitu tauhid rububiyyah yang disarikan dari firman Allah robbil ‘alami (robb sekalian alam), tauhid uluhiyyah yaitu mengesakan Allah dalam beribadah, yang disarikan dari firmannya iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan), dan tauhid asma wa shifat, yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah yang telah ditetapkan oleh diri-Nya dan ditetapkan oleh rasul-Nya tanpa mengingkari, memisalkan dan menyerupakan di mana sesungguhnya hal itu ditunjukkan oleh kalimat alhamdu (segala pujian) sebagaimana yang telah lalu.

Demikian juga surat ini mengandung penetapan akan kenabian dalam firmannya ihdinashirotol mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus), karena hal itu tidak akan mungkin tanpa adanya Risalah.

Juga penetapan akan balasan bagi segala perbuatan, yaitu dalam firmannya maliki yaumiddin (yang menguasai Hari pembalasan) dan bahwasanya balasan itu terjadi dengan keadilan karena pembalasan adalah ganjaran dengan adil.

Dan penetapan akan takdir bahwasanya seorang hamba itu benar-benar sebagai pelaku berbeda dengan pemikiran Qodariyah maupun Jabariyah. Bahkan ia mengandung penolakan terhadap ahli-ahli bid'ah kesesatan seperti dalam firmannya ihdinaa shirotol mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus), karena ia bermakna mengetahui yang benar lalu mengamalkannya sedangkan setiap pelaku Bid'ah dan pelaku kesesatan adalah menyimpang dari semua itu.

Juga mengandung ajaran untuk ikhlas beragama hanya untuk Allah Semata. ibadah maupun permohonan pertolongan itu dalam firmannya iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in  (hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan).

Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

Makna kata :
Ash-Shirooth sudah disebutkan maknanya pada ayat sebelumnya.
Alladziina an’amta ‘alaihim maksudnya adalah mereka para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih, serta orang-orang yang diberikan nikmat berupa keimanan kepada Allah dan mengetahui hal-hal yang dicintai dan dimurkaiNya, serta kenikmatan berupa taufiq untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan hal yang dibenciNya.

Makna ayat :
Ketika orang mukmin dan saudara-saudaranya meminta diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus namun bersama dengan itu jalan yang dipinta masih sangat umum, dijelaskan pada ayat berikutnya dengan perkataan “jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepadanya”. Yaitu manhaj lurus yang dapat mengantarkan hamba kepada keridhoan Allah Ta’ala dan surgaNya. Jalan itu adalah agama Islam yang tegak di atas keimanan, ilmu, dan amal dengan menjauhi kesyirikan dan maksiat.

Pelajaran dari ayat :
1. Mengakui nikmat yang diberikan oleh Allah
2. Meminta teladan yang baik

Makna kata :
Ghoiri adalah lafadz yang digunakan sebagai pengecualian seperti Illaa
Al-Maghduubi ‘alaihim adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah karena kekufuran yang dilakukan dan berbuat kerusakan di muka bumi seperti orang-orang Yahudi.
Adh-Dhooliin adalah orang-orang yang melenceng dari jalan kebenaran, mereka beribadah kepada Allah dengan jalan yang tidak disyariatkan seperti Nasrani.

Makna ayat :
Ketika orang mukmin dan saudara-saudaranya meminta diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan dijelaskan bahwa itu adalah jalan orang-orang yang mendapat kenikmatan iman, ilmu, dan amal, serta kesungguhan untuk meminta hidayah kepada kebenaran, dan takut dari kebinasaan, maka dikecualikanlah jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang sesat.

Pelajaran dari ayat :
Motivasi untuk menempuh jalannya orang-orang shalih serta ancaman agar tidak menempuh jalannya orang-orang yang celaka.

Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir / Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et. al.

