Surat Al-Baqarah Ayat 19

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمْ فِىٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ ۚ وَٱللَّهُ مُحِيطٌۢ بِٱلْكَٰفِرِينَ

Arab-Latin: Au kaṣayyibim minas-samā`i fīhi ẓulumātuw wa ra'duw wa barq, yaj'alụna aṣābi'ahum fī āżānihim minaṣ-ṣawā'iqi ḥażaral-maụt, wallāhu muḥīṭum bil-kāfirīn

Artinya: Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

« Al-Baqarah 18Al-Baqarah 20 »

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Kandungan Mendalam Berkaitan Dengan Surat Al-Baqarah Ayat 19

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Baqarah Ayat 19 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada sekumpulan kandungan mendalam dari ayat ini. Ada sekumpulan penjelasan dari kalangan ulama tafsir terkait kandungan surat Al-Baqarah ayat 19, sebagiannya seperti tertera:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Atau seperti kondisi sekelompok orang-orang munafik lainnya yang suatu ketika telah tampak jelas bagi mereka kebenaran dan pada saat yang lain Mereka meragukannya. Menyerupai sekelompok manusia yang tengah berjalan di tanah tandus lalu hujan deras turun menyirami mereka yang diiringi dengan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk diatas mereka  serta sambaran guruh dan kilatan cahaya terang dari petir dan suara suara guntur yang menggelegar yang menyebabkan mereka meletakkan jari-jari mereka ke lubang telinga mereka akibat saking mencekamnya suasana karena mereka takut mati. Dan Allah ta'ala meliputi orang-orang kafir dan mereka tidak akan lolos dari nya dan tidak bisa melakukan sesuatu pun yang menghindari siksaannya.


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

19. Allah juga membuat perumpamaan lain bagi mereka untuk menekankan makna dan menyingkap faktor-faktor lain. Orang-orang munafik yang berada dalam dua keadaan; keadaan ketika jiwa mereka terpanggil oleh kebaikan saat mendengar petunjuk dari al-Qur'an, dan keadaan ketika jiw Mereka terapanggil oleh keburukan dengan mengolok-olok kaum muslimin. Allah memperumpamakan mereka seperti hujan yang didalamnya tercampur antara butiran air, cahaya, dan campuran yang membuat air menjadi keruh. Perumpamaan ini sesuai dengan perumpamaan-perumpamaan yang sering dibuat oleh orang-orang Arab yang ahli dalam balaghah. (lihat: at-tahrir dan at-tanwir 1/310).

Makna dari perumpamaan ini yaitu sifat mereka seperti suatu kaum yang berjalan pada malam hari yang gelap gulita diiringi hujan lebat dari awan yang gelap gulita pula dan disertai kilat dan petir, maka mereka menutup telinga mereka dengan jari jemari mereka karena ketakutan. Setiap kali kilat menyambar, mereka dapat melihat jalan sehingga mereka dapat berjalan; namun jika kilat telah hilang, maka mereka kembali kebingungan. Demikian pula keadaan orang-orang munafik, jika mereka mengucapkan kalimat tauhid maka mereka mendapat cahaya sehingga mereka dapat berjalan; namun ketika mereka ragu maka mereka kembali kebingungan dalam kegelapan. Mereka takut terhadap orang-orang beriman jika urusan mereka tersingkap, namun Allah mengetahui segalanya tentang mereka, dan Dia akan membalas apa yang telah mereka perbuat.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

19. Adapun maksud perumpamaan dengan air ialah mereka seperti air hujan lebat dari awan yang gelap berlapis-lapis, guruh dan kilat. Hujan lebat itu turun kepada suatu kaum lalu mereka mengalami ketakutan yang luar biasa. Lalu mereka menutupi telinga dengan ujung-ujung jari karena kerasnya suara petir yang menyambar dan takut mati. Dan Allah Maha Mengetahui dan Menguasai orang-orang kafir. Mereka tidak mungkin dapat menghindar dari-Nya.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

19. اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ (Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit)
Makna (الصيب) adalah hujan, Allah menjadikannya sebagai perumpamaan dalam al-Qur’an bahwa ia bagi orang yang beriman akan menjadi kesegaran dari dahaga dan kesuburan tanah mereka, sedangkan bagi orang munafik ia akan menjadi ketakutan.

فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌۚ (disertai gelap gulita, guruh dan kilat)
Yakni peringatan-peringatan yang ada dalam al-Qur’an

يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِۗ (mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati).
Yakni agar bisa terhindar dari bahaya padahal hal itu (menyumbat telinga) tidak dapat menjauhkan mereka dari bahaya. Begitu juga keadaan orang-orang munafik, tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali menyumbat telinga mereka agar tidak dapat mendengar ayat-ayat al-Qur’an.

وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ (Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir).
Makna dari (الإحاطة) adalah mengepung dari semua sisi agar orang yang dikepung tidak mampu keluar dari arah manapun.


📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

Dalam firman Allah ta'ala : { ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ } kata ( ظُلُمَاتٌ ) dalam bentuk jamak, sedangkan ( وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ ) bentuk tunggal ! hal ini dikarenakan keduanya bisa muncul dari satu sumber yaitu : ( السحاب ) awan, sedangkan kegelapan bisa terjadi dalam beberapa keadaan yaitu : malam dan awan yang tebal dan hujan.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Dan perumpamaan orang-orang munafik itu ketika meniru orang lain adalah seperti orang yang berada di tengah hujan lebat yang diselingi petir yang sangat keras dan kilat yang (menyala) sangat cepat. Mereka takut dengan petir-petir itu, yang memiliki suara sangat keras dan merusak yang di dalamnya terdapat api yang membara dan mereka takut mati karena tidak dapat berlindung darinya. Dan Allah mengunci orang-orang kafir dalam gengamanNya sehingga mereka tidak mampu menghindar dari takdir dan siksaNya. Asbabun Nuzul ayat-ayat ini sebagaimana yang dikatakan Ath-Thabari dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan sahabat lainnya bahwa banyak orang masuk Islam setelah peristiwa hijrah, kemudian mereka melakukan kemunafikan. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang berada dalam kegelapan dan menyalakan api, kemudian api itu padam; dan seperti orang yang menerjang hujan lebat yang diiringi petir dan kilat, lalu dia berusaha menghindarinya karena takut, kemudian meninggalkannya dan kembali kepada kekafirannya, sehingga dia menjadi orang yang tidak mengetahui halal-haram dan baik-buruk. Itulah perumpamaan orang munafik. Dia berada dalam gelapnya kemusyrikan, kemudian dia masuk Islam lalu kembali tersesat lagi. Perumpamaan pertama untuk menunjukkan begitu cepatnya kepura-puraan mereka terbongkar dan perumpamaan kedua untuk menunjukkan kebingungan dan kegelisahan mereka


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Atau seperti orang yang ditimpa hujan lebat} seperti hujan yang lebat {dari langit yang disertai dengan berbagai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jari mereka (untuk menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir


📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

19. Kemudian Allah ta’ala berfirman, “Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit, ” yakni yang disiram hujan, yaitu hujan yang mengalir yang turun dengan derasnya, ”disertai gelap gulita, ” yakni kegelapan malam, kegelapan awan, dan kegelapan hujan yang ada padanya, “dan guruh, ” yaitu suara yang terdengar dari awan dan juga ada padanya “kilat, ” yaitu cahaya yang menyala dan terlihat dari awan.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ini merupakan perumpamaan lain yang dibuat oleh Allah SWT untuk orang-orang munafik. Mereka adalah kaum yang terkadang melihat kebenaran dan terkadang meragukannya. Lalu hati mereka selalu bergejolak dalam keragu-raguan, kekafiran, dan kebimbangan seperti (Atau seperti hujan lebat).
"Ash-Shaibu" artinya adalah hujan, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, beberapa sahabat, Abu Al-‘Aliyah, Mujahid, Sa'id bin Jubair, ‘Atha, Hasan Al-Bashri, Qatadah, ‘Athiyyah Al-‘Aufi, ‘Atha’ Al-Khurasani, As-Suddi, dan Ar-Rabi' bin Anas.
Ad-Dhahhak berkata, bahwa (Ash-Shaibu) maknanya adalah awan. Makna yang lebih populer adalah hujan yang turun dari langit, yang terjadi dalam keadaan gelap; Hal itu merujuk pada keraguan, kekafiran, dan kemunafikan.
(Ar-Ra’du) adalah sesuatu yang membuat hati gelisah karena ketakutan; karena ketakutan dan kengerian yang sangat parah itu berpengaruh bagi orang-orang munafik, dan kengerian; sebagaimana Allah SWT berfirman (Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka) [Surah Al-Munafiqun: 4], dan juga berfirman: (Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu) (56) Jikalau mereka memperoleh tempat perlindunganmu atau gua-gua atau lobang-lobang (dalam tanah) niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya. (57) [At-Taubah].
(Al-Barqu) yaitu cahaya keimanan yang menyilaukan di hati-hati orang-orang munafik pada beberapa waktu; karena itu Allah berfirman: (mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir) maknanya yaitu tidak berguna sedikitpun kewaspadaan mereka, karena Allah meliputi mereka dengan kekuasaanNya, dan mereka berada di bawah kehendak dan keinginanNya; sebagaimana Allah SWT berfirman (Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang (17) (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? (18) Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan (19) padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka (20)) [Al-Buruj].
Kemudian dikatakan (Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka) karena kekuatannya yang sangat dahsyat, dan kelemahan penglihatan, serta hilangnya keyakinan untuk beriman.
Dari Ibnu Abbas, berkata bahwa (Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka) maksudnya yaitu hampir saja ayat-ayat Al-Quran menyingkap aib orang-orang munafik.
Dari Ibnu Abbas berkata bahwa (Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka) itu karena kekuatan besar dari cahaya kebenaran itu (Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti), maknanya yaitu setiap kali sedikit keimanan tampak bagi mereka, mereka bergembira karenanya dan mengikutinya, dan terkadang keraguan datang kepada mereka, dan menjadikan hati mereka gelap, dan mereka berhenti dalam keadaan bimbang.
Dari Ibnu Abbas, berkata,”makna (Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu) yaitu, setiap kali mereka merasakan dampak dari kemuliaan Islam, mereka merasa tenang, dan jika Islam menghadapi kesulitan, mereka kembali kepada kekafiran, seperti firman Allah SWT: (Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat) [Surah Al-Hajj: 11].
Dari Ibnu Abbas berkata, bahwa makna (Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti) yaitu mereka mengetahui dan membicarakan tentang kebenaran, lalu dalam perkataannya mereka akan berpegang teguh pada hal itu, namun ketika mereka tergoda dengan kekafiran (mereka bimbang), yaitu kebingungan.
Hal ini juga dikatakan oleh Abu Al-‘Aliyah, Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Ar-Rabi' bin Anas, dan As-Suddi dengan dengan sanadnya dari para sahabat; dan ini adalah pendapat yang paling benar dan jelas. Hanya Allah yang lebih Mengetahui.
