Quran Surat al-Baqarah Ayat 255-257

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Arab-Latin: allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm

Terjemah Arti: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Tafsir Quran Surat al-Baqarah Ayat 255-257

Allah adalah Dzat yang tidak ada yang berhak dihadapkan padanya uluhiyah dan ubudiyah kecuali Dia, Yang Maha hidup yang mempunyai seluruh hakikat kehidupan yang sempurna, sesuai dengan keagunganNya, lagi Maha mengatur segala sesuatu, tidak mengantuk dan tidak tidur. Semua yang ada di langit dan seluruh yang ada di bumi adalah milikNya. Tidak ada seorangpun yang berani maju memberikan syafaat di sisiNya kecuali dengan izinNya. pengetahuanNya meliputi segala makhluk-makhluk yang ada, yang ada di masa lalu, sekarang dan di masa yang akan datang. Dia mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi di hadapan makhluk-makhluk berupa hal-hal yang terjadi di masa yang akan datang, dan apa yang telah terjadi di belakang mereka berupa perkara-perkara masa lalu. Dan tidak seorang pun dari makhluk yang mengetahui sedikit saja dari ilmuNya selain apa yang Allah ajarkan dan tampakkan kepadanya. Dan kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan kursi ini adalah tempat dua kaki Allah jalla jalaluh. Dan tidak ada yang mengetahui bentuknya selain Allah. Memelihara keduanya tidaklah memberatkan Allah. Dan Dia Maha tinggi dengan Dzat dan sifat-sifatNya di atas semua makhlukNYa, yang menghimpun seluruh sifat keagungan dan kebesaranNya. Ayat ini merupakan ayat paling agung di dalam Al-Quran dan dinamakan dengan sebutan Ayat Kursi. (Tafsir al-Muyassar)

Allah lah Żat yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia semata dan tidak ada duanya. Yang Mahahidup dengan kehidupan yang sempurna, tidak ada kematian dan tidak ada kekurangan. Yang Maha Mengurus, Yang Mengurus segala sesuatu sendirian, tidak membutuhkan bantuan dari satupun makhluk-Nya. Karena Dia lah semua makhluk ini bisa berdiri, sehingga mereka semua senantiasa membutuhkan-Nya dalam kondisi apapun juga. Dia tidak pernah dilanda rasa kantuk dan tidak pernah tidur, karena kesempurnaan sifat kehidupan dan kepengurusan-Nya. Dia lah satu-satunya pemilik apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan syafaat kepada orang lain di sisi-Nya kecuali setelah mendapatkan izin dan restu-Nya. Dia mengetahui semua urusan makhluk-Nya yang telah terjadi di masa lalu dan yang belum terjadi di masa depan. Mereka tidak mengetahui apa yang diketahui oleh Allah kecuali sebagian kecil yang Dia kehendaki untuk Dia tunjukkan kepada mereka. Kursi-Nya -yaitu tempat kedua kaki Rabb- meliputi seluruh langit dan bumi yang luas dan besar ini. Dia tidak pernah merasa keberatan atau kesulitan untuk menjaga keduanya. Dan Dia Mahatinggi di dalam Żat dan sifat-sifat-Nya, lagi Mahaagung di dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah satu-satunya Dzat berhak disembah, yang berhak menjadi Tuhan, Dzat yang Maha Hidup kekal selama-lamanya, Dzat yang berkuasa mengatur, menjaga dan memelihara makhlukNya. Dia tidak ditimpa dan dikuasai rasa kantuk dan tidur. Miliknya itu seluruh langit dan bumi sebagai kerajaan, ciptaan dan hamba. Tidak ada yang bisa memberikan syafaat kecuali dengan saizinNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu di dunia dan akhirat. ilmuNya atau kuasaNya mencakup segala sesuatu. Tindakan menjaga langit dan bumi itu tidak memberatkan dan menggangguNya. Dialah Dzat yang Maha Tinggi maqamnya, yang Maha Kuasa lagi Maha Menaklukkan. Dialah Dzat yang memiliki keluhuran, kebesaran, dan keagungan yang tiada tandingannya. Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Ubay bin Ka’b bahwa Nabi SAW bersabda tentang ayat kursi terkait maknanya: “Sesungguhnya ayat kursi itu seagung-agung ayat dari kitab Allah SWT” (Tafsir al-Wajiz)

اللهُ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ (Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia) Yakni tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia. الْحَىُّ (Yang Hidup kekal ) Yakni lawan kata dari kematian. Dan Allah memiliki kehidupan yang sempurna tidak sirna atau berubah. Dan kehidupan-Nya tidak terdapat kekurangan. الْقَيُّومُ ۚ ( lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)) Yakni yang senantiasa mengurus dan menjaga makhluk-Nya. سِنَةٌ ( tidak mengantuk) Yakni apa yang terjadi sebelum tidur seperti Lelah dan menutupnya kedua mata. مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ (Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya ) Yakni tidak ada dari makhluk-Nya yang mampu memberi manfaat untuk makhluk lainnya dengan syafaat maupun yang lainnya selama Allah belum mengizinkan pemberi syafaat. يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ (Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka ) Yakni yang dihadapan mereka berupa kehidupan akhirat. وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ (dan di belakang mereka ) Yakni kehidupan di dunia. وَسِعَ كُرْسِيُّهُ (Kursi Allah meliputi (langit dan bumi)) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: al-Kursi adalah tempat kedua kaki. Dan diriwayatkan dari Imam Bukhari dari Said bin Jubair, al-Kursi adalah ilmu-Nya; pendapat ini dikuatkan oleh Imam at-Thabari. Dan pendapat lain mengatakan, al-Kursi adalah ‘Arsy itu sendiri. وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ (Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya ) Yakni penjagaan langit dan bumi tidak memberatkan Allah Ta’ala, dan tidak mendapatkan sedikitpun kesusahan dari hal itu. الْعَلِىُّ ( dan Allah Maha Tinggi) Yakni Maha Tinggi dari makhluk-makhluk-Nya dengan ketinggian-Nya dan kekuasaan-Nya atas mereka. Ayat ini disebut juga dengan ayat kursi, dan diriwayatkan hadist-hadist yang shahih bahwa ayat ini adalah ayat yang paling utama dalam al-Qur’an. Dari Ubay bin Ka’ab bahwa Rasulullah bertanya kepadanya: menurutmu ayat mana di kitab Allah merupakan ayat yang paling utama? Lalu ia menjawab: ayat kursi. Rasulullah bersabda: “Semoga dipermudahkan ilmu bagimu, Abu Munzir”. Dan dari Asma’ binti Yazid bin as-Sakan ia berkata: aku mendengar Rasulullah bersabda dalam dua ayat ini (الله لا إله إلا هو الحي القيوم) dan (آلم الله لا إله إلا هو الحي القيوم) bahwa didalamnya terdapat nama Allah yang paling agung. (Zubdatut Tafsir)

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

lā ikrāha fid-dīn, qat tabayyanar-rusydu minal-gayy, fa may yakfur biṭ-ṭāgụti wa yu`mim billāhi fa qadistamsaka bil-'urwatil-wuṡqā lanfiṣāma lahā, wallāhu samī'un 'alīm

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Disebabkan kesempurnaan agama ini dan jelasnya ayat-ayatnya,maka tidak diperlukan tindakan pemaksaan untuk memeluknya, bagi orang-orang yang diambil jizyah darinya. Bukti-bukti petunjuk itu amat nyata, yang dapat menampakkan mana yang haq dan mana yang batil, petunjuk dan kesesatan. Maka barang siapa yang kafir pada semua sesembahan selain Allah dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah teguh dan istiqamah di atas jalan terbaik dan teguh dalam beragama dengan memegangi pegangan yang paling kuat yang tidak akan pernah putus. Dan Allah Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hambaNya, lagi Maha Menegetahui perbuatan-perbuatan mereka dan niat-niat mereka dan akan memberikan balasan kepada mereka sesuai amal perbuatan itu. (Tafsir al-Muyassar)

Tidak ada seorangpun yang berhak memaksa orang lain untuk memeluk agama Islam, karena Islam adalah agama yang benar dan terang, sehingga tidak perlu ada paksaan kepada siapapun untuk memeluknya. Sudah terlihat jelas kebenaran dan kesesatan. Siapa yang ingkar kepada segala sesuatu yang disembah selain Allah dan berlepas diri darinya, kemudian beriman kepada Allah semata, maka dia benar-benar telah berpegang kepada agama dengan sekuat-kuatnya untuk menggapai keselamatan di hari kiamat. Dan Allah Maha mendengar ucapan hamba-hamba-Nya, lagi Maha Mengetahui perbuatan mereka, dan akan memberi mereka balasan yang setimpal. (Tafsir al-Mukhtashar)

Tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Sungguh telah jelas jalan petunjuk (yaitu jalan keimanan dan hidayah), jalan kesesatan dan kebodohan yang muncul dari keyakinan yang rusak. Maka barangsiapa mengimani keberadaan dan keesaan Allah serta risalah nabi Muhammad SAW, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada jalan keselamatan yang penuh hikmah yaitu Islam, yang mana di dalamnya tidak ada kehancuran, melainkan mengandung keselamatan. Dan agama itu menyerupai ikatan kuat yang tidak akan putus. Dan Allah itu Maha Mendengar orang yang beriman dan yakin, lagi Maha Mengetahui kebenaran dan keikhlasannya. Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini turun untuk seorang dari kaum Anshar yang memaksa kedua anaknya yang Nasrani untuk masuk Islam, lalu keduanya menolak dan ingin tetap beragama Nasrani. Kemudian turunlah ayat ini” (Tafsir al-Wajiz)

لَآ إِكْرَاهَ فِى الدِّينِ ۖ (Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)) Yakni janganlah kalian memaksa seorang pun untuk memeluk Islam apabila ia membayar Jizyah. Dan disebutkan bahwa kaum Anshar barkata: sebenarnya kami jadikan anak-anak kami memeluk agama Yahudi karena kami melihat agama mereka lebih baik daripada agama kami, lalu Allah mendatangkan kepada kami agama Islam, maka sungguh kami akan memaksa mereka untuk memeluk Islam. Dan ketika turun ayat ini, Rasulullah memberikan pilihan untuk anak-anak mereka dan tidak memaksa mereka untuk memeluk Islam. قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَىِّ ۚ ( sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat) (الرشد) yakni keimanan, sedangkan (الغي) yakni kekufuran. Dan maksud ayat ini adalah salahsatu dari kedua hal ini telah dibedakan dengan jelas. بِالطّٰغُوتِ (kepada Thaghut) Dan thagut yakni dukun, syaitan, berhala, dan seluruh pemimpin kesesatan. وَيُؤْمِنۢ بِاللهِ( dan beriman kepada Allah) Yakni setelah jelas baginya jalan keimanan dan jalan kekufuran. فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ( maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat) Arti kata (العروة) adalah ujung tali apabila diikat dalam bentuk lingkaran, yang dipakai sebagai pegangan bagi orang yang turun ke sumur atau naik darinya. Adapun yang dimaksud disini adalah wasilah menuju keselamatan. Dan arti dari (الوثقى) adalah ikatan yang kuat yang tak ada yang lebih kuat darinya. لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ(yang tidak akan putus) Yakni yang tidak terlepas ikatannya, sehingga tidak binasa orang yang berpegang dengannya, namun orang yang berpegang itu akan sampai ke surga. Dan tidak ada yang tak sampai menuju surga kecuali yang tidak berpegang padanya. (Zubdatut Tafsir)

ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

allāhu waliyyullażīna āmanụ yukhrijuhum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr, wallażīna kafarū auliyā`uhumuṭ-ṭāgụtu yukhrijụnahum minan-nụri ilaẓ-ẓulumāt, ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Allah senantiasa melindungi orang-orang mukmin dengan pertolongan, taufik dan penjagaanNya, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan. Sedang orang-orang yang kafir, para penolong dan para pelindung mereka adalah tandingan-tandingan Allah dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah, yang mengeluarkan mereka dari cahaya keimanan menuju kegelapan kegelapan kekafiran. Mereka itu adalah para penghuni neraka yang akan terus berada di sana. Di dalamnya, mereka akan tinggal secara abadi, tidak akan pernah keluar darinya. (Tafsir al-Muyassar)

Allah melindungi orang-orang yang beriman kepada-Nya. Dia membimbing, menolong dan mengeluarkan mereka dari gelapnya kekafiran dan kebodohan menuju terangnya iman dan ilmu. Sedangkan orang-orang kafir, pelindung mereka ialah setan dan kawan-kawan yang menyulap kekafiran agar tampak indah di mata mereka. Kemudian mereka mengeluarkan orang-orang kafir itu dari terangnya iman dan ilmu menuju gelapnya kekafiran dan kebodohan. Mereka itulah penghuni neraka yang akan tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah adalah penolong dan penyelamat orang-orang mukmin. Dia memelihara, memberi taufik dan memenuhi kebutuhan mereka dengan karuniaNya. Dia mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran, kebingungan dan kebodohan menuju cahaya hidayah, keimanan dan ilmu pengetahuan. Orang-orang kafir itu penolongnya adalah para pemimpin yang sesat, penyembah selain Allah dan para setan yang mengeluarkan mereka dari cahaya keimanan yang merupakan fitrah dari Allah menuju gelapnya kekufuran, kemaksiatan dan kebodohan. Orang-orang kafir itu adalah penduduk neraka yang tinggal abadi di sana selama-lamanya. Ath-Thabary meriwayatkan dari Abdah bin Ubay Lubabah tentang firmanNya {Allahu Waliyyu …} berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang beriman kepada Isa, lalu ketika nabi Muhammad SAW datang, mereka beriman kepadanya. Lalu ayat ini turun untuk mereka” (Tafsir al-Wajiz)

اللهُ وَلِىُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ( Allah Pelindung orang-orang yang beriman) Yakni penolong mereka. يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمٰتِ إِلَى النُّورِ ۖ (Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)) Yakni dari syubhat-syubhat menyesatkan, kejahilan, dan penyembahan thaghut kepada ilmu, petunjuk, dan keimanan. وَالَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطّٰغُوتُ(Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thaghut) Dan makna dari (أولياء) adalah para pemimpin kekufuran dan filsafat-filsafatnya yang memerintahkan dan menghiasi untuk mereka kekufuran dan keingkaran kepada tuhan, sehingga mengeluarkan mereka dari cahaya -yang berupa fitrah yang atas itu Allah ciptakan manusia, dan cahaya yang berupa seruan kepada tauhid yang benar yang didatangkan oleh para Nabi mereka, juga cahaya syariat-syariat yang baik- menuju kepada gelapnya kekufuran. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Serial

Trending: Surat Yasin, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mulk, Surat Al-Kahfi, Ayat Kursi