Telah disebutkan dalam hadits sebelumnya bahwa apabila seorang hamba mengucapkan [اهْدِنَا الصِّراطَ المُسْتَقِيمَ] hingga akhir ayat, maka Allah menjawab:”Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Firman Allah [صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيهِمْ]” Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka,” adalah tafsir dari jalan yang lurus, dan merupakan badal (pengganti) menurut ahli Nahwu dan boleh juga sebagai a’thaf bayan (mengikuti sambil menjelaskan). Wallahu a’lam.

Orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah  itu adalah mereka yang tersebut dalam surat an-Nisa’, Allah berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا # ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ عَلِيمًا
“Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-fforang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (QS.an-Nisa: 69-70).

Firman-Nya, [غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ ] “Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” Maknanya, tunjukilah kami jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka. Yaitu mereka yang memperoleh hidayah, istiqomah dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, bukan jala orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak, meskipun mereka mengetahui kebenaran, namun mereka menyimpang darinya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat, yaitu mereka yang tidak memiliki ilmu, sehinga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Kalimat dalam ayat ini dipertegas dengan kata لَا (bukan), untuk menunjukkan bahwa di sini terdapat dua jalan yang rusak. Yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani. Juga untuk membedakan antara kedua jalan itu, agar setiap orang menjauhkan diri darinya. Karena jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya. Sementara orang-orang Yahudi tidak memiliki amal. Adapun orang-orang Narani tidak memiliki ilmu. Oleh karena itu kemurkaan untuk orang-oran Yahudi dan kesesatan untuk orang-orang Nasrani. Karena orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya maka dia berhak mendapatkan kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.

Sedangkan orang-orang Nasrani, ketika mereka hendak melakukan sesuatu, mereka tidak memperoleh petunjuk kepada jalannya. Karena mereka tidak menempuhnya melalui jalan yang semestinya, yaitu mengikuti kebenaran. Maka masing-masing dari mereka sesat dan mendapatkan murka. Sifat kaum Yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan, sebagaimana firman Allah  tentang mereka:
مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ
“Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah” (QS.al-Maidah:60).

Sedangkan sifat khusus kaum Nasrani adalah kesesatan, sebagaimana firman Allah  tentang mereka:
قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
“Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". (QS.al-Maidah: 77).
Masalah ini banyak disebutkan dalam hadits serta atsar, dan menjadikan sudah cukup jelas.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim , ia berkata: “Datanglah pasukan Rasulullah , lalu mereka menawan bibiku dan beberapa orang lainnya. Ketika pasukan membawa mereka ke hadapan Rasulullah, mereka berbaris di hadapan Baginda. Bibiku berkata:’Ya Rasulullah, utusan telah menjauh dan anak telah terputus. Sementara aku hanyalah wanita tua. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lepaskanlahaku, semoga Allah memberkahimu.’ Rasulullah bertanya kepadanya: ‘Siapakah utusanmu?’ Ia menjawab:’Adi bin Hatim’ Rasulullah berkata: ‘Orang yang melarikan diri dari Allah dan Rasul-Nya? Bibiku berkata: ‘Bebaskanlah aku!’ Ketika Rasulullah kembali, seorang laki-laki yang berada di samping beliau (kami mengira ia Ali ) berkata: ‘Mintalah unta tunggangan’, maka kemudian baginda memberinya. Lalu bibiku menemuiku, ia berkata:’Sungguh engkau telah melakukan suatu perkara yang tidak pernah ayahmu lakukan, sekarang datangi ia (Rasulullah ) baik kamu suka ataupun takut, karena pernah datang kepadanya seseorang kemudian diberi, ada lagi yang datang lalu diberi’. Kemudian –kata Adi- aku datangi baginda, ternyata di dekat baginda sedang ada seorang perempuan dan beberapa anak kecil. Ia menyebutkan keakraban mereka dengan Nabi . Adi berkata:’Maka aku sadar bahwa baginda bukanlah seperti raja Kisra dan Kaisar. Lalu Nabi berkata: “Hai Adi, apa yang menyebabkanmu lari ketika hendak dikatakan laa ilaaha illallaah?” Bukankah tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah? Apa yang membuatmu lari ketika hendak dikatakan Allahu Akbar, adakah sesuatu yang lebih besar selain Allah?”.