Begitulah keadaan mereka pada hari kiamat, ketika manusia diberi cahaya sesuai keimanannya, yaitu sebagian dari mereka ada yang diberi cahaya yang akan menerangi jalannya dengan jarak yang sangat jauh atau bahkan lebih dari itu, ada pula yang cahayanya sesekali padam dan menyala, dan ada yang berjalan di atas shirat dengan sesekali berhenti, serta ada yang cahayanya padam sepenuhnya, dan mereka itu murni orang-orang munafik yang disebutkan oleh Allah SWT (Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)" [Surah Al-Hadid: 13]).
Allah SWT berfirman tentang hak orang-orang beriman: ((yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai) [Al-Hadid: 12]. Allah SWT juga berfirman: (pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". [Surah At-Tahrim: 8].
Dari Abdullah bin Mas'ud berkata makna (sedang cahaya mereka memancar di hadapan) [Surah At-Tahrim: 8] maknanya yaitu sesuai dengan amal perbuatan, mereka akan melewati shirat, di antara mereka ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang cahayanya seperti pohon kurma, dan yang paling redup cahayanya di antara mereka, adalah orang yang cahayanga ada di ibu jarinya yang sesekali menyala dan padam.
Ad-Dhahhak bin Muzahim berkata, Setiap orang yang memperlihatkan keimanannya di dunia, pada hari kiamat akan diberi cahaya. Lalu, ketika dia mencapai shirat, cahaya orang-orang munafik padam. Ketika orang-orang mukmin melihat itu, mereka menjadi khawatir dan berkata: (Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu) [Surah At-Tahrim: 8]
Ketika hal ini telah ditetapkan, orang-orang terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu orang-orang mukmin yang murni dan mereka itu adalah orang-orang yang digambarkan di empat ayat pertama surah Al-Baqarah; orang-orang kafir yang murni dan mereka itu adalah orang-orang yang dijelaskan di dua ayat setelahnya; orang-orang munafik dan mereka itu terdiri dari dua kelompok: orang-orang yang murni munafik, yaitu orang-orang yang diumpamakan sebagai orang yang menyalakan api, dan orang-orang munafik yang ragu-ragu; terkadang tampak pada diri mereka kilauan iman dan terkadang memudar; mereka lah orang yang diumpamakan seperti air (hujan), dan mereka lebih lemah kondisinyaa daripada orang-orang yang disebutkan sebelumnya.
Kedudukan ini menyerupai beberapa aspek yang disebutkan dalam surah An-Nur berupa perumpamaan orang beriman. Sesuatu yang ditempakan oleh Allah di dalam hatinya berupa petunjuk dan cahaya (diumpamakan) dengan lampu dalam kaca yang berkilau seperti bintang yang bercahaya seperti mutiara. Itu adalah hati orang mukmin yang bersinar karena keiimanannya dan pengaplikasiannya atas syariat yang murni tanpa noda atau campuran hal lainnya, seperti yang akan dijelaskan di bagian selanjutknya, jika Allah menghendaki.
Kemudian, dijelaskan perumpamaan hamba-hamba kafir yang mengira bahwa mereka menguasai segala seuatu, padahal sebenarnya mereka tidak mempunyai apa-apa. Mereka itu orang-orang yang memiliki kebodohan berlipat-lipat, seperti dalam firman Allah SWT (Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun) (Surah An-Nur: 39).
Kemudian, dijelaskan perumpamaan orang-orang kafir yang bodoh dan sederhana. Mereka itu orang-orang yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firmanNya (Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun (40) (Surah An-Nur).
Jadi orang-orang kafir di sini dibagi menjadi menjadi dua kelompok, yaitu penyeru, dan pengikut, seperti yang disebutkan di awal surah Al-Hajj: (Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat (3)) (Surah Al-Hajj), dan firman Allah setelahnya (Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya (8)) (Surah Al-Hajj).
Sungguh Allah telah membagi orang-orang di awal dan akhir surah Al-Waqi'ah. Di dalam surah Al-Insan, Allah membagi mereka menjadi dua kelompok: yaitu orang-orang terdahulu dan yang didekatkan, dan orang-orang golongan kanan, yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan.
