Surat Al-‘Alaq Ayat 1

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Tafsir Al-Mukhtashar

Menjelaskan sempurnanya manusia dengan ilmu dan wahyu yang membawa pada ketergantungan hamba pada Rabbnya dan merendahkan diri di hadapannya, dan menjadi tidak sempurna jiak menyelisihi-Nya.
Tafsir
1. Bacalah Wahai Rasul apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, mulailah dengan membaca nama Rabbmu yang telah menciptakan semua makhluk.

Tafsir Al-Muyassar

Bacalah (wahai nabi), apa yang diturunkan kepadamu, dengan mengawalinya dengan menyebut nama tuhanmu yang esa dalam penciptaan

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Dua surah yang memiliki kesesuaian satu sama lainnya, karena pada surah sebelumnya disebutkan bagaimana penentuan kenabian para Nabi yang tiga, dan kenabian Nabi dan Rasul yang terakhir, maka dalam surah ini disebutkan bagaimana Nabi Muhammad diutus, dan dengan apa beliau diutus oleh Allah ﷻ , Allah ﷻ berkata kepada Nabi-Nya dengan perantara Jibril ketika ia datang kepada Rasulullah yang sedang menyendiri bertahannus didalam gua hiro', Jibril datang kepadanya dengan penyamaran sebagai sebagai seorang laki-laki yang beliau tidak mengetahuinya, JIbril berkata kapadanya : Bacalah, Rasul menjawab : aku tidak dapat membaca, Rasulullah tidak dapat membaca dan tidak pula mampu menulis, Allah ﷻ berfirman : { مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ } ( Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu ) [ Asy-Syura : 52 ] . Aku tidak mampu membaca, dan aku belum pernah belajar membaca.

Kemudian Jibril memeluk Rasulullah yang kedua kalinya, dan berkata : bacalah, Nabi menjawab kembali : aku tidak dapat membaca.

Kemudian Jibril kembali memeluk Rasulullah untuk yang ketiga kalinya, dan berkata : { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ , خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ , اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ , الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ , عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ } , seketika Nabi pun menghafalkan 5 ayat yang dibacakan oleh Jibril, kemudian beliau pulang kerumah dengan rasa takut dan gemetaran terkejut dengan pemandangan yang belum beliau saksikan sebelumnya, dan berkata kepada istrinya Khadijah: "selimutilah aku, tutuplah aku" , beliau gemetaran, kemudian khadijah bertanya : "apa yang terjadi denganmu wahai Muhammad" , kemudian Nabi Muhammad menjawab : "aku takut akan diriku" , beliau kemudian menceritakan apa yang telah terjadi dengn dirinya di gua hiro', khadijah pun menenangkan beliau dan berkata : "Jangan takut, tapi bergembiralah!. Allah tidak akan merendahkanmu. Sesungguhnya engkau menyambung hubungan keluarga (silaturrahim). Memberikan jamuan kepada tamu serta menolong orang-orang yang tertimpa musibah. Allah tidak akan mengizinkan setan mengganggumu, mereka tidak akan membuatmu tenggelam dalam khayalan. Tidak bisa diingkari lagi, Allah SWT telah memilih engkau untuk memberi petunjuk kepada kaummu." Khadijah menunjukkan kepada suaminya sifat mulia yang menandakan bahwa Allah memuliakannya.

Selanjutnya Khadijah pergi membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Arab pemeluk agama Nasrani di zaman Jahiliyah. Ia pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia pun menulis Injil dengan bahasa Ibrani. Ia seorang tua yang buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini. Waraqah bertanya kepada Nabi, “Wahai anak saudaraku, apakah yang kaulihat?”

Lalu beliau menceritakan apa yang beliau lihat dan alami di Gua Hira’. Kemudian Waraqah berkata lagi kepada beliau, “Itulah Namus (Jibril) yang pernah diutus Allah kepada Musa, yakni Jibril yang mereka sebut namus.

{ اقْرَأْ } Bacalah, membaca adalah kewajiban bagi setiap insan, karena seseorang tidak mampu mempelajari sesuatu sedangkan dia tidak membaca, dan hendaknya bagi setiap orang hal pertama yang dia baca adalah Al-Qur'an, hadits Nabi, kitab Fiqh Ibadah, kitab tentang tauhid, dan kitab fiqh Mu'amalat, membaca kitab tentang agama islam agar memperkuat aqidahnya, sesorang akan mengetahui agamanya dengan banyak membaca.

{ بِاسْمِ رَبِّكَ } Bacalah dengan mengawali bacaan itu dengan nama Tuhanmu.

{ الَّذِي خَلَقَ } Ini salah satu sifat Allah ﷻ , yaitu sang pencipta, dan hanya Dialah satu-satunya pencipta alam semesta, tiada pencipta selainnya, walau sekecil semut hitam pun selain Allah tidak akan mampu menciptakannya, Allah ﷻ berfirman : { إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ } ( Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya ) [ AL-Hajj : 73 ] walau sekalipun seluruh ilmuan dari penjuru dunia berkumpul untuk menciptakan satu ekor lalat yang kecil itu, mereka tidak akan mampu selamanya, karena penciptaan Alam semesta dan seluruh isinya hanya Allah ﷻ yang berhak dan mampu melakukannya, dan hanya Dia ﷻ yang berhak segala peribadatan, Allah ﷻ berfirman : { أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ } ( Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. ) [ An-Nahl : 17 ] , dan Allah juga berfirman diayat lain : { وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ } ( Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan ) [ Al-Furqon : 3 ] .

Dalil-dalil diatas menunjukkan keesaan Allah ﷻ , yang tidak berhak selainnya sembahan apapun.

Tafsir Hidayatul Insan

Surah ini adalah surah yang pertama kali turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; turun pada awal-awal kenabian ketika Beliau tidak mengetahui apa itu kitab dan apa itu iman, lalu Jibril ‘alaihis salam datang kepada Beliau membawa wahyu dan menyuruh Beliau membaca, ia berkata, “Bacalah”. Dengan terperanjat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Saya tidak dapat membaca.” Beliau lalu direngkuh oleh Malaikat Jibril hingga merasakan kepayahan, lalu dilepaskan sambil disuruh membacanya sekali lagi, “Bacalah.” Tetapi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam masih tetap menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Begitulah keadaan berulang sampai tiga kali, dan pada ketiga kalinya Jibril berkata kepadanya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan--Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah--Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah--Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam--Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Terj. Al ‘Alaq: 1-5).

Yakni yang menciptakan semua makhluk. Pada ayat selanjutnya disebutkan secara khusus manusia di antara sekian ciptaan-Nya.

Tafsir Kemenag

Wahai nabi, bacalah apa yang Allah wahyukan kepadamu dengan terlebih dahulu menyebut nama tuhanmu yang menciptakan segala sesuatu dengan keesaan-Nya. 2. Dia telah menciptakan manusia yang sempurna bentuk dan pengetahuannya dari segumpal darah, sebagai kelanjutan dari fase nutfah. Setelah itu berturut-turut akan terbentuk sekepal daging, tulang, pelapisan tulang dengan daging, dan peniupan roh.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018