‘Adi melanjutkan: “Maka aku pun masuk Islam dan aku lihat wajah beliau berseri-seri”. Baginda bersabda: “Sesungguhnya yang dimurkai itu adalah orang-orang Yahudi, sedangkan yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani.” Ia (perawi) menyebutkan kelanjutan hadits. Hadist ini juga diriwayatkan oleh imam Tirmidzi, ia berkata: “Hasan Gharib.”

Dalam kitab sirah diriwayatkan dari Zaid bin ‘Amr bin Nufail bahwa ketika ia keluar bersama serombongan rekan-rekannya ke negeri Syam untuk mencari agama yang benar, orang-orang Yahudi berkata kepada mereka: “Kalian tidak akan bisa masuk ke dalam agama kami sehingga kalian mengambil bagian kalian berupa kemarahan Allah.” Zaid berkata:”Justru kami ingin lari dari kemarahan Allah.”

Zaid berkata:”Aku tidak sanggup.” Maka ia pun tetap berada di atas fitrahnya, ia menjauhi penyembahan berhala dan agama kaum musyrikin. Ia tidak masuk ke dalam agama Yahudi maupun agama Nasrani. Adapun rekan-rekannya masuk agama Nasrani dan menjadi penganutnya. Karena mereka mendapati agama Nasrani lebih dekat kepada kebenaran daripada agama Yahudi ketika itu. Di antara mereka adalah Waraqah bin Naufal, hingga akhirnya Allah memberinya hidayah mengikuti Nabi-Nya  ketika Allah mengutusnya. Ia beriman kepada wahyu yang sampai kepadanya .

KANDUNGAN SURAT AL-FATIHAH

(Pasal) Surat yang mulia yang terdiri dari tujuh ayat ini mengandung pujian, pemuliaan dan sanjungan bagi Allah  dengan menyebut Nama-Nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi. Juga mencakup tempat kembali manusia, yaitu hari Pembalasan. Selain itu, di dalamnya berisi bimbingan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka memohon dan tunduk kepadanya, serta melepaskan supaya dan kekuatan diri mereka untuk selanjutnya dengan tulus ikhlas mengabdi kepada-Nya, mengesakan-Nya dan menyucikan-Nya dari sekutu atau tandingan. Juga berisi bimbingan agar mereka memohon petunjuk kepada-Nya menuju jalan yang lurus, yaitu agama yang benar serta menetapkan mereka di atas jalan tersebut. Sehingga ditetapkan bagi mereka untuk dapat menyeberangi jalan yang nyata pada hari Kiamat kelak menuju Surga yang penuh dengan kenikmatan, di sisi para Nabi, orang-orang yang jujur, syuhada dan orang-orang yang shalih.

Surat ini juga mengandung anjuran untuk mengerjakan amal shalih agar mereka dapat bergabung dengan orang-orang yang beramal shalih pada hari Kiamat kelak. Serta memberi peringantan agar mereka tidak menempuh jalan kebathilan, agar mereka tidak digiring bersama orang-orang yang menempuh jalan tersebut pada hari Kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan tersesat.

MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLAH DAN TIDAK MENYANDARKAN PENYESATAN KEPADA-NYA SERTA BANTAHAN TERHADAP SEKTE QODARIYAH

Betapa indahnya penyandaran pemberian nikmat kepada Allah dalam firman-Nya [صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيهِمْ] “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” dan penghapusan fa’il (subjek) pada kata dimurkai dalam firman-Nya: [غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيهِمْ ] “Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka.” Meskipun dalam hal ini subjek yang sebenarnya adalah Allah, sebagaimna firman-Nya:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman?” (QS.al-Mujadilah: 14).

Demikian juga penyandaran kesesatan kepada pelakunya, meskipun kesesatan itu telah Allah takdirkan sebagaimana firman-Nya:
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
“ Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS.al-Kahfi: 17).
Juga Allah berfirman:
مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Barangsiapa yang Allah sesatkan[587], Maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (QS.al-A’raaf: 186)

Serta ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa hanya Allah lah yang memberikan hidayah maupun kesesatan. Tidak seperti ucapan kelompok Qadariyah dan orang-orang yang mengikuti mereka bahwasanya dari hamba sendirilah yang memilih dan melakukan hal itu (hidayah dan kesesatan). Mereka berhujjah atas bid’ah mereka itu dengan ayat-ayat al-Qur’an yang mutasyaabih (secara makna belum jelas), dan meninggalkan makna yang jelas bertentangan dengan faham Islam. Demikianlah keadaan orang-orang yang sesat dan menyimpang itu. Telah disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah  bersabda:
إِذاَ رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولئِكَ الَّذينَ سَمَّى اللهُ، فَاحْذَرُوهُمْ
“Apabila kalian menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaanbihat , maka mereka itulah yang dimaksud oleh Allah, maka hati-hati lah terhadap mereka.” (HR.Bukahri dan Muslim).
(Yang dimaksud Allah ) Yakni dalam firman-Nya:
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ
“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya.” (QS.Ali Imran: 7).

Alhamdulillah tidak ada satu pun hujjah yang shahih dalam al-Qur’an bagi para ahli bid’ah, karena al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan antara yang hak dan yang bathil dan membedakan antara petunjuk dan kesesatan. Di dalamnya tidak ada pertentangan dan perbedaan, karena al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana dan Mahaterpuji.

MENGUCAPKAN AMIN SETELAH MEMBACA AL-FATIHAH

(Pasal) disunnahkan bagi seseorang untuk mengucapkan aamiin setelah membaca al-Fatihah seperti yaasiin (cara bacanya). Juga dibaca pendek amiin. Artinya: Ya Allah kabulkanlah. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi dari Waail bin Hujr , ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah  membaca [غَيرِ المغْضُوبِ عَليهم وَلاَ الضَّالّينَ] maka beliau mengucapkan aamiin. Sehingga terdengar oleh orang-orang yang berada di belakang beliau pada shaff pertama.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Ibnu Majah menambahkan pada hadits tersebut dengan kalimat: “Sehingga masjid bergetar karenanya.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Daruquthni. Ia berkata: “Sanad hadits ini hasan.” Diriwayatkan dari sahabat Bilal, bahwa beliau berkata:”Wahai Rasulullah jangan dahului aku dengan aamiin.” Diriwayatkan Abu Daud.

Abu Nashr al-Qusyairi menukil dari al-Hasan dan Ja’far ash-Shadiq bahwa keduanya membaca dengan tasydiid huruf Mim pada kata aamiin, seperti pada ayat [آَمِّينَ البَيْتَ الحَرَامَ]. Ulama madzhab kami juga ulama lainnya mengatakan:”Disunnahkan juga mengucapkan amin bagi yang membacanya di luar shalat. Lebih ditekankan lagi orang yang shalat baik ketika shalat sendirian, maupun ketika menjadi imam ataupun ma’mum, dalam segala keadaan apapun. Berdasarkan hadits dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah  bersabda:
إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Jika seorang imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin. Ssesugguhnya barangsiapa yang ucapan aminnya bertepatan dengan amin malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah  bersabda:
إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ: آمِينَ. قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ فِي السَّمَاءِ: آمِينَ. فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Jika salah seorang dari kalian mengucapkan amin dalam shalat, sementara malaikat di langi juga mengucapkannya, lalu ucapan amin keduanya bersamaan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ada yang mengatakan maksudnya adalah waktu ucapan aminnya bersamaan dengan amin yang diucapkan oleh malaikat. Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah bersamaan dalam pengabulannya. Dan ada yang berpendapat, bahwa kesamaan itu dalam hal keikhlasannya.

Dalam shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits yang dinilai hadits marfu’ dari Abu Musa, bahwa Rasulullah  bersabda:
وَإِذَا قَالَ –يَعْنى الإمام- غير المغضوب عليهم، فَقُوْلُوا آمين، يُجِبْكم الله
“Apabila imam telah membaca ghairil maghduubi ‘alaihim wa ladhdhalliin, maka ucapkanlah amin, niscaya Allah akan mengabulkan permohonan kalian.”

At-Tirmidzi mengatakan bahwa makna amin adalah: “Jangan Engkau sia-siakan harapan kami.” Sedangkan kebanyakan ulama menterjemahkan: “Ya Allah, kabulkanlah untuk kami.”

Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Firman-Nya:
}صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ {
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” (QS. Al-Fatihah:6)
‘athaf bayan (istilah dalam nahwu. Maksudnya ini adalah kalimat penjelas) bagi firman-Nya:

Dan orang-orang yang Allah berinikmat telah disebutkan dalam firman Allah yang lain:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)

Firman Allah Ta’ala: غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ “Bukan (jalan) mereka yang dimurkai” mereka adalah orang-orang Yahudi dan setiap orang yang tahu kebenaran namun tidak mengamalkannya.
Firman Allah Ta’ala: وَلَا الضَّالِّيْن “Dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” mereka adalah orang-orang Nasrani sebelum diutusnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan setiap orang yang beramal tanpa tuntunan kebenaran karena kebodohannya.
Firman-Nya: “عَلَيْهِمْ” terdapat dua cara baca, pertama: membaca huruf ha dengan mendhommahkannya dan yang kedua: dengan mengkasrahnya.
Perlu diketahui bahwa cara baca yang tidak sesuai dengan mushaf yang tersebar disemua kalangan tidak pantas untuk dipraktekkan pada orang-orang awam karena tiga sebab:
 Pertama: Al-Quran yang sangat diagungkan dan dihormati oleh hati orang-orang awam ini, jika mereka mendengar macam-macam jenis bacaan, maka bisa jadi al-Quran akan turun kedudukannya di hadapan mereka, kerena mereka orang-orang awam yang tidak bisa membedakan.
 Kedua: Pembacanya akan dituduh tidak tahu (bacaan yang benar), karena ia membaca dengan jenis bacaan yang asing bagi orang awam, sehingga nantinya ia akan jadi bahan perbincangan mereka.
 Ketiga: Jika ada orang awam yang berbaik sangka dan ia tahu sedikit tentang bacaan itu, lalu ia mengikutinya,bisa jadi dia akan keliru, kemudian ia membaca tidak seperti bacaan yang ada di mushafnya, tidak juga dengan bacaan yang ia dengar dari pembaca tadi, maka ini adalah mafsadat.

Oleh karena itu, Ali pernah berkata:
حَدِّثُوْا النَّاسَ بِماَ يَعْرِفُوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ
“Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan pengetahuan mereka, sudikah kalian jika Allah dan Rasul-Nya didustakan” (1)
Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu juga pernah berkata:
إِنَّكَ لَا تُحَدِّثُ قَوْمًا حَدِيْثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُوْلُهُمْ إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ
“Sungguh kamu tidak berbicara dengan suatu kaum, dengan pembicaraan yang tidak dijangkau oleh akal mereka melainkan akan menjadi fitnah pada sebagian mereka” (2)
Suatu saat, Umar Bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu mendengarkan bacaan al-Quran Hisyam Bin Hakim dengan bacaan yang belumpernah ia dengar, Umarpun mengadukannya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah Hisyam: اِقْرَأ ”bacalah” maka Hisyam membacanya, lalu beliau bersabda: هكَذَا أُنْزِلَتْ “Dengan bacaan inilah al-Quran diturunkan” Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar: اِقْرَأ “Bacalah” Setelah Umar membacanya maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: هكَذَا أُنْزِلَتْ “Dengan bacaan inilah al-Quran diturunkan”(3)

Karena Al-Quran turun dengan tujuh macam bacaan. Dahulu orang-orang arab membaca dengan ketujuh macam bacaan tersebut sampai akhirnya Utsman radhiyallaahu ‘anhu dengan satu jenis bacaan ketika banyak orang yang berselisih pada jenis-jenis bacaan tersebut. Beliau khawatir perselisihan semakin tajam maka beliau menyatukannya dalam satu bentuk bacaan yaitu bacaannya orang Quraisy. Karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diturunkan quran kepadanya, telah diutus dari kalangan Quraisy, dan bacaan selainnya terlupakan. Jika saja Umar radhiyallaahu ‘anhu telah melakukan hal itu kepada seorang sahabat, maka bagaimana dengan orang awam yang mendengar bacaanmu tidak seperti bacaan yang ada di mushaf yang dikenal oleh mereka. Alhamdulillah para ulama sepakat bahwa tidak wajib bagi seseorang untuk membaca dengan semua bacaan, jika saja ia mencukupkan dengan satu bacaan saja tanpa membaca dengan cara yang lainnya, itu tidak mengapa. Maka jauhilah fitnah dan pemicu-pemicunya.

Faedah:
Di antara faedah kedua ayat di atas:
1. Keterangan rinci setelah disebutkan secara global (maksud dari Jalan), sebagaimana firman Allah ta’ala اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ “Tunjukkilah kami jalan yang lurus”, ini adalah konteks global dari firman-Nya: صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ “Yakni jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat ats mereka” dan ini rinciannya. Karena dengan menyebutkan global sebelum penyebutan secara rinci mengandung faedah tersendiri, sungguh jiwa manusia jika ia mendapatkan berita yang belum jelas ia akan penasaran dengan rincian dan penjelasannya, kemudia jika datang penjelasan rincinya ia akan hadir dalam kondisi siap memahami yang global itu, kemudian faedah yang lainnya di sini adalah bahwa di dalamnya ada keterangan bahwa orang-orang yang Allah beri nikmat mereka berada di atas jalan yang lurus.
2. Nikmat berupa hidayah orang-orang yang mendapat nikmat (menempuh jalan yang lurus) disandarkan kapada Allah Ta’ala semata. Karena itu adalah keutaman murni dari Allah.
3. Pembagian jenis manusia menjadi tiga: pertama orang yang Allah beri nikmat, kedua orang yang dimurkai Allah, ketiga orang-orang yang tersesat. Penjelasan tentang ketiganya telah disebutkan sebelumnya.
Sebab-sebab keluar dari jalan yang lurus; bisa kerena bodoh atau karena penentangan, dan orang-oran yang sebab keluarnya adalah penentangan mereka adalah orang yang dimurkai, yang dimotori oleh yahudi. Dan yang lain adalah yang sebab keluarnya mereka karena kebodohan, orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran, yang dipelopori oleh nasrani, ini jika ditinjau sebelum diutusnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Adapun setelah diutusnya Nabi kemudiam mereka menyelisihinya maka mereka sama saja dengan yahudi, mereka semua dimurkai Allah ‘azza Wa Jalla.
4. Tingginya bahasa Al-Quran. Berita tentang al-Maghdhub (orang-orang yang dimurkai) dengan mengunakan bentuk isim maf’ul yang menunjukkan bahwa kemurkaan itu berasaldari Allah dan wali-wali mereka.
5. Dikedepankanya yang terparah kemudian yang lebih ringan, Allah mengedepankan penyebutan orang-orang yang dimurkai sebelum orang-orang yang tersesat, karena pelanggaran terhadap kebenaran yang dilakukan orang-orang yang dimurkai lebih parah daripada yang tersesat. Itu dikarenakan pelanggaran dengan mengetahui kebenaran akan sulit untuk kembali berbeda dengan yang melanggar kerena ketidaktahuan.

Yang terpenting adalah bahwa surat ini adalah surat yang agung. Tidak mungkin bagiku juga bagi yang lainnya untuk menguasai seluruh kandungannya. Namun tafsiran ini hanyalah setetes air di atas luasnya samudera, dan siapa saja yang ingin mengetahui lebih luas tentang tafsiran surat ini maka hendaknya ia menelaah kitab Madaarijussaalikiin, karya Ibnul-Qayim rahimahullaah.
(1) Dikeluarkan (127)
(2) Dikeluarkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab shahihnya (hlm: 11)
(3) Dikeluarkan oleh Bukhari (2419) dan Muslim (818)

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih berdasarkan surat An Nisaa': 69, jalan merekalah yang kita minta. Merekalah ahlul hidayah wal istiqamah (orang-orang yang memperoleh hidayah dan dapat beristiqamah), ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak (benar), mereka mengamalkannya (belajar dan beramal).
Adapun orang-orang yang dimurkai (baik oleh Allah maupun oleh kaum mukminin) adalah orang-orang yahudi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak, mereka tidak mau mengamalkan sehingga mereka dimurkai (belajar dan tidak beramal).

Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah tidak mengenal yang hak sehingga mereka tersesat (beramal tanpa belajar). Di dalam ayat ini terdapat obat penyakit juhud (membangkang), jahl (kebodohan) dan dhalaal (tersesat). Dianjurkan setelah membaca ayat ini di dalam shalat mengucapkan "aamiiiiiin" yang artinya "Ya Allah, kabulkanlah", ia tidaklah termasuk ayat dari surat Al Fatihah berdasarkan kesepakatan para ulama, oleh karena itu mereka tidak menuliskannya di dalam mushaf-mushaf.

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepadanya, berupa keimanan, hidayah, dan rida-Mu. Mereka itu, seperti dijelaskan dalam surah an-nisa''/4: 69, adalah: 1) para nabi yang telah dipilih Allah untuk memperoleh bimbingan sekaligus ditugasi untuk menuntun manusia menuju kebenaran ilahi; 2) shiddiqin, yaitu orang-orang yang selalu benar dan jujur, tidak ternodai oleh kebatilan, tidak pula mengambil sikap yang bertentangan dengan kebenaran; 3) syuhada', yaitu mereka yang bersaksi atas kebenaran dan kebajikan, melalui ucapan dan tindakan mereka, walau harus mengorbankan nyawa sekalipun, atau mereka yang disaksikan kebenaran dan kebajikannya oleh Allah, para malaikat, dan lingkungan mereka; dan 4) salihin, yaitu orang-orang saleh yang tangguh dalam kebajikan dan selalu berusaha mewujudkannya. Jalan yang kami mohon itu bukan jalan mereka yang dimurkai, yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengikuti dan mengamalkannya, bahkan menentangnya, seperti sebagian kelompok yahudi dan yang mengikuti jalan mereka, dan bukan pula jalan mereka yang sesat dari jalan kebenaran dan kebaikan, seperti sebagian kelompok nasrani dan yang sejalan dengan mereka, sebab mereka enggan beriman dan mengikuti petunjuk-Mu. Alif laam miim. Beberapa surah dalam Al-Qur'an dibuka dengan huruf abjad seperti alif laam miim, alif laam raa', dan sebagainya. Makna huruf-huruf itu hanya Allah yang tahu. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama surah dan ada pula yang berpendapat bahwa gunanya untuk menarik perhatian, atau untuk menunjukkan mukjizat Al-Qur'an, karena Al-Qur'an disusun dari rangkaian huruf-huruf abjad yang digunakan dalam bahasa bangsa arab sendiri. Meskipun demikian, mereka tidak pernah mampu untuk membuat rangkaian huruf-huruf itu menjadi seperti Al-Qur'an.

Lainnya: Al-Baqarah Ayat 1 Arab-Latin, Al-Baqarah Ayat 2 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Al-Baqarah Ayat 3, Terjemahan Tafsir Al-Baqarah Ayat 4, Isi Kandungan Al-Baqarah Ayat 5, Makna Al-Baqarah Ayat 6

Terkait: « | »

Kategori: 001. Al-Fatihah

Trending: Surat Yasin, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mulk, Surat Al-Kahfi, Ayat Kursi