Jadi kesimpulan dari seluruh ayat ini bahwa orang-orang mukmin terbagi menjadi dua kelompok, yaitu orang-orang yang didekatkan dan orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang kafir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu para penyeru dan pengikut. Serta orang-orang munafik juga terbagi menjadi dua kelompok, yaitu orang munafik murni, dan orang munafik yang memiliki salah satu ciri-ciri kemunafikan, sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih dari Abdullah bin Amr, dari Nabi SAW: " Ada tiga tanda, jika seseorang memiliki tiga tanda ini, maka ia disebut munafik murni. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: orang yang jika berbicara, dia berdusta, jika membuat janji, tidak dipenuhi, dan jika diberi amanat, dia khianat "
Bukti bahwa seseorang dapat memiliki sebagian keimanan dan sebagian kemunafikan dapat berdasarkan hadis atau keyakinan, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat, seperti yang diyakini oleh sebagian salaf dan beberapa ulama, seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan akan dijelaskan kemudian, jika Allah menghendaki.
Dari Abu Sa'id, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Hati itu ada empat macam: hati yang jernih di dalamnya ada cahaya bagaikan pelita yang menyala, hati yang tertutup disalut kantungnya, hati yang terbalik, dan hati yang berlapis-lapis. Adapun hati yang jernih, itu adalah hati orang beriman dengan cahaya imannya. Adapun hati yang tertutup, itu adalah hati orang kafir. Adapun hati yang terbalik, itu adalah hati orang munafik tulus, ia mengenali kebenaran kemudian menolaknya. Adapun hati yang berlapis-lapis, itu adalah hati yang berisi iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman dalam hati itu seperti biji lobak, diberi air yang baik, dan perumpamaan kemunafikan dalam hati itu seperti luka yang membusuk, berisi nanah dan darah, maka yang mana dari dua bahan ini yang lebih mendominasi, maka dialah yang lebih dominan."
Demikianlah sanad yang baik dan kuat. Dan firman Allah, "Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Allah membawa pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. An-Nur), menurut riwayat Ikrimah atau As-Suddi
Jadi, ringkasannya dari keseluruhan ayat-ayat yang agung ini adalah bahwa orang beriman terbagi menjadi dua kelompok yang mendapat keberuntungan dan mendekatkan diri kepada Allah, yaitu orang-orang yang shalih. Dan orang-orang kafir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pemberi seruan dan pengikutnya. Dan juga orang-orang munafik terbagi menjadi dua kelompok, yaitu munafik tulus, dan munafik dengan sifat-sifat nifaq. Seperti yang disebutkan dalam dua kitab sahih dari Abdullah bin Amr, dari Nabi Muhammad ﷺ, 'Ada tiga tanda, jika ada dalam diri seseorang, dia adalah munafik tulus, jika ada dalam dirinya salah satunya, dia memiliki sifat-sifat nifaq, sehingga dia meninggalkannya ketika berbicara dia berdusta, ketika berjanji dia ingkar, dan ketika dipercayai dia berkhianat.'
Mereka menggunakan hadis ini sebagai dalil yang menyatakan bahwa seseorang terkadang memiliki ciri-ciri keimanan dan ciri-ciri kemunafikan, baik dalam perbuatan maupun keyakinan, sebagaimana yang telah ditunjukkan dalam ayat itu, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian kelompok ulama’ terdahulu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan akan dijelaskan pada bagian selanjutnya, jika Allah menghendaki.
Dari Abu Sa'id, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hati itu ada empat macam; hati yang bersih, hati itu seperti lentera yang bercahaya, hati yang tertutup, hati itu terikat dengan tutupnya, hati yang sakit, dan hati yang terbalik. Adapun hati yang bersih adalah hatinya orang beriman, itu seperti lentera yang bercahaya, sedangkan hati yang tertutup adalah hatinya orang kafir, hati yang sakit adalah hati orang munafik, hati itu mengetahui yang baik namun mengingkarinya, dan hati yang terbalik adalah hati yang di dalamnya ada iman dan kemunafikan, contoh keimanan di situ adalah seperti tanah yang dapat memberikan air yang bersih, sedangkan kemunafikan adalah seperti bisul, di dalamnya hanya nanah dan darah, maka di antara keduanya yang paling kuat akan menguasai yang lainnya.'
Hadits ini memiliki sanad yang baik, dan merupakan hadits hasan
Dari ‘Ikriman, atau Sa’in bin Jubair, dari Ibnu Abbas, berkata bahwa makna firman Allah, (Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu( yaitu, ketika mereka meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya.
(Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu), Ibnu Abbas berkata, maknanya yaitu bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu yang Dia kehendaki pada hamba-hambaNya, baik berupa siksaan atau ampunan.
Ibnu Jarir berkata, “Allah SWT hanya menggambarkan DzatNya dengan kuasa atas segala sesuatu di sini, karena Dia memperingatkan orang-orang munafik dengan azab dan kekuasaanNya, dan memberitahu mereka bahwa Dia meliputi mereka dan Maha Kuasa untuk melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Makna dari "Qadiir" itu adalah (Qaadir) "Maha Kuasa", sama seperti makna (‘Aalim) “Maha Mengetahui”.
Ibnu Jarir Ath-Thabari dan para mufasir yang mengikutinya berpendapat bahwa kedua contoh ini adalah dua perumpamaan untuk satu golongan dari orang-orang munafik. Kata sambung"Aw" dalam firman Allah (Aw Kashayyibin minas samaa’i) mempunyai makna "wawu" (dan) seperti (dalam) firman Allah (dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.) (Surah Al-Insan: 24), atau bisa mengandung makna memilih, yaitu: Buatlah perumpamaan bagi mereka dengan ini, dan jika kamu berkehendak (bisa) dengan ini.
Al-Qurtubi berkata: kata “Aw” menunjukkan makna persamaan, seperti contoh Duduklah bersama Al-Hasan atau Ibnu Sirin. Menurut pendapat Az-Zamakhshari, keduanya adalah sama-sama boleh dipilih untuk duduk bersamanya. Maksudnya itu seperti ungkapannya: "Sama saja, aku berikan contoh ini atau itu, karena hal itu sesuai dengan kondisi mereka.
Saya berkata, “Hal ini dapat menggambarkan jenis orang-orang munafik. Mereka terdiri dari beberapa jenis dan memiliki banyak penggambaran sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam Surah At-Taubah; yaitu pada beberapa ayat yang didahului dengan minhum yang menyebutkan keadaan dan penggambaran mereka, serta perbuatan dan ucapan yang mereka yakini. Maka menjadikan kedua perumpamaan ini untuk dua jenis orang-orang munafik itu lebih sesuai dengan kodisi dan penggambaran mereka. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui. sebagaimana diberikan dua perumpamaan dalam Surah An-Nur untuk dua jenis orang kafir, yaitu penyeru dan pengikut, dalam firman Allah SWT: (Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana....) sampai firmanNya (Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam....) )Surah An-Nur 39-40(, firman yang pertama itu untuk para penyeru yang berada dalam kebodohan yang berlipat-lipat, sedangkan firman kedua itu untuk para pengikut yang memiliki tingkat kebodohan yang sederhana. Dan hanya Allah yang lebih Mengetahui kebenaran.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat Al-Baqarah ayat 19: Allah kemudian menyerupakan keadaan dari kaum yang lain yang termasuk orang-orang munafik dengan keadaan segerombolan orang yang jalan di padang pasir ; kemudian ditimpakan kepada mereka hujan yang deras dengan gelapnya malam , gelap pula awan , gelap pula hujan dengan petir yang menakutkan dan kilat yang menyilaukan pandangan , serta petir-petir yang menghanguskan sehingga karena sebab ketakutan, mereka meletakkan jari-jari tangannya dalam telinga telinga mereka karena sebab takut binasa. Inilah permisalan orang-orang yang munafik karena sesungguhnya dalam hati mereka terdapat kegelapan , kegelapan akan kekufuran , kegelapan akan keraguan , kegelapan akan kemunafikan ; maka ketika mereka mendengar Al-quran mereka lari dari ajarannya , mereka menutup telinga-telinga mereka dari mendengar Al-Quran karena sebab kekafiran dan pengingkaran, mereka lupa bahwasanya Allah Yang Maha meliputi mereka dan maha kuasa atas mereka dan sesungguhnya tiada jalan bagi mereka .


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Kegelapan malam dan kegelapan awan. Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. Mereka menyumbat telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Qur’an itu. Maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir.


📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Baqarah Ayat 19

Atau keadaan mereka yang penuh kebimbangan, kesulitan, dan ketidaktahuan akan manfaat dan bahaya seperti keadaan orang yang ditimpa hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan karena tebal dan pekatnya awan, petir yang menggelegar dan kilat yang menyambar cepat. Mereka menyumbat telinga dengan ujung jari-jarinya, untuk menghindari suara petir itu karena takut mati. Mereka mengira dengan berbuat demikian akan terhindar dari kematian. Mereka itu bila diturunkan Al-Qur'an yang berisi penjelasan tentang kegelapan akibat kekufuran dan siksa yang akan diterima, penjelasan tentang keimanan dan cahayanya yang kemilau, dan penjelasan tentang macam-macam siksaan yang menakutkan, mereka berpaling dan berusaha menghindar darinya dengan harapan terbebas dari siksa. Allah meliputi dan mengetahui orang-orang yang kafir dengan ilmu dan kekuasaan-Nya. Karena amat cepat dan terangnya, hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari, mereka berjalan beberapa langkah di bawah sinar itu, dan apabila kilat itu menghilang dan gelap kembali menerpa mereka, mereka berhenti di tempat dengan penuh kebimbangan. Orang-orang munafik itu ketika melihat bukti-bukti dan tanda-tanda kekuasaan Allah terkagum-kagum dengan itu semua sehingga mereka berkeinginan mengikuti kebenaran tersebut. Akan tetapi, tidak beberapa lama kemudian mereka kembali kepada kekufuran dan kemunafikan. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya dia hilangkan pendengaran mereka dengan suara halilintar yang memekakkan telinga, dan dia hilangkan penglihatan mereka dengan sambaran kilat yang sangat cepat dan terang, tetapi Allah menangguhkan itu semua sampai tiba saatnya nanti. Sungguh, Allah yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan mahakuasa atas segala sesuatu, dengan atau tanpa sebab apa pun.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Demikian variasi penafsiran dari para ahli tafsir berkaitan makna dan arti surat Al-Baqarah ayat 19 (arab-latin dan artinya), semoga bermanfaat untuk kita bersama. Sokonglah syi'ar kami dengan mencantumkan link ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Bacaan Banyak Dilihat

Tersedia banyak halaman yang banyak dilihat, seperti surat/ayat: Asy-Syams, Al-Baqarah 83, An-Nur 2, Al-Baqarah 286, Al-Isra 23, At-Takatsur. Ada juga Az-Zalzalah, Al-Hujurat 12, Yunus 40-41, Ali Imran, Al-Mujadalah 11, Al-Ma’idah 2.

  1. Asy-Syams
  2. Al-Baqarah 83
  3. An-Nur 2
  4. Al-Baqarah 286
  5. Al-Isra 23
  6. At-Takatsur
  7. Az-Zalzalah
  8. Al-Hujurat 12
  9. Yunus 40-41
  10. Ali Imran
  11. Al-Mujadalah 11
  12. Al-Ma’idah 2

Pencarian: surah al mukminun ayat 1 11, surat sulaiman latin, surat al kaffi, tulisan latin alhamdulillahirobbilalamin, surat yasin ayat 36 dan artinya

Surat dan Ayat Rezeki

GRATIS Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah". Caranya, copy-paste text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga (3) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
👉 tafsirweb.com/start
 
✅ Bagikan informasi ini untuk mendapat pahala jariyah

Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol di bawah: