Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al-Baqarah Ayat 284

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Arab-Latin: Lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa in tubdụ mā fī anfusikum au tukhfụhu yuḥāsibkum bihillāh, fa yagfiru limay yasyā`u wa yu'ażżibu may yasyā`, wallāhu 'alā kulli syai`ing qadīr

Terjemah Arti: Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Dan kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dari segi kepemilikan,mengatur dan meliputi semuanya, tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagiNYA. Perkara yang kalian tampakan dari hal-hal yang ada di dalam hati kalian ataupun yang kalian rahasiakan, sesungguhnya Allah mengetahuinya, dan dia akan membuat perhitungan kepada kalian dengan perkara tersebut, Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendakiNYA. dan menghukum siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
Dan sungguh Allah telah memuliakan kaum muslimin setelah itu, di mana Dia mengampuni bisikan bisikan jiwa dan pikiran pikiran yang terlintas dalam hati,selama tidak diikuti dengan ucapan dan perbuatan,sebagaimana tertuang dalam hadits dari rasulullah sholallohu alaihi wasallam.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

284. Hanya milik Allah saja lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dia lah yang menciptakan, menguasai dan mengaturnya. Apabila kalian memperlihatkan atau menyembunyikan apa yang ada di dalam hati kalian, niscaya Allah mengetahuinya dan akan memberi kalian balasan yang setimpal dengan itu. Kemudian Allah akan mengampuni orang yang dikehendaki-Nya berkat kemurahan dan kasih sayang-Nya. Dan Dia akan menyiksa orang yang Dia kehendaki berdasarkan keadilan dan kebijaksaan-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

284. يُحَاسِبْكُم بِهِ اللهُ ۖ ( niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu)
Yakni perhitungan dengan hamba-hamba-Nya atas apa yang ia tampakkan, dan apa yang ia sembunyikan yang termasuk hal-hal yang akan dihisab atasnya, seperti menyembunyikan kesaksian, keraguan terhadap agama, kemunafikan, pendustaan, dan lain sebagainya.
Adapun jika seorang hamba berbicara dengan hatinya untuk melakukan kemaksiatan namun dia tidak mengerjakannya maka dia dimaafkan atas itu, dengan dalil hadist yang berbunyi: “sesungguhnya Allah mengampuni umat ini apa yang dibicarakan oleh hatinya selama ia tidak mengeluarkannya atau mengerjakannya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1 ). Ketika diturunkan : { وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ } ayat ini terasa berat bagi sahabat Nabi, mereka berkata : telah diturunkan kepada mu wahai Rasulullah ayat ini dan kami tidak mampu untuk menjalankannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apakah kalian ingin mengatakan seperti dua kelompok ahlul kitab sebelum kalian: kami mendengar, tapi kami memaksiatinya? Ucapkanlah, kami mendengar dan kami menaatinya. Kami berharap ampunan-Mu wahai Rab kami. Dan kepadamulah kami dikembalikan, Para sahabat pun mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami menaatinya. Kami berharap ampunan-Mu wahai Rab kami. Dan kepadamulah kami dikembalikan, Ketika mereka membacanya, lisan-lisan mereka tunduk dengan ayat itu. Lalu Allah menurunkan sesudah ayat selanjutnya, ‘Rasul telah beriman kepada Aquran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman.

2 ). { وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ } Ayat ini mengabarkan bahwa Allah membuat perhitungan terhadap apa yang ada dalam diri-diri hamba, dan bukan menghukum atas segala sesuatu yang tersimpan dalam diri-diri itu.

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim

284. Milik Allah itu segala sesuatu di langit dan bumi baik berupa kerajaan, makhluk dan juga aturannya. Jika kalian menampakkan atau menyembunyikan kejahatan atau keburukan kepada manusia, maka Allah akan menghisab dan membalas kalian atas hal tersebut. Dia memberikan ampunan dan siksaan kepada hamba-hambaNya yang dikehendaki. Dan Allah itu Maha kuasa atas segala sesuatu. Hisab itu tidak hanya dilakukan karena suatu niat, dan niat itu tidak berhubungan dengan anggapan, perkataan atau tindakan, melainkan berhubungan dengan beberapa perkara yang tempatnya mutlak berada dalam hati seperti meragukan Allah atau agama, munafik, berdusta, riya’, atau menyembunyikan kesaksian. Inilah hal-hal yang akan dihisab dari manusia

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

284. Allah mengabarkan tentang luasnya kekuasaaNya terhadap penduduk langit maupun bumi, ilmuNya yang meliputi segala apa yang ditampakan oleh hamba-hambnya maupun yang di sembunyikan dalam hati mereka, dan bahwa dia akan memberikan ajaran kepada mereka, ”Maka Allah mengampuni siapa yang dia kehendakinya,” yaitu orang yang kembali kepada Rabbnya dan bertaubat kepadanya, "Maka sesungguhnya Allah maha pemberi ampunan bagi orang-orang yang bertaubat" (QS. Al-isra:25).
“Dan menyiksa sipa yang dikehendakinya,” yaitu orang yang terus melakukan kemaksiatan, baik batiniyah maupun lahiriyah. Ayat ini tidaklah bertentangan dengan hadis-hadis yang di riwayatkan tentang hal pengampunan hal yang masih terbesit dalam hati seorang hamba yang belum melakukan dan belum membicarakanya, maka itu adalah bisikan-bisikan hati yang terbesit dalam jiwa yang tidak merupakan sipat seorang hamba dan tekad yang bulat dan sipat yang mantap dalam jiwa; sipat yang baik maupun yang buruk. oleh karena itu Allah berfirman, ”Apa yang ada dalam hatimu,” artinya, yang tetap padanya yang terpatri, baik tekad maupun sikap mantap, dan Allah mengabarkan bahwasanya dia, ”Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Maka di antara kesempurnaan kuasanya adalah mengadili para mahluk dan memberikan kepada mereka apa yang berhak didapatkan dari pahala maupu siksaan.

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di

Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada padanya dan yang ada diantara keduanya. Dia mengetahui semua yang ada di dalamnya, tiada yang samar bagi-Nya semua hal baik yang Nampak maupun tersembunyi bahkan yang tersimpan dalam hati, sekalipun sangat kecil dan sangat samar.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan pula bahwa Dia kelak akan melakukan hisab (perhitungan) terhadap hamba-hamba-Nya atas apa yang telah mereka lakukan dan mereka sembunyikan dalam hati mereka. Seperti diungkapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya yang lain :

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imron :29)

Dan firman-Nya :

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (QS. Thoha :7)

Ayat-ayat mengenai ini sangat banyak, akan tetapi dalam ayat ini Allah menyebutkan lebih dai yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu Allah akan melakukan perhitungan terhadap semua amalan hambanya. Oleh karena itu, saat ayat ini diturunkan, para sahabat merasa takut terhadap hisab Allah yang akan dilakukan atas diri mereka menyangkut semua amal perbuatan mereka baik yang besar maupun yang kecil. Perasaan ini muncul dalam hati mereka karena iman dan keyakinan mereka sangat kuat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdurahman Ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman (yakni Al-Ala) dari ayahnya, dari Abu hurairoh yang menceritakan bahwa ketika diturunkan kepada Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam firman-Nya:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqoroh :284)

Maka hal ini terasa berat oleh sahabat-sahabat Rosul Shallallahu 'alaihi wa Sallam . Lalu mereka datang menghadap Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan berkata “wahai Rosululloh, kami telah dibebani dengan amal-amal yang sudah memberatkan kami, yaitu sholat, saum, jihad dan zakat. Sedangkan telah diturunkan kepadamu ayat ini dan kami tidak kuat menyanggahnya.” Maka Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

أتريدون أن تقولوا كما قال أهل الكتابين من قبلكم : سمعنا وعصينا ؟ بل قولوا : سمعنا وأطعنا ، غفرانك ربنا وإليك المصير

Apakah kalian hendak mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan oleh kaum ahli kitab sebelum kalian, yaitu: “kami mendengar dan kami durhaka”?. Tidak, tapi katakanlah oleh kalian “kami mendengar dan kami taat, kami mengharapkan ampunan-Mu, wahai Tuhan kami, dan hanya kepada-Mu lah (kami) dikembalikan.

Setelah para sahabat merasa tenang dengan ayat ini dan tidak mengajukan protes lagi, maka Allah menurunkan ayat berikut sesudahnya, yaitu firman-Nya :

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (QS. Al-Baqoroh :285)

Ketika kami melakukannya, Allah Subhanahu wa Ta'ala me-nasakh-nya dengan firman-Nya:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".  (QS. Al-Baqoroh :286)

Dalam berbagai riwayat disebutkan, bahwa ketika ayat ini diturunkan, maka hati para sahabat menjadi gelisah, mereka sangat menyadari bahwa setiap apapun yang telah mereka kerjakan akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana tertulis dalam ayat yang diturunkan ini. Hisab yang akan dilalui oleh seluruh manusia adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin bisa terhindar darinya, pada saat itu semua orang akan melihat amalan apa saja yang telah mereka kerjakan di alam dunia, baik amal sholih ataupun dosa, baik yang Nampak ataupun yang tersembunyi di dalam hati dan mereka akan mendapatkan balasan dari semua amalannya tersebut. Akan tetapi untuk memberi keringanan kepada hati kaum muslimin, Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam menyampaikan haditsnya yang berkenaan dengan masalah amalan, yaitu sebagaimana telah diriwayatkan oleh para ahli hadits dalam kitab-kitab mereka yang enam melalui jalur Qotadah, dari Zurarah Ibnu Abu Aufa, dari Abu Hurairoh yang menceritakan bahwa Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda :

إن الله تجاوز لي عن أمتي ما حدثت به أنفسها ، ما لم تكلم أو تعمل

Sesungguhnya Allah telah memaafkan aku buat umatku semua hal yang dibisikan oleh hati mereka selama tidak dikatakan atau dikerjakan.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam bukhori dan Imam Muslim melalu Sufyan Ibnu Uyaynah, dari Abu Zanad dari Al-‘Araj dari Abu Hurairoh disebutkan bahwa Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

قال الله : إذا هم عبدي بسيئة فلا تكتبوها عليه ، فإن عملها فاكتبوها سيئة ، وإذا هم بحسنة فلم يعملها فاكتبوها حسنة ، فإن عملها فاكتبوها عشرا

Allah berfirman : “apabila hamba-Ku berniat untuk melakukan suatu amal yang buruk, maka janganlah kalian (para malaikat) mencatat hai itu terhadapnya; dan jika dia mengerjakannya, maka catatkanlah hal itu sebagai satu keburukan. Apabila dia berniat hendak mengerjakan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka catatlah hal itu sebagai satu kebaikan; dan jika dia mengerjakannya, maka catatkanlah hal itu pahala sepuluh kebaikan.”

Tafsir Tematis / Team TafsirWeb

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Ketika turun ayat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Lillahi maa fis samaawaati wa maa fil ardh…dst. sampai "wallahu 'alaa kulli syai'in qadiir." Maka yang demikian membuat para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keberatan, lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sambil berlutut dan berkata, "Wahai Rasulullah, kami dibebani dengan amal berat yang kami tidak sanggup melakukannya. (Sudah ada beban) shalat, puasa, jihad dan sedekah. Sesungguhnya telah diturunkan kepadamu ayat ini (yakni ayat di atas) dan kami tidak sanggup memikulnya," maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apakah kamu ingin mengatakan seperti yang dikatakan dua Ahli Kitab sebelum kamu, yaitu, "Kami mendengar, namun kami mendurhakai? Bahkan katakanlah, "Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu wahai Tuhan kami, kami minta dan kepada-Mulah tempat kembali." Mereka pun berkata, "Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu yang Tuhan kami, kami minta dan kepada-Mulah tempat kembali." Ketika mereka telah mengucapkannya, maka lisan mereka pun tunduk mengikuti. Setelah itu, Allah menurunkan ayat, "Aamanar rasuulu bimaa unzila ilaihi mir rabbihii wal mu'minuun…dst." sampai "Wa ilaikal mashiir". Saat mereka telah melakukannya, Allah menasakhnya dan menurunkan ayat (yang artinya), "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan." Allah berfirman, "Ya.". selanjutnya, "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau membebani Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami" Allah berfirman, "Ya." Selanjutnya, "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya." Allah berfirman, "Ya." Selanjutnya, "Ma'afkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami. Maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. " Allah berfirman, "Ya."

Alah memilikinya, mengaturnya dan meliputinya, tidaklah samar sesuatu pun bagi-Nya.

Saat turun ayat di atas, kaum muslimin mengeluhkan was-was yang kadang menimpa hati mereka, dan mereka keberatan dengan dihisabnya apa yang ada dalam hati mereka, maka turunlah ayat selanjutnya, yaitu ayat 286. Dengan turunnya ayat tersebut, berarti Allah Subhaanahu wa Ta'aala memaafkan apa saja yang terlintas dalam hati dan tidak sampai diucapkan atau dikerjakan. Demikian juga, Allah memaafkan perbuatan dosa yang terjadi karena lupa dan tidak disengaja.

Termasuk di antaranya mampu menghisab dan memberikan balasan.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Allah mengetahui itu semua dan akan meminta pertanggungjawaban manusia, sebab kekuasaan-Nya meliputi seluruh jagat raya. Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan dialah yang mengatur dan mengelola semua itu. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya tentang perbuatan itu bagimu, dan akan memberikan balasan yang setimpal. Dia mengampuni siapa yang dia kehendaki sesuai dengan sikap dan kehendak hamba-Nya, yaitu yang menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulangi dan memohon ampunan, atau dia akan mengampuni walau tanpa permohonan ampunan dan mengazab siapa yang dia kehendaki sesuai sikap hamba-Nya yang selalu melakukan dosa dan maksiat. Pilihan berada di tangan manusia. Siapa yang mau diampuni, maka lakukanlah apa yang ditetapkan Allah guna meraih ampun-an-Nya, dan siapa yang hendak berada dalam siksa, maka silakan langgar ketentuan-Nya. Allah mahakuasa atas segala sesuatu seorang muslim harus menaati firman Allah sebagaimana dicontohkan oleh rasulullah. Sikap beliau dan para pengikutnya yang beriman menyangkut kitab suci Al-Qur'an dan kitab-kitab terdahulu serta para nabi dan rasul adalah bahwa rasul, yakni nabi Muhammad, beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya, yakni Al-Qur'an, dari tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman meski dengan kualitas keimanan yang berbeda dengan nabi. Semua, yakni nabi Muhammad dan orang mukmin, beriman kepada Allah bahwa dia wujud dan maha esa, mahakuasa, tiada sekutu bagi-Nya, dan mahasuci dari segala kekurangan. Mereka juga percaya kepada malaikat-malaikat-Nya sebagai hamba-hamba Allah yang taat melaksanakan segala apa yang diperintahkan kepada mereka dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Demikian juga dengan kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasul, seperti zabur, taurat, injil, dan Al-Qur'an, dan juga percaya kepada rasul-rasul-Nya sebagai hamba-hamba Allah yang diutus membimbing manusia ke jalan yang lurus dan diridai-Nya. Mereka berkata, kami tidak membeda-bedakan seorang pun dengan yang lain dari rasul-rasulnya dalam hal kepercayaan terhadap mereka sebagai utusan Allah. Dan mereka berkata, kami dengar apa yang engkau perintahkan, baik yang melalui wahyu dalam Al-Qur'an maupun melalui ucapan nabimu, dan kami taat melaksanakan perintah-perintah-Mu dan menjauhi larangan-larangan-Mu. Dengan rendah hati mereka juga berucap, ampunilah kami, ya tuhan kam.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Al-Baqarah Ayat 285 Arab-Latin, Surat Al-Baqarah Ayat 286 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Ali ‘Imran Ayat 1, Terjemahan Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 2, Isi Kandungan Surat Ali ‘Imran Ayat 3, Makna Surat Ali ‘Imran Ayat 4

Category: Surat Al-Baqarah